Sidoarjo (republikjatim.com) - Tim gabungan evakuasi pencarian jenazah korban ambruknya bangunan Musala Putra Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny Buduran, Sidoarjo terus mengupayakan maksimal prosesi evakuasi dibantu beberapa alat berat (Crane). Hasilnya, sebanyak delapan jenazah santri berhasil dievakuasi mulai pukul 07.00 WIB hingga pukul 18.30 WIB di hari kelima masa pencarian dan evakuasi para korban itu.
Meksi di lapangan petugas mengalami beberapa kendala cukup berat. Akan tetapi tugas kemanusiaan itu, terus dikerjakan petugas gabungan tanpa henti dan tanpa merasa lelah.
SAR Mission Coordinator (SMC), Laksamana Pertama TNI Yudhi Bramantyo mengatakan proses evakuasi di lapangan berlangsung sangat sulit dan mengalami beberapa kendala. Salah satunya, tim harus lebih dulu menghancurkan dinding beton dan memotong besi tulangan di lokasi kejadian.
"Kalau besi tulangan beton berhasil dihancurkan, selanjutnya baru jenazah para korban bisa dikeluarkan dari reruntuhan bangunan itu," ujar Yudhi Bramantyo, Jumat (03/10/2025) petang.
Yudhi menguraikan para korban itu tiga diantaranya berada di tempat wudlu, seorang di bagian sektor timur, dua orang lainnya di posisi sektor lainnya dan dua orang lainnya diposisi sektor utama bangunan musala.
"Seluruh jenazah dibawa ke RS Bhayangkara Polda Jatim untuk proses identifikasi oleh tim DVI. Hingga hari ini, total korban mencapai 116 orang, terdiri dari 103 selamat dan 13 meninggal dunia. Dari jumlah korban meninggal, empat diantaranya sudah teridentifikasi," papar Yudhi.
Proses pembersihan puing - puing bangunan itu, kini difokuskan di sisi utara bangunan yang dinilai lebih aman untuk diangkat menggunakan alat berat.
"Sedangkan mobil ambulan juga terus disiagakan di lokasi untuk mempercepat penanganan jika ditemukan korban tambahan berhasil dievakuasi dari reruntuhan bangunan," tegasnya.
Atas proses evakuasi kedelapan jenazah itu, Kepala Kantor Basarnas Surabaya, Nanang Sigit menguraikan
proses evakuasi di hari kelima ini, berlangsung cukup sulit. Tim gabungan harus lebih dulu menghancurkan dinding beton dan memotong besi tulangan sebelum akhirnya jenazah korban bisa kami keluarkan.
Apalagi, proses evakuasi ini sudah menggunakan alat berat seperti ekskavator dan crane. Jika terlihat korban, alat berat langsung dihentikan dilanjutkan proses evakuasi secara manual.
"Untuk empat jenazah yang berhasil diidentifikasi langsung dikoordinasikan dengan keluarganya secepatnya," paparnya.
Sementara suasana haru masih menyelimuti di area sekitar proses evakuasi. Puluhan keluarga santri terus menunggu di sekitar reruntuhan bangunan sambil berdoa dan berzikir agar anak-anak mereka segera ditemukan. Selain itu, tangis dan kesedihan mendalam serta doa terus mengiringi setiap jenazah yang berhasil dievakuasi dan diangkat dari puing-puing reruntuhan bangunan musala itu.
Sementara Kabid Dokkes Polda Jatim, Kombes M Khusnan Marzuki menegaskan Pos Mortem Polda Jawa Timur total sementara menerima sebanyak 13 jenazah santri yang berhasil ditemukan dan dievakuasi hingga hari kelima operasi pencarian. Menurut Khusnan Marzuki, setiap jenazah yang masuk ke RS Bhayangkara Polda Jatim langsung menjalani prosedur pemeriksaan post mortem. Proses itu, meliputi pembersihan, pencatatan kondisi medis maupun ciri-ciri fisik serta pendataan detail yang akan dicocokkan data ante mortem dari keluarga korban.
"Setelah tubuh korban dibersihkan, jenazah kembali dimasukkan ke kantong dan ditempatkan dalam freezer yang disiapkan. Selanjutnya, data post mortem dicocokkan dengan data ante mortem milik keluarganya," tandasnya.
Bagi Khusnan partisipasi keluarga sangat penting dalam proses identifikasi. Data ante mortem yang diperlukan antara lain sidik jari yang bisa ditemukan di dokumen resmi seperti ijazah atau paspor serta rekam medis berupa pemeriksaan gigi. Terutama, rekaman panoramic gigi yang bisa digunakan sebagai diagnosis primer.
"Untuk sidik jari menjadi data identifikasi pasti. Kalau tidak tersedia, bisa digunakan identifikasi sekunder seperti tanda lahir, pakaian terakhir yang dikenakan, foto terbaru atau barang pribadi korban. Kalau semua opsi itu tidak memungkinkan, maka identifikasi terakhir melalui uji DNA," pungkasnya. Ary/Waw
Editor : Redaksi