Sidoarjo (republikjatim.com) - Nanik Hariyati warga Dusun Balaipanjang, Desa Tropodo, Kecamatan Krian, Sidoarjo yang sedang hamil tua hanya bisa meratapi sebagian bangunan rumahnya yang nyaris. Rumah itu hingga kini masih ditempatinya bersama keluarganya meski dalam kondisi nyaris ambruk.
Ironisnya, perempuan malang ini hingga kini belum pernah mendapat bantuan program rehab Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) dari Pemkab Sidoarjo. Padahal, selama ini Nanik Hariyati bekerja sebagai buruh cuci rumah tangga dengan sekuat tenaga membantu suaminya yang kerja serabutan untuk menghidupi keluarganya.
Namun, sayangnya karena keterbatasan ekonomi dia tidak bisa berbuat banyak atas kondisi rumahnya yang nyaris ambruk itu. Bahkan sewaktu-waktu bangunan itu bisa roboh dan mengancam keselamatan dirinya dan keluarganya.
"Kami belum pernah mendapat bantuan dari pemerintah. Baik itu dalam program PKH, BPNT maupun BLT. Padahal, kondisi ekonomi keluarga kami benar-benar tidak mampu. Jangankan untuk memperbaiki rumah yang mau ambruk, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari kami saja masih kekurangan," ujar Nanik Hariyati sambil menunggu proses persalinan anak kedua itu, Senin (09/01/2023).
Nanik menceritakan selama ini dirinya pernah mengajukan perbaikan rumahnya yang kondisinya memprihatikan itu agar mendapat bantuan. Dirinya mengajukan ke pihak RT setempat berkali-kali dan pihaknya desa. Akan tetapi, hasilnya selalu kandas alias tidak mendapatkan kesempatan program bantuan pemerintah.
"Saya sudah berulang kali mengajukan bantuan perbaikan kondisi rumah yang nyaris ambruk ini untuk dapat bantuan sosial ke Pemdes melalui RT. Tapi, sampai hari ini belum ada tanggapan dan belum membuahkan hasil sama sekali. Padahal, KK saya asli warga Tropodo," ungkap Nanik.
Karena sebagian atap rumahnya sudah bocor, Nanik mengakui rumahnya itu untuk tempat tinggal dirinya bersama suaminya Helda Pratama bersama seorang putranya, Rendi. Kondisi rumahnya terparah di bagian bangunan kamar tidur.
"Kondisinya parah karena sudah ambruk di bagian kamar tidur depan. Waktu malam hari anak saya (Rendi) tidur di ruang tamu sendirian. Sedangkan saya (Nanik) tidur di rumah suami di Desa Wonoplintahan, Kecamatan Prambon. Ini kami lakukan karena faktor keadaan," tegasnya.
Sementara menanggapi keluhan rumah warganya yang sebagian atap rumahnya nyaris ambruk itu, Kepala Desa (Kades) Tropodo, Haris mengaku dirinya sudah mendapatkan info soal kondisi warganya itu. Menurut Haris pemilik rumah itu masih berusia muda, energik dan bahkan sudah menikah.
"Masalah bantuan sosial untuk warga saya itu sudah diajukan, tetapi memang belum keluar," katanya.
Disinggung soal pengajuan BLT DD diakuinya datanya tidak masuk. Hal itu diduga disebabkan RT maupun Kepala Dusun (Kasun) yang tidak mau blusukan (turun ke bawah) mengecek kondisi warganya hingga keluarga Nanik tidak masuk kriteria sebagai warga miskin di Sidoarjo, Kades tidak mengakuinya.
"Sudah, pihak RT dan Kasun sudah blusukan tapi pekan lalu hasil Musyawarah Desa Khusus (Musdesus) soal BLT DD datanya dia (Nanik) tidak ada," paparnya.
Sementara secara terpisah Camat Krian, Ahmad Fauzi saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp (WA) mengakui baru tahu ada kondisi rumah warga Krian yang memprihatikan itu.
"Siap, informasi ini akan saya koordinasikan dengan pihak desa setempat," tandas Fauzi. Zak/Waw
Editor : Redaksi