Sidoarjo (republikjatim.com) - Sejumlah pemilik Resto dan Kafe yang ada di Sidoarjo mulai memiliki harapan baru. Hal ini setelah penyebaran Covid-19 di Sidoarjo mulai melandai.
Para pemilik Resto dan Kafe itu berharap usahanya dapat berkembang dan bergeliat lagi. Apalagi, sejak adanya pandemi Covid-19 dan adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) beberapa tahap itu, menyebabkan para pemilik usaha rumah makan dan minuman itu justru merugi besar. Bahkan sudah terancam gulung tikar hingga mengurangi jumlah karyawan dan paket volume belanja bahan makanan dan minuman.
Salah satu harapan itu disampaikan pemilik Resto Bossque yang ada di JL Bhayangkari, Kelurahan Juwetkenongo, Kecamatan Porong, Sidoarjo. Resto yang menyediakan makanan dan kuliner dengan spesialisasi ayam geprek, cumi, dan berbagai minuman segar ini mengalami kerugian besar. Hal itu dirasakan sejak adanya pandemi Covid-19.
"Sejak adanya pandemi dan diterapkan PSBB bertahap-tahap itu hasil penjualan dan omzet bulanan kami berkurang drastis. Bahkan sampai penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), resto kami selalu sepi pembeli. Apalagi jam operasi dibatasi dan sering adanya razia," ujar pengelolah Resto Bossque, Marianto kepada republikjatim.com, Kamis (16/12/2021).
Selain itu, Marianto menjelaskan nilai kerugiannya sejak adanya pandemi hampir 2 tahun tidak bisa dihitung lagi. Alasannya, kerugiannya cukup besar. Belum lagi, ditambah harga bahan baku seperti ayam, ikan dan lainnya cenderung selalu mengalami kenaikan.
"Begitu juga dengan bumbu-bumbu seperti bawang putih, bawang merah dan cabe yang harganya ikut naik selama pandemi. Sedangkan kami saat jam operasi dibatasi juga terbebani biaya pembayaran listrik setiap bulan," ungkapnya.
Saat ini, lanjut Marianto setelah penyebaran Covid-19 mulai melandai, pihaknya berusaha selalu optimis agar usahanya berkembang lagi. Yakni dengan melakukan promosi harga agar bisa menggaet pengunjung. Harapannya, usahanya kembali stabil seperti dahulu sebelum adanya pandemi Covid-19.
"Intinya kami berusaha untuk bangkit, agar dapat mencukupi kebutuhan keluarga dan para karyawan Resto kami," tandasnya.
Marianto merinci, sebelum pandemi Covid-19 biasanya belanja bahan baku, untuk mencukupi kebutuhan maupun stok selama 2 minggu mencapai Rp 1 juta. Sedangkan keuntungan penjualan mencapai Rp 500.000 atau bahkan lebih.
"Tapi sejak adanya pandemi kali ini, sulit mendapatkan keuntungan sebesar itu. Selama pandemi Covid-19, modal awal bisa kembali saja, kami sudah bersyukur. Saat ini kami masih menerima kerugian selama pandemi. Tapi kami berusaha kembali bangkit agar usaha ini bisa berkembang lagi. Karena selama pandemi kami sudah mengurangi karyawan," tegasnya.
Sementara pemilik Kafe lainnya, Anthoni Palupi mengakui hal yang sama. Pemilik Kafe GG Sidoarjo ini mengaku selama pandemi bisa kembali modal saja sudah bersyukur. Baginya, usahanya yang sehari dapat Rp 2 juta sebelum pandemi Covid-19, saat pandemi untuk mendapatkan uang Rp 250.000 - Rp 300.000 sangat berat.
"Sekarang penyebaran Covid-19 mulai melandai, kami berharap ada kenaikan pendapatan. Karena selama pembatasan sosial dan jam operasional kami selalu merugi," tandasnya. Yan/Waw
Editor : Redaksi