Sidoarjo (republikjatim.com) - Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Fraksi PKB DPRD Sidoarjo sangat menyayangkan dan menyesalkan pernyataan Bupati Sidoarjo, Subandi soal perizinan atau Izin Mendirikan Bangunan (IMB) Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny Buduran, Sidoarjo. Apalagi, pernyataan itu di awal proses evakuasi puluhan korban yang masih tertimbun bangunan Musala Putra Ponpes Al Khoziny Buduran.
Ketua DPC PKB Sidoarjo, Abdillah Nasih yang juga menjabat Ketua DPRD Sidoarjo didampingi Ketua Fraksi PKB DPRD Sidoarjo, M Dhamroni Chudlori dan beberapa anggotanya diantaranya M Abud Asyrofi, Atok Ashari dan Sutadji mengaku sangat menyesalkan adanya beberapa pihak yang mencoba mencari kesalahan atas ambruknya bangunan Musala Putra Ponpes Al Khoziny Buduran, Sidoarjo. Termasuk, statemen yang disampaikan Bupati Sidoarjo, Subandi yang menyatakan bangunan Musala Ponpes Al Khoziny yang ambruk itu tidak mengantongi perizinan (IMB) di hari pertama proses evakuasi para korban.
"Yang harus diketahui sekarang adalah Ponpes itu sudah berdiri sejak lama (sekitar Tahun 1920 silam). Bahkan, usianya sudah ratusan tahun dan sudah melahirkan banyak ulama, kiai maupun santri-santri hebat yang sudah menjadi pemimpin di beberapa tempat dan instansi.Kalau yang disoal itu perizinan, saya kira hampir semua bangunan Ponpes di Sidoarjo tidak memiliki IMB (izin)," ujar Abdillah Nasih kepada republikjatim.com, Kamis (02/10/2025) sore.
Bagi politisi senior PKB yang akrab disapa Cak Nasih ini, saat membahas perizinan Ponpes di tengah musibah dan proses evakuasi yang mengalami kendala tidak elok dan sangat dibayangkan Bupati Sidoarjo justru mencari-cari kesalahan dan bukan fokus proses evakuasi dan penanganan musibah yang menimpa para santri itu.
"Karena itu, kami sudah membahas bersama Dewan Syuro DPC PKB yakni para kiai, ulama maupun masyayik Ponpes, hasilnya kami memutuskan untuk menegur keras Bupati Sidoarjo karena statemennya tentang IMB di tengah musibah itu. Kami benar-benar kecewa dengan statemen tidak tepat itu," tegas Cak Nasih.
Kendati demikian wakil rakyat asal Dapil VI Kecamatan Waru dan Kecamatan Gedangan ini mengaku pihaknya setuju ke depannya dibutuhkan mitigasi. Hal itu, sebagai salah satu upaya untuk mencegah terulangnya kejadian serupa. Nasih menyebutkan, misalnya dibentuk tim khusus untuk melakukan kajian terhadap seluruh bangunan Ponpes di Sidoarjo.
"Termasuk, memberi pendampingan saat Ponpes membangun, sekaligus memberi kemudahan saat pengurusan IMB (perizinan). Hari ini, kita harus bisa membuktikan pemerintah hadir di tengah - tengah musibah yang tengah dihadapi masyarakat," pintanya.
Cak Nasih juga meminta ada sejumlah upaya dan langkah terbaik dari Pemkab Sidoarjo untuk bisa membantu korban (para santri) maupun keluarganya. Seperti membuka posko maupun kotak donasi. Apalagi, sejak adanya musibah PKB Sidoarjo sudah berrempati atas musibah ini. Selain membuka posko di lokasi kejadian juga sudah membuka donasi bantuan.
"Untuk sementara, dari open donasi PKB Sidoarjo sudah terkumpul Rp 50 juta. Kemarin, sudah kami serahkan ke Pengasuh Ponpes bersamaan penyerahan hasil donasi dari seluruh DPC PKB se-Jatim yang dilaksanakan Abdul Halim Iskandar (Gus Halim) dan rombongan," paparnya.
