Bupati Sidoarjo Dorong Tuntaskan Pengelolaan Sampah di 19 Pasar, DLHK Diminta Buat Prototype

republikjatim.com
BUKA - Bupati Sidoarjo Ahmad Muhdlor Ali (Gus Muhdlor) saat membuka Workshop Pengelolaan Sampah di Aston Hotel KNV Sidoarjo, Rabu (07/09/2022).

Sidoarjo (republikjatim.com) - Sampah pasar di Sidoarjo menyumbang 8 - 10 persen sampah di TPA Jabon atau sekitar 50 - 60 ton perhari sampah yang dihasilkan dari sekitar 19 pasar se Sidoarjo. Bupati Sidoarjo, Ahmad Muhdlor Ali mendorong Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) untuk memecahkan persoalan itu.

Targetnya sampah yang dihasilkan dari pasar-pasar yang dikirim ke TPA Jabon berkurang signifikan sekitar 30 persen atau 15 ton perharinya.

Baca juga: Tekankan Tri Sukses, Kemenhaj Jatim dan Sidoarjo Gelar Manasik Haji Perdana untuk CJH Asal Kota Delta

Putra KH Agoes Ali Masyhuri itu juga meminta UPT BLUD khusus menangani sampah TPA Jabon segera dibentuk. Menurutnya, dengan dibentuk BLUD penanganan persoalan sampah bisa lebih difokuskan. Saat ini sampah yang dikirim ke TPA Jabon, mulai dari sampah rumah tangga dan sejenis sampah rumah tangga yang dihasilkan oleh kegiatan masyarakat serta sampah pasar perharinya mencapai 600 ton itu. Sebagian diolah menjadi bahan bakar alternatif RDF Briket. Sampah yang diolah menjadi briket perharinya tidak lebih dari 10 ton.

Bupati yang akrab disapa Gus Muhdlor mengingatkan terbatasnya kemampuan mengolah sampah di TPA Jabon menjadi briket membutuhkan solusi cepat. Sedangkan masa operasional Sanitary landfill juga memiliki batas kemampuan. Bupati alumni FISIP Unair itu memperkirakan masa efektif operasional Sanitary Landfill hanya 5 sampai 7 tahun.

"Biayanya pun dinilai sangat besar. Karena itu, kami minta DLHK Pemkab Sidoarjo gerak cepat membentuk prototipe pengelolaan sampah yang ideal di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) dan di pasar. Selanjutnya, direplikasi ke semua TPST dan pasar se Sidoarjo," ujar Bupati alumni SMAN 4 Sidoarjo ini, Rabu (07/09/2022).

Bupati ingin mewujudkan TPA dengan umur teknis yang sangat panjang dan jika perlu dilakukan inovasi untuk menambang TPA atau landfill mining. Sedangkan umur teknis TPA sangat tergantung pada jumlah sampah yang ditampung.

"Kalau melihat kondisi sekarang diperkirakan umur efektifnya 5-7 tahun saja. Kecuali volume sampah yang dikirim ke TPA Jabon berkurang signifikan. Penanganan sampah harus dilakukan mulai dari hulu, mengandalkan TPA Jabon saja tidak mungkin. Karena kapasitasnya sangat terbatas," tegas Gus Muhdlor saat membuka Workshop Pengelolaan Sampah di Aston Hotel Sidoarjo.

Workshop yang diikuti pegiat lingkungan tersebut menggandeng United Nations Development Programme (UNDP). National Project Manager Restore UNDP Saputra Liadi juga hadir dalam kesempatan itu. Selain itu, Gus Muhdlor ingin penuntasan permasalahan sampah dilakukan mulai tingkat bawah. Pihaknya, akan terus mendorong berdirinya TPST di desa-desa. TPST desa akan diperkuat lagi. Selanjutnya merambah ke pasar-pasar.

Baca juga: Peringati Harjasda ke 167, Gelar Doa Bersama 1000 Anak Yatim Sekaligus Santunan

"Ada 19 pasar yang pengelolaan sampahnya mulai digarap. Itu akan dimulai di Pasar Taman sebagai prototype penuntasan sampah bersama UNDP. Warga pasar akan diedukasi pemilahan sampah. Dengan begitu beban TPA Jabon akan berkurang. Saya yakin ini menjadi momentum baru untuk mencetak satu formula yang nanti diintegrasikan ke pasar-pasar yang lain," tegasnya.

Gus Muhdlor menjelaskan Kabupaten Sidoarjo adalah daerah komuter. Banyak pendatang yang tinggal di Sidoarjo, tapi kerja di kota lain. Pertumbuhan penduduk seperti ini berbanding lurus dengan meningkatnya volume sampah. Karena itu, pihaknya terus memikirkan cara-cara penanganan sampah yang efektif dan efisien.

"Inovasi-inovasi menuntaskan permasalahan sampah diharapkan di hadirkan dinas yang membidanginya. Satu persatu harus mulai dikikis. Kalau habis sekarang tidak mungkin, tetapi harus ada arah yang jelas. Kalau tahun kemarin 50 an lebih TPST yang berdiri, sekarang sudah 150 lebih maka secara konsisten minimal pertahun ada 50 TPST yang harus dibangun," jelasnya.

Tidak hanya itu, Gus Muhdlor melanjutkan permasalahan sampah juga bukan sekedar infrastrukturnya. Namun juga tentang perilaku masyarakatnya. Perilaku yang peduli terhadap kebersihan lingkungannya. Masyarakat harus terus mendapatkan edukasi pentingnya menjaga kebersihan lingkungannya.

"Perilaku seperti ini akan membantu pemerintah dalam menuntaskan permasalahan sampah. Permasalahan sampah bukan berbicara tentang infrastrukturnya saja, tetapi edukasi dan pemahaman sehingga menjadi kebiasaan ini yang penting," paparnya.

Baca juga: Sudah Jadi BB Mabes Polri, Somasi Bupati Sidoarjo Soal Pengembalian 3 Sertifikat Langsung Ditanggapi Rahmat Muhajirin

Sementara Kepala DLHK Pemkab Sidoarjo, M Bahrul Amig menegaskan saat ini pihaknya tengah menggarap pengelolaan sampah di Pasar Taman, Kecamatan Taman. Pihaknya menilai, pengelolaan di pasar itu, dinilai paling baik tapi masih membutuhkan pendampingan dari DLHK. Karena itu, mantan Kepala Dishub Pemkab Sidoarjo itu tengah menyempurnakan mulai dari pemilahan hingga edukasi petugas.

"Yang akan kita jadikan prototype pengelolaan pasar Taman. Sekarang tengah kita siapkan untuk dijadikan role model di pasar lain. Yang kita intervensi mulai pendampingan sampai ke teknis pengelolaan," ungkapnya.

Amig menambahkan kebijakan strategis nasional pