Sidoarjo (republikjatim.com) - Tim Program Kemitraan Masyarakat (PKM) Universitas NU Sidoarjo (Unusida) sangat peduli terhadap masalah pengelolaan sampah. Karena itu, tim PKM Unusida mendampingi pengelolaan di Desa/Kecamatan Tulangan, Sidoarjo.
Kegiatan ini berlangsung bertahap. Yakni dilakukan tanggal 8 dan 18 Agustus 2020 kemarin. Kemudian dilakukan monitoring dan evaluasi internal 23 Oktober 2020.
Ketua PKM Unusida, Atik Widiyanti mengatakan menunjukkan rata-rata penduduk Desa Tulangan menghasilkan sampah lebih dari 1.445,4 kilogram per hari. Hal ini dihitung berdasarkan jumlah penduduk sebesar 4.818 jiwa. Menurutnya, untuk mengurangi dampak dari jumlah ini, tim Unusida memberikan pembinaan pengelolaan sampah kepada Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Bumi Lestari. Kelompok ini menjadi pengelola Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) tingkat desa.
"Selama pendampingan, kami menemukan pengelolaan di TPST KSM Bumi Lestari masih mengalami kendala. Mereka masih menggunakan pola pengelolaan sederhana. Akibatnya, timbunan sampah yang tidak terkelola semakin besar dan beresiko mencemari lingkungan, terutama air," ujarnya kepada republikjatim.com, Jumat (23/10/2020).
Menurut Atik lindi (air kotoran sampah) yang berasal dari timbunan sampah di area sekitar TPST tidak terkontrol. Hal ini berdampak buruk bagi sumber air tanah di desa itu. Alasannya, karena lindi yang terserap tanah akan menjadi air tanah.
"Kami khawatir, itu akan mencemari sumur warga," imbuhnya.
Sedangkan dari aspek sarana, prasarana dan teknologinya, kata Atik KSM ini belum memiliki manajemen berbasis teknologi untuk pengelolaan sampah. Adapun kekurangan lainnya, yakni mitra belum memiliki Alat Perlindungan Diri (APD) dan mitra belum memiliki peralatan pengolahan sampah organik.
"Makanya kami menyiapkan beberapa langkah pendampingan. Diantaranya workshop dan pelatihan tentang layanan aplikasi informasi cloud computing untuk manajemen pengelolaan sampah, workshop tentang pengolahan lindi dan komposting, dan pendampingan penggunaan aplikasi informasi manajemen pengelolaan sampah," tegasnya.
Permasalahan lainnya, lanjut Atik tidak terpilahnya sampah oleh masyarakat. Akibatnya, saat sampai di TPST sampah campuran semakin banyak dan bertumpuk. Padahal, permasalahan sampah menjadi komplek ketika sampah bercampur.
"Sampah daun, sayur, kertas, plastik, seng, besi, aluminium, jarum suntik, obat-obatan dan baterai, kalau bercampur akan bereaksi dan membentuk senyawa yang lebih berbahaya," jelasnya.
Karena itu, pendampingan saat ini di TPST Desa Tulangan dapat melakukan tabulasi data sampah. Selain itu, pengecekkan kondisi sampah secara aplikatif.
"Agar model pengelolaan dapat ditentukan menyesuaikan kondisi sampah yang masuk," tandasnya. Hel/Waw
Editor : Redaksi