Selain itu, pihaknya juga sudah berkomunikasi dengan Baznas maupun Dinas Sosial (Dinsos) Pemkab Sidoarjo untuk memberikan santunan kepada korban maupun keluarganya.
"Kami berkeinginan agar korban mendapat beasiswa. Terutama yang berasal dari Sidoarjo. Kalau perlu sampai perguruan tinggi. Santunan juga perlu diberikan kepada keluarga korban meninggal dunia. Itu akan kami koordinasikan dengan BAZNAS dan Dinsos Pemkab Sidoarjo," jelasnya.
Tidak hanya itu, lanjut Nasih yang bersama rombongan usai mengunjungi lokasi, posko dan para korban selamat di RSUD Sidoarjo berharap para korban yang dirawat RSUD RT Notopuro Sidoarjo harus mendapat penanganan medis dengan baik. Nasih dan rombongan pun sempat berdialog dengan para korban selamat beserta orangtuanya menunggui di RSUD RT Notopuro Sidoarjo saat masih menjalani perawatan medis, Kamis (02/10/2025) siang.
"Saat melihat langsung para korban salamat, secara umum semua korban sudah mendapat penangan maksimal dan memadai dari tim medis RSUD Sidoarjo. Tidak ada keluhan sama sekali. Justru mereka menunjukkan ketabahan dan semangat yang luar biasa usai adanya musibah ini," ungkapnya.
Salah satu ketabahan itu ditunjukkan Haikal. Bahkan, santri berusia 13 tahun yang saat dievakuasi masih dalam kondisi lemas, setelah terjebak di reruntuhan bangunan selama tiga hari, kini kondisi kesehatannya berangsur membaik. Bahkan, Haikal sudah bisa berbicara lancar.
"Semangat dia (Haikal) luar biasa. Sekarang ini dia berkeinginan untuk bisa segera pulang ke pondok dan bisa masuk sekolah lagi," paparnya.
Saat membesuk para korban salamat itu, Cak Nasih bersama rombongan juga sempat melihat langsung kondisi beberapa korban lainnya. Salah satunya melihat kondisi Syaifur Rozi yang terpaksa diamputasi.
"Ketabahan dan keihklasan mereka yang luar biasa. Demikian juga pihak keluarga korban, semua itu dianggap sebagai takdir dan mereka mengaku ikhlas atas musibah itu," jelas Nasih.
Ketua Fraksi PKB DPRD Sidoarjo, M Dhamroni Chudlori yang ikut rombongan menjenguk para korban selamat itu, hingga kini masih terdapat 13 korban yang masih dirawat di RSUD RT Notopuro Sidoarjo. Menurutnya, para korban selamat maupun orang tua korban juga harus mendapat pengobatan terbaik berupa trauma healing. Yaitu sebuah tindakan proses pemulihan dari luka batin dan dampak emosional atau pengalaman traumatis akibat terjadinya musibah.
"Penanganan trauma healing ini bisa dilakukan langsung Dinas Kesehatan (Dinkes) Pemkab Sidoarjo maupun PKB Sidoarjo serta berkomunikasi dengan para stakeholder lainnya, untuk penangan trauma healing itu. Dari PKB pun siap menerjunkan kadernya untuk terlibat dalam prosesi penanganan trauma healing itu," pungkasnya.
Sementara perkembangan di lokasi, Tim Basarnas dan tim gabungan lainnya masih fokus dan terus berupaya agar bisa segera mengevakuasi para korban. Tim sudah menggunakan alat berat lantaran sudah tidak ada respon dari bawah reruntuhan bangunan Musala Putra Ponpes Al Khoziny Buduran. Petugas memprediksi sudah tidak ada korban selamat lagi di bawah reruntuhan bangunan musala itu.
Saat ini, untuk jumlah korban yang masih tertimbun belum bisa dipastikan. Namun dari data pihak Ponpes dan petugas berwenang di lokasi kejadian termasuk dari Basarnas dan BNPB diperkirakan masih ada 59 santri dibawah reruntuhan bangunan baru itu. Sedangkan yang sudah dievakuasi mulai hari pertama hingga Kamis sore sekitar 112 orang, lima diantaranya dalam kondisi meninggal dunia. Hel/Waw
Editor : Redaksi