Sidoarjo (republikjatim.com) - Tim gabungan dan SAR akhirnya menemukan Andra Wendi Syafiudin warga Dusun Kangkungan, Desa Lengkong, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Mojokerto dalam pencarian hari kedua, Jumat (24/06/2022). Remaja 20 tahun ini ditemukan di timur DAM Desa Kedungbocok, Kecamatan Tarik, Sidoarjo di kedalaman 6 meter.
Saat ditemukan korban hanya mengenakan celana pendek. Sedangkan baju (pakaian) korban sudah terlepas dari tubuh korban yang dalam kondisi kaku itu. Saat ditemukan kondisi korban sudah dalam keadaan tertelungkup di dasar sungai.
Komandan Tim (Dantim) Yontaifib 2 Letda Mar Edi Tanzil mengatakan jika sembilan anggotanya dan tim lainnya sudah sejak Kamis (23/06/2022) pukul 21.00 WIB. Namun setelah melakukan pencarian dan penyisiran hingga pukul 00.00 WIB korban tidak ditemukan.
"Karena malam hari, akhirnya kami menunda pencarian sampai keesokan harinya. Apalagi hingga dini hari korban (Andra) belum ditemukan. Padahal, tim sudah tiga kali melakukan penyelaman dengan bawa tabung oksigen. Dua anggota menyelam dan satu anggota di atas sebagai pengendali," ujarnya kepada republikjatim.com, Jumat (24/06/2022).
Lebih jauh Edi menjelaskan saat dilakukan penyelaman malam hari pandangan tim gabungan masih kabur dan terbatas. Karena itu, tim penyelam hanya bisa meraba-raba.
"Karena pandangannya memang tidak terlihat jelas dan jarak pandang yang terbatas," imbuhnya.
Selanjutnya, hari kedua pencarian Jumat (24/06/2022), tim melanjutkan pencarian dengan metode penyisiran lagi. Tim menyelam dan menyisir sekitar 30 meter sisi timur kanan kiri dari titik korban terjatuh di dekat DAM (pintu air) itu.
"Hasilnya, alhamdulillah korban (Andra) ditemukan dalam kondisi tertelungkup dengan tidak memakai kaos di kedalaman enam meter. Seketika korban kami masukkan kantong jenazah dan diangkat ke atas sungai dan dibawa ambulance itu," ungkapnya.
Jenazah korban kata Edi langsung dibawa ke rumahnya dan langsung disemayamkan ke tempat pemakaman umum desa setempat.
"Saat dibawa mobil ambulance jenazah korban didampingi keluarganya yakni paman korban sendiri," paparnya.
Sementara berdasarkan data di lapangan, kata Edi jalan alternatif menuju ladang sekaligus pemancingan itu selayaknya hanya digunakan untuk pejalan kaki.
"Jalan itu memang seharusnya bukan dilewati pengendara motor atau sepeda ontel. Apalagi dalam kondisi berboncengan atau membawa barang. Karena lebar jalan hanya setengah meter. Meski ada pembatas pagar pipa akan tetapi penuh resiko," tandasnya. Hel/Waw
Editor : Redaksi