Sidoarjo (republikjatim.com) - Di sebuah sudut Dusun Sidorangu, Desa Watugolong, Kecamatan Krian, Sidoarjo pernah hidup seorang lelaki yang jalan hidupnya adalah antitesis dari kemewahan duniawi. Beliau adalah Mbah KH Sahlan.
Dia adalah sosok yang oleh masyarakat awam pada masanya sempat dijuluki 'orang gila' hanya karena Mbah Sahlan memilih berjalan menepi di pinggir pagar. Padahal, hal itu hanya untuk menghindari pusat perhatian dunia.
Namun, di balik label 'gila' itu, tersembunyi seorang Mursyidul Kamil. Yakni guru sempurna yang mampu mengubah pejabat dunia menjadi ulama akhirat.
Salah satu keramatnya yakni saat ujian melepas tahta yang dikisahkan Abah Thoyyib Sumengko, Kecamatan Wringinanom, Kabupaten Gresik. Salah satu mahakarya bimbingan Mbah Sahlan adalah Abah Thoyyib Sumengko. Bayangkan, seorang pejabat desa terhormat yang bergelimang harta dan kuasa, datang bersimpuh ingin menjadi santri.
Ujian pertamanya, yakni melepaskan semuanya. Mbah Sahlan mengajarkan untuk mengisi cangkir dengan air surgawi, air dunia yang keruh harus dibuang terlebih dahulu. Abah Thoyyib pun mendermakan seluruh hartanya, mengajak istrinya menceburkan diri dalam samudera riyadhah dan mulai berjalan kaki meniti makam kesabaran.
Dari sinilah lahir prinsip hidup:
Sabar, Neriman (menerima), Loman (dermawan), Akas (cekatan), Temen (jujur) dan Ngalah.
Tidak hanya itu saja. Keramat Mbah Sahlan lainnya adalah selalu berpuasa
Daiman dan bibir yang tidak pernah berhenti bershalawat.
Kehidupan Mbah Sahlan perwujudan dari pengendalian diri total. Beliau menjalani Puasa Daiman (puasa sepanjang tahun selama hidupnya). Beliau mengharamkan dirinya untuk 'marung' atau makan di warung. Sikap ini sebuah bentuk penjagaan diri agar tidak sembarang makanan masuk ke perutnya.
Setiap pagi, puluhan rakaat Shalat Dhuha ditegakkan (dilaksanakan). Malamnya, habis dalam sujud Tahajjud. Namun yang paling menakjubkan bibirnya, konon tidak sedetik pun bibir Mbah Sahlan berhenti bergerak melantunkan shalawat. Hal ini, menjadikannya manusia yang hatinya selalu tersambung dengan Baginda Nabi SAW.
Kemudian keramat lainnya adalah
Syiir Tanpo Waton dan Warisan Sunyi
Banyak yang mengenal lantunan Syiir Tanpo Waton sebagai identitas Gus Dur. Namun, sejarah dan kesaksian tokoh seperti Cak Nun menarik benang merah bahwa syair fenomenal itu buah karya spiritual KH Sahlan. Sebuah warisan sastra langit yang mengajak manusia untuk tidak hanya pintar secara intelektual saja, akan tetapi juga tajam secara spiritual.
Beberapa pesan Mbah Sahlan. Diantaranya Langgengno kebiasaan apike leluhurmu (Lestarikan kebiasaan baik pendahulumu).Pesan ini adalah pengingat kepintaran tanpa riyadhah (latihan spiritual) hanya akan melahirkan orang-orang yang minteri (mengakali atau membodohi) orang lain.
Banyak santri yang diarsiteki KH Sahlan menjadi ulama ahli riyadhoh yang disegani. Seperti Abah Thoyyib Sumengko, Wringinanom, Gresik, Mbah 'Ud (KH Ali Masud) Pagerwojo, Kecamatan Buduran, Sidoarjo, Gus Ali Muhammad (Karib Gus Miek) Tropodo, Kecamatan Krian, Sidoarjo sebagai bukti kesuksesan Mbah KH Sahlan mencetak generasi unggul yang gigih riyadhoh dan tirakat.
Sementara selama ini, Mbah Sahlan dikenal mengajarkan kita karomah yang sesungguhnya bukanlah bisa terbang atau berjalan di atas air saja. Melainkan istiqomah dalam kesunyian, tetap bersedekah meski tak punya dan tetap membumi meski derajatnya sudah diangkat menjadi Wali Abdal oleh Allah SWT.
Ajarannya yang melekat diantaranya
Sabar, Neriman, Loman, Akas, Temen dan Ngalah.
Mbah KH Sahlan wafat sekitar tahun 1972 dan dimakamkan di belakang masjid Ponpes Bahrul Ulum Sahlaniyah, Dusun Sidorangu, Desa Watugolong, Kacamatan Krian, Sidoarjo. Hingga kini, makamnya menjadi tempat bernaung bagi para pencari keberkahan yang rindu akan sosok ulama yang benar-benar 'nggak kedonyan'. (Cak One)
Editor : Redaksi