Usulkan SDN Pucang 2 Jadi Cagar Budaya, PDI Perjuangan Sidoarjo Lacak Jejak Pemikiran Bung Karno di Bumi Jenggolo

republikjatim.com
FGD - DPC PDI Perjuangan Kabupaten Sidoarjo menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk "Melacak Jejak Bung Karno di Sidoarjo" di Kafe Limasan, Desa Sidodadi, Kecamatan Candi, Sidoarjo, Minggu (21/06/2026).

Sidoarjo (republikjatim.com) - Diskusi mengenai rekam jejak Sang Proklamator RI, Ir Soekarno seolah tidak pernah habis dikupas. Terbaru, Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kabupaten Sidoarjo menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk "Melacak Jejak Bung Karno di Sidoarjo". Acara yang dipandu Heru sebagai moderator itu, berlangsung gayeng dan hangat di Kafe Limasan, Desa Sidodadi, Kecamatan Candi, Sidoarjo, Minggu (21/06/2026).

​FGD ini dihadiri langsung Ketua DPC PDI Perjuangan Sidoarjo Hari Yulianto, Sekretaris DPC Raymond Tara Wahyudi, serta Ketua Fraksi PDI Perjuangan Tarkit Erdianto. Hadir pula elemen pemangku budaya seperti Ketua Dewan Kesenian Daerah (Dekesda) Sidoarjo, Ribut Wijoto beserta para sejarawan, budayawan serta akademisi lainnya.

Baca juga: KSB DPC PKB Sidoarjo Terbentuk, Nakhoda Baru Diperkenalkan Abah Usman Siap Bekerja Total Jadi Bendahara

Agenda ini, menjadi momentum krusial untuk menggali kembali hubungan historis, ideologis serta emosional antara Bung Karno dengan Sidoarjo yang selama ini belum banyak terliterasi dalam buku sejarah mainstream.

​Ketua DPC PDI Perjuangan Sidoarjo, Hari Yulianto mengatakan agenda ini bukan sekadar nostalgia sejarah saja.  Melainkan, sebagai upaya konkret membumikan ajaran Pancasila dan Trisakti Bung Karno di tengah tantangan zaman modern. Menurut Hari, Sidoarjo memiliki keterikatan personal dan kultural yang kuat dengan perjalanan hidup serta pergerakan sang Sang Fajar.

​"Kita ingin membuka ruang seluas-luasnya bagi para peneliti dan masyarakat untuk melihat bagaimana pemikiran Bung Karno menancap di Sidoarjo. Sidoarjo bukan sekadar kota perlintasan sejarah saja, akan tetapi punya andil dalam dinamika perjuangan kemerdekaan dalam pemikiran Bung Karno," ujar Hari Yulianto seusai acara FGD.

​Pemilihan Kafe Limasan dengan arsitektur tradisional Jawa sengaja dilakukan agar diskusi di ruang publik ini mencerminkan konsep yang merakyat. Bahkan dalam acara ini, dipenuhi anak - anak muda, komunitas budaya dan kader bisa duduk bersama tanpa sekat untuk membedah pemikiran besar bangsa ini.

​Fakta-fakta sejarah menarik dikupas tuntas oleh para narasumber yang hadir. Faisol narasumber asal Jombang yang melakukan pelacakan bersama Raden Rasyid, memaparkan migrasi masa kecil Soekarno (saat itu bernama Koesno). Ketika sang ayah, Raden Soekemi Sosrodihardjo, pindah tugas mengajar ke Sidoarjo dan Mojokerto, Soekarno kecil turut serta.

"​Di Sidoarjo, Raden Soekemi mengajar di Sekolah Ongko Loro (Angka Dua) dan Bung Karno juga mengenyam pendidikan di sekolah itu. Hal ini, berbeda dengan di Ploso Jombang di mana ayahnya mengajar di Ongko Loro tetapi Bung Karno bersekolah di Ongko Siji atau di Mojokerto di mana ayahnya menjabat Kepala Sekolah di Sekolah Ongko Loro Bung Karno juga bersekolah disitu. Berdasarkan data historis, Bung Karno tinggal di Sidoarjo selama kurang lebih dua tahun pada usia 6 hingga 7 tahun, yang jejaknya kini berada di SDN 2 Pucang Sidoarjo," ungkapnya.

​Senada dengan Faisol, Alfun Salam selaku Demisioner Tim Cagar Budaya Sidoarjo menambahkan informasi mengenai ruang bermain Bung Karno kecil. Berdasarkan penelusurannya, Bung Karno masa kecil sering bermain di pekarangan milik Mbah Suparlan.

"SDN Pucang 2 sudah layak direkomendasikan menjadi Objek Cagar Budaya. Sekolahnya ada dan ruang kelasnya belum dipugar sama sekali. Sementara rumah tinggal yang dulu ditempati Bung Karno bersama ayahnya merupakan milik seorang purnawirawan TNI yang kini dikontrakkan kepada warga bernama Pak Gufron diusulkan di periode selanjutnya," ungkapnya.

