Jejak Nusantara

Kerajaan Kahuripan Didirikan Airlangga untuk Balas Dendam Kemenangan dan Kemakmuran Rakyat Kerajaan Medang

author republikjatim.com

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Candi menjadi bukti kebesaran kerajaan - kerajaan di Nusantara
Candi menjadi bukti kebesaran kerajaan - kerajaan di Nusantara

i

Sidoarjo (republikjatim.com) - Sekitar
Tahun 1006, seorang pemuda tampan asal Bali bernama Airlangga didatangkan ke Jawa untuk dinikahkan dengan Putri Darmawangsa. Dia seorang putri dari Kerajaan Medang. Akan tetapi, saat pesta perkawinan digelar, tiba-tiba Kerajaan Medang diserang musuh.

Akibat serangan itu Kerajaan Medang runtuh. Sementara Sang Rajanya terbunuh. Airlangga termasuk orang yang beruntung dalam peristiwa serangan mendadak itu. Karena Airlangga berhasil melarikan diri bersama Noratama pembantu setianya.

Dalam pelariannya, Airlangga menyamar menjadi seorang petapa. Dalam bertapa, Airlangga menyusun rencana untuk mendirikan kerajaan baru. Salah satu tujuannya untuk membalas dendam kepada sejumlah pihak yang telah membunuh mertua dan calon istrinya. Kerajaan yang didirikan Airlangga itu dikenal dengan nama Kahuripan.

Airlangga adalah putra dari pasangan Darma Udayana Warmadewa dan Mahendradata Gunapriya Darmaputri. Ayah Airlangga adalah seorang Raja Bali dari wangsa Warmadewa. Sementara ibunya putri kerajaan Medang dari wangsa Ishana. Airlangga lahir di Bali, ketika diambil menantu Darmawangsa, saat itu Airlangga masih berusia 16 tahun.

Pada masa Darmawangsa memerintah Medang, ia melakukan ekspedisi hingga ke Bali dan Kalimantan. Darmawangsa menjalin persahabatan dan membuat koloni untuk persiapan menghadapi kerajaan Sriwijaya dan sekutunya. Salah satu koloni dari Kerajaan Medang adalah Bali. Untuk mengikat tali persaudaraan antara Medang dan koloninya (Bali), Damawangsa menjodohkan Airlangga dengan putrinya. Itulah alasan, kenapa Airlangga dikawinkan dengan seorang putri Darmawangsa.

Runtuhnya Kerajaan Medang ini disebabkan serangan Raja Aji Wurawari dari Lwaram (sekutu Siwijaya). Namun, Airlangga yang dilarikan oleh Noratama, seorang pasukan khusus yang dipersiapkan ayah Airlangga untuk menjaga keselamatan putranya itu.

Saat penyelamatan itu, Noratama membawa Airlangga ke puncak gunung menghindari kejaran tentara Lwaram. Dipuncak gunung itu keduanya menghilangkan jati dirinya. Bahkan, keduanya menyamar menjadi seorang petapa Hindu.

Setelah tiga tahun melakukan penyamaran, Airlangga akhirnya membuka jati dirinya secara pelan-pelan. Alasannya saat itu, Airlangga sudah tidak lagi dianggap sebagai buronan oleh Aji Wurawari maupun Sriwijaya.

Kabar mengenai selamatnya Airlangga dari maut, rupanya menjadi harapan satu-satunya bagi bekas para pejabat tinggi Kerajaan Medang yang masih selamat. Mereka kemudian mengharapkan agar Airlangga mau mendirikan kembali kerajaan yang telah runtuh itu. Karena itu, bersama para pejabat tinggi Kerajaan Medang lain berkumpul untuk menobatkan Airlangga menjadi Raja baru penerus Medang.

Sekitar Tahun 1009 atau tepatnya tiga tahun setelah Kerajaan Medang runtuh, Airlangga dinobatkan menjadi Raja penerus Darmawangsa. Kerajaan baru itu kemudian diberi nama Kahuripan. Artinya kehidupan. Dinamakan Kahuripan karena pendiriannya menandakan adanya kehidupan baru bagi bekas rakyat, pejabat dan seluruh kerabat raja Kerajaan Medang yang masih selamat dalam peristiwa serangan berdarah itu.

Saat dinobatkan menjadi Raja Kahuripan, Airlangga bergelar Abhiseka Sri Maharaja Rakai Hulu Sri Dharmawangsa Airlangga Anantawikrama Tunggadewa. Kemudian, 12 tahun setelah Airlangga naik tahta, peristiwa besar mengguncang Sriwijaya. Pada tahun 1023 itu, Sriwijaya ditaklukan oleh Kerajaan Tamil Chola.

