Sidoarjo (republikjatim.com) - Kenaikan harga kedelai beberapa pekan terakhir dirasakan para produsen tempe asal Sidoarjo. Kendati harga bahan baku utama tempe ini terus mengalami kenaikan Rp 1.300 per kilogram, akan tetapi para produsen tempe di Sidoarjo tetap tak bisa menaikkan tempe hasil produksinya. Hal ini disebabkan karena takut ditinggal para pelanggannya (konsumen).
Keluhan ini dirasakan produsen tempe, Suwiliyat warga Desa Wonokasian, Kecamatan Wonoayu, Sidoarjo. Pria 29 tahun ini terpaksa mengurangi takaran kedelai untuk tempenya. Hal ini karena tak bisa menaikkan harga tempe hasil produksinya sejak kenaikan harga bahan baku kedelai sejak kenaikan harga dollar itu.
"Memang naiknya bertahap antara Rp 100 sampai Rp 150 per kilogram. Tapi sekarang kenaikannya sudah mencapai Tp 1.300 per kilogram. Dari awal harga kedelai Rp 6.300 menjadi Rp 7.600 per kilogram," terang bapak satu anak ini kepada republikjatim.com, Selasa (18/09/2018).
Pria yang merintis usahanya sejak masih duduk dibangku kuliah ini memaparkan awalnya harga kedelai Rp 6.300 per kilogram, kini menjadi Rp 7.600 per kilogram. Kenaikan harga ink cukup meresahkan dirinya sebagai pengusaha tempe rumahan. Untuk menyiasati tingginya harga bahan baku ini, dirinya mengaku terpaksa mengurangi takaran kemasam tempenya.
"Karena kalau dinaikkan harga tempenya, pelanggan saya ngambek. Selain ngambek tidak mau ambil banyak. Ada juga pelanggan yang komplain," imbuhnya.
Selama ini, bapak satu anak ini melayani pedagang tempe yang ada di sejumlah pasar tradisional di Sidoarjo. Menurutnya, pihaknya terpaksa mengurangi takaran tetapi harga tempe tetap seperti semula. Yakni perbungkus Rp 2.000.
"Biasanya, tempe dibungku plastik berisi 160 gram kedelai olahan per bungkus, kini terpaksa menguranginya menjadi 130 gram per bungkus. Kalau tidak begiti saya merugi. Semua pelanggan sudah saya kasih tau kalau takarannya dikurangi," tegasnya.
Sementara dalam menjalankan usahanya, Suwiliyat setiap hari mampu menghabiskan 150 kilogram kedelai. Hal ini mampu mengurangi pengangguran dengan mempekerjakan tujuh orang untuk membantu mengelola usaha tempenya itu. Dua orang membantu mengolah kedelai, dua orang mengemas dam tiga orang lainnya membantu berjualan mengirim ke sejumlah pasar.
"Kami berharap pemerintah bisa mencari solusi agar harga kedelai tidak terlalu lama kenaikannya. Pengusaha tempe dan tahu berharap harga kedelai bisa normal lagi. Karena saat saya mengurangi takaran, membuat pembeli banyak komplain," pungkasnya. Waw
Editor : Redaksi