Baca juga: Jaga Akar Tradisi, Guntur dan Warih Andono Bersama Para Budayawan Kolaborasi Nguri-Uri Budaya Sidoarjo

​Ketua Harian Situs Persada Soekarno Pojok Kediri, RM Kushartono menegaskan bukti kehadiran Bung Karno di Sidoarjo sangat kuat karena sang Proklamator sendiri mengakui riwayat sekolah dasarnya di kota ini. Namun, Kushartono mengajak audiens tidak hanya melihat aspek singgah dan tinggalnya saja. Melainkan menggali nilai yang lahir dari Sidoarjo. Sidoarjo, menurutnya, merupakan "Rahim Pendidikan Politik Soekarno".

​Kushartono menceritakan kisah yang ia dapat langsung dari eyangnya sendiri, RM Sajid. Dahulu, tokoh intelektual radikal Dr Cipto Mangunkusumo pernah berpidato berapi-api di Alun-Alun Sidoarjo di hadapan arek-arek Sidoarjo dan Surabaya. Dalam pidato kritisnya, Dr Cipto melontarkan kalimat sentilan, "Arek-Arek Sidoarjo dan Surabaya Iku Tempe". Mendengar hal itu, RM Sajid, Muso dan Soekarno muda merasa sangat tersinggung.

​Benih ketersinggungan yang mendidik dari Dr Cipto yang diakui Bung Karno sebagai guru politik yang sangat menyentuh itulah yang kemudian membentuk karakter dan dialektika politik Soekarno. 

"Di Kediri lahir rasa, cipta dan karsa, namun di Sidoarjo-lah benih politik itu mewujud menjadi Cipta, sebelum akhirnya matang dalam pergerakan di Surabaya di bawah asuhan HOS Cokroaminoto," urainya.

Bahkan, efek didikan politik Dr Cipto di Sidoarjo ini membekas seumur hidup. Terbukti pada pidato Bung Karno yang monumental. Yakni pada ​28 Oktober Tahun 1960 "Beri saya 1.000 orang tua niscaya akan saya cabut Semeru dari akarnya. Beri saya 10 pemuda niscaya akan saya guncang dunia".

"Tidak hanya itu, kemudian di ​Tahun 1963 pidato ikonik yang menegaskan "Kita Bukan Bangsa Tempe!" saat Indonesia menolak bertekuk lutut dihadapan Amerika dan Bangsa Eropa. Itu berbagai pidato yang berasal dari pidato Dr Cipto," jelasnya.

Baca juga: Selangkah Isi Kursi Top Manajemen, 9 Calon Direksi Perumda Delta Tirta Sidoarjo Siap-Siap Wawancara Akhir

​Ronal Rihoi, dosen Departemen Sejarah Universitas Negeri Malang (UM) asal Watutulis, Prambon turut memberikan perspektif akademisnya dalam diskusi ini guna memperkuat validitas linimasa perjalanan hidup sang Proklamator yang tercatat pernah mengalami fase sakit di Mojokerto, Kediri, Ploso Jombang, Sidoarjo hingga Tulungagung. Kebetulan, momen FGD ini digelar bertepatan dengan Bulan Bung Karno, mengingat tanggal 21 Juni merupakan hari wafatnya sang pemikir besar yang mempersiapkan kematangan kemerdekaan Indonesia.

Sementara rekomendasi nyata hasil FGD ini, sebagai bentuk tindak lanjut konkret agar sejarah ini tidak menguap begitu saja, forum FGD merumuskan poin rekomendasi penting yang akan dikawal bersama. Salah satunya pengusulan SDN Pucang 2 Sidoarjo sebagai Objek (Bangunan) Cagar Budaya. Tim merumuskan usulan resmi ini berdasarkan empat bukti pendukung yang solid, yaitu bangunan asli atau ruang kelas lama yang bernilai historis masih berdiri kokoh, surat pindah tugas Raden Soekemi (ayah Bung Karno) masih terdokumentasi dan terarsip dengan baik, adanya bukti arsip tertulis berupa pernyataan langsung dari Bung Karno pada masa Penjajahan Jepang dan cerita tutur turun-temurun (folklore) masyarakat yang kuat, yang sarat akan nilai pendidikan, kebangsaan serta pesan historis nasionalisme.

Sedangkan untuk penyelamatan Rumah Tinggal setelah fokus pada bangunan sekolah rampung. Langkah selanjutnya yang direkomendasikan forum mengusulkan rumah tinggal masa kecil Bung Karno yang berada di bawah penguasaan warga di Kelurahan Pucanganom, Kecamatan Sidoarjo yang saat ini agar mendapatkan perhatian dan perlindungan serupa dari pemerintah daerah.

​Hari Yulianto berharap luaran dari FGD ini dapat diwujudkan dalam bentuk buku atau dokumentasi digital. Langkah strategis ini dinilai penting untuk menyuplai literasi sejarah lokal bagi Generasi Z dan milenial.

"Termasuk, sekaligus memastikan api semangat nasionalisme Bung Karno tetap menyala abadi di hati masyarakat Bumi Jenggolo," pungkas Hari yang juga anggota DPRD Jatim ini. Ary/Waw

Editor : Redaksi

Peristiwa
Berita Terpopuler
Berita Terbaru