Sidoarjo (republikjatim.com) - Anggota Fraksi Partai Golkar Kabupaten Sidoarjo, M Dian Felani mengapresiasi langkah Presiden RI Prabowo Subianto yang telah memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada Presiden kedua RI, H M Soeharto. Alasannya, pemberian gelar pahlawan itu lantaran selama ini, almarhum Soeharto telah memberikan inspirasi para pemimpin untuk merancang pembangunan selama lima tahunan. Apalagi pemberian penghargaan itu bersamaan dengan Hari Pahlawan pada 10 Nopember 2025.
"Kami sangat mengapresiasi, langkah Presiden Prabowo yang memberi gelar Pahlawan kepada Presiden Kedua RI, Soeharto. Karena Pak Harto dikenal sebagai Bapak Pembangunan dan Bapak Repelita. Sampai sekarang kinerja Pak Harto membangun Indonesia menjadi inspirasi para pemimpin di tubuh Golkar maupun di tempat lainnya," ujar M Dian Felani kepada republikjatim.com, Selasa (11/11/2025).
Dian Felani yang dikenal sebagai politisi muda Partai Golkar Sidoarjo ini menguraikan Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) adalah program pembangunan jangka panjang yang dilaksanakan pemerintah Orde Baru masa Presiden Soeharto mulai dari tahun 1969 hingga 1999. Pembangunannya, berfokus pada pembangunan pertanian, industri, dan pemerataan ekonomi. Program ini terdiri dari enam tahapan yang dimulai dari Repelita I hingga Repelita VI.
"Program pembangunan jangka panjang ini, bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat Indonesia melalui pembangunan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi. Kini diadopsi dalam pemerintah daerah sebagai Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMDl," ungkap Dian Felani.
Hingga kini, lanjut Dian Felani sosok Soeharto melalui berbagai karyanya masih menjadi inspirasi bagi kader Partai Golkar dan beberapa partai lainnya hingga pada tataran pemerintahan. Begitu pula soal penghargaan maupun anugerah Pahlawan yang diberikan kepada Presiden Keempat RI, KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.
"Pemberian anugerah kepada kedua mantan Presiden RI itu, bukan sekedar bentuk penghormatan terhadap dua tokoh bangsa saja. Akan tetapi, juga cermin kedewasaan dan kenegarawanan Presiden Prabowo Subianto dalam melihat sejarah Indonesia secara utuh. Artinya, Presiden Prabowo menunjukkan sikap kenegarawanan dengan mengakui jasa kedua tokoh besar bangsa ini. Pak Harto meletakkan pondasi pembangunan nasional dan stabilitas ekonomi, sementara Gus Dur menegakkan nilai kemanusiaan dan demokrasi hingga kebebasan Pers saat ini," tegas politisi muda Partai Golkar asal Dapil I wilayah Kecamatan Sidoarjo, Buduran dan Kecamatan Sedati ini.
Bagi Dian Felani pengakuan negara terhadap kepahlawanan Soeharto menjadi bentuk keadilan sejarah atas jasa besar seorang pemimpin yang berhasil menjaga kedaulatan, kestabilan keamanan dan pertumbuhan ekonomi nasional.
"Selama dipimpin Pak Harto, Indonesia mampu berdiri tegak sebagai negara yang kuat secara politik dan mandiri secara ekonomi. Ada semangat kekaryaan dan pembangunan berkelanjutan yang diwariskan Pak Harto yang masih relevan dengan arah perjuangan Partai Golkar saat ini," tandas Dian Felani yang masuk politik dari kalangan pengusaha muda Sidoarjo ini.
Dian Felani berpesan, saat ini Presiden RI Prabowo Subianto menempatkan rekonsiliasi dan persatuan nasional sebagai dasar pembangunan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
"Apa pun saat ini, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pendiri. Presiden Prabowo memberikan keteladan rekonsiliasi sejati lahir dari penghormatan terhadap jasa para tokoh bangsa Indonesia ini," pungkas Dian Felani yang juga anggota Komisi B DPRD Sidoarjo ini.
Sebelumnya, pemerintah menetapkan 10 tokoh sebagai Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 116/TK/2025, yang diumumkan pada 6 November 2025. Di antaranya KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Jenderal Besar TNI H M Soeharto, Marsinah, Mochtar Kusumaatmaja dan Syaikhona Muhammad Kholil. Ary/Waw
Editor : Redaksi