Takluknya Sriwijaya ditangan Tamil Chola membuat gairah (semangat) Airlangga untuk balas dendam pada Aji Warawuri dari Lwaram timbul kembali. Saat itu, Airlangga berfikir kondisi Sriwijaya yang kala sebagai Negeri taklukan Tamil Chola tidak mungkin dapat melindungi Lwaram. Karena itu, sekitar Tahun 1025, Airlangga melancarkan ekspedisi merebut kembali sejumlah wilayah di Pulau Jawa yang dahulu masuk pada kekuasaan Kerajaan Medang.

Ekspedisi Airlangga mulai Tahun 1025 sampai Tahun 1032 awalnya selalu menuai kemenangan. Akan tetapi, karena kerajaan Lwaram masih terbilang kuat menyebabkan Airlangga dapat dipukul mundur. Bahkan Ibukota Kerajaan Kahuripan direbut. Sehingga Airlangga melarikan diri untuk kemudian membangun Ibukota baru bersama pengikutnya.

Kegagalan Airlangga pada ekspedisi pertamanya ini, rupanya tidak membuat Airlangga putus semangat. Kali ini, Airlangga membangun angkatan perang (tempur)-nya dengan sungguh-sungguh. Setelah dirasa cukup, dari Ibukota Kerajaan Kahuripan yang baru, Airlangga yang dirasuki dendam itu langsung melakukan ekspedisi yang kedua. Yakni berusaha kembali merebut sejumlah wilayah yang dahulu masuk pada kekuasaan Kerajaan Medang sekaligus menghancurkan Lwaram.

Dalam Ekspedisi yang kedua, Airlangga memperoleh kemenangan yang gemilang. Sekitar Tahun 1032, Airlangga berhasil mengalahkan Raja Aji Wurawuri dan mampu merebut Ibu Kota kerajaannya.

Terbunuhnya Aji Wura-Wuri dan tumbangnya Lwaram menandai tunainya dendam Airlangga. Selanjutnya, setelah peristiwa itu wilayah yang semula sebagai wilayah bekas Kerajaan Medang berangsur-angsur secara suka rela menggabungkan diri ke dalam wilayah Kerajaan Kahuripan.

Setelah sebagian besar tanah Jawa bagian timur tunduk dibawah Kerajaan Kahuripan, kemudian Airlangga melakukan pembangunan tujuannya untuk kemakmuran rakyat dan kerajaan barunya itu.

Diantara pembangunan yang dilaksanakan Airlangga adalah membangun Bendungan Waringin Sapta pada Tahun 1037. Bendungan Waringin Sapta gunanya untuk mencegah banjir musiman serta sebagai pengairan lahan pertanian.

Selain itu, Airlangga juga memperbaiki Pelabuhan Hujung Galuh yang letaknya di muara Kali Brantas berdekatan dengan Surabaya (sekarang). Tidak lupa pula, Airlangga juga membangun beberapa jalan yang menghubungkan pesisir dengan pusat kerajaan.

Sebagai kenang-kenangan, ketika Airlangga menjadi seorang petapa pelarian ia meresmikan pertapaan di Gunung Pucangan sekitar Tahun 1041. Selanjutnya, pembangunan terakhir yang dilakukan Airlangga adalah memindahkan ibukota kerajaan ke Daha (Kediri).

Selepas berhasil membangun kerajaan, hingga mampu memakmurkan rakyatnya, akhirnya Airlangga merasa perlu untuk turun dari tahta. Kemudian, tahta itu diwariskan pada putri mahkota, sehingga dengan demikian Airlangga dapat menikmati masa tuanya menjadi seorang petapa.

Belum juga terwujud rencana yang diimpikan, rupanya putri mahkota menolak menjadi penguasa perempuan. Putrinya, justru lebih memilih hidup menjadi seorang petapa.

Penolakan putri mahkota membuat guncang Kerajaan Kahuripan. Alasannya, dua putra laki-laki Airlangga yang sama-sama lahir dari selir saling berebut tahta. Menghadapi kondisi semacam itu, akhirnya Airlangga membelah kerjaannya menjadi dua.

Kerajaan bagian barat disebut Kediri (Panjalu) dengan ibukota Daha, penguasa dari kerajaan ini adalah putra Airlangga yang bernama Sri Samarawijaya. Sementara kerjaan bagian timur disebut Jenggala dengan ibukota lama Kahuripan. Penguasa dari Kerajaan Jenggala ini adalah putra Airlangga yang bernama Mapanji Garasakan.

Sementara pembelahan (pembagian) Kerajaan Kahuripan menjadi dua menggunakan jasa seorang Mpu yang dikenal sakti. Mpu itu bernama Mpu Bharada. Meskipun demikian, pembagian kerajaan mengalami kendala. Karena Mpu Bharada mengalami kecelakaan ketika melaksanakan tugas. Karena kecelakaan itulah yang dikemudian hari menyebabkan keluarnya Kutukan Mpu Bharada. Al/Waw

Berita Terbaru

Semarakkan HUT RI, Pemuda Pancasila Sidoarjo Bagikan BBM Gratis Bagi Ojol dan Warga Kenakan Baju Perjuangan

Semarakkan HUT RI, Pemuda Pancasila Sidoarjo Bagikan BBM Gratis Bagi Ojol dan Warga Kenakan Baju Perjuangan

Jumat, 07 Agu 2026 11:03 WIB

Jumat, 07 Agu 2026 11:03 WIB

Sidoarjo (republikjatim.com) -  Memperingati momentum Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke 81, Majelis Pimpinan Cabang (MPC) Pemuda …

Ajang Adu Inovasi, Jambore PKK Sidoarjo 2026 Kobarkan Semangat Kader Perkuat Peran di Masyarakat

Ajang Adu Inovasi, Jambore PKK Sidoarjo 2026 Kobarkan Semangat Kader Perkuat Peran di Masyarakat

Kamis, 06 Agu 2026 19:34 WIB

Kamis, 06 Agu 2026 19:34 WIB

Sidoarjo (republikjatim.com) - Pendopo Delta Wibawa memerah penuh semangat, Kamis (06/08/2026). Ribuan kader Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) dari 18…

Bentengi Generasi Muda, Dinkes Sidoarjo Gandeng Kampus Perkuat Edukasi HIV Bagi Siswa SMA dan SMK

Bentengi Generasi Muda, Dinkes Sidoarjo Gandeng Kampus Perkuat Edukasi HIV Bagi Siswa SMA dan SMK

Kamis, 06 Agu 2026 15:37 WIB

Kamis, 06 Agu 2026 15:37 WIB

Sidoarjo (republikjatim.com) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo terus memperketat langkah pencegahan penyebaran Human Immunodeficiency Virus (HIV). Tidak…

Gagal Gondol Vario di Sedati, Komplotan Maling Motor Babak Belur Dihajar Massa Dilarikan Rumah Sakit, Rekannya Kabur

Gagal Gondol Vario di Sedati, Komplotan Maling Motor Babak Belur Dihajar Massa Dilarikan Rumah Sakit, Rekannya Kabur

Kamis, 06 Agu 2026 13:34 WIB

Kamis, 06 Agu 2026 13:34 WIB

Sidoarjo (republikjatim.com) - Nasib naas menimpa seorang pelaku pencurian kendaraan bermotor (curanmor) di Desa Pabean, Kecamatan Sedati, Kabupaten Sidoarjo.…

Diserang Rayap, Plafon SDN Gelang 2 Ambrol, 17 Siswa 6 Bulan Ngungsi ke Perpustakaan, Dewan Desak Perbaikan Total

Diserang Rayap, Plafon SDN Gelang 2 Ambrol, 17 Siswa 6 Bulan Ngungsi ke Perpustakaan, Dewan Desak Perbaikan Total

Kamis, 06 Agu 2026 12:44 WIB

Kamis, 06 Agu 2026 12:44 WIB

Sidoarjo (republikjatim.com) - Gegara atap lapuk dimakan rayap, keselamatan ratusan siswa di SD Negeri (SDN) Gelang 2, Kecamatan Tulangan, Sidoarjo, kini di…

Momen "Ngopi Pintar" Pemkab Sidoarjo dan Kemendagri, Sinyal Kuat Perbaikan Tata Kelola Pemerintahan Tanpa Kompromi

Momen "Ngopi Pintar" Pemkab Sidoarjo dan Kemendagri, Sinyal Kuat Perbaikan Tata Kelola Pemerintahan Tanpa Kompromi

Rabu, 05 Agu 2026 16:52 WIB

Rabu, 05 Agu 2026 16:52 WIB

Sidoarjo (republikjatim.com) - Komitmen perbaikan tata kelola pemerintahan di Kabupaten Sidoarjo kian berhembus kencang. Mengusung konsep diskusi yang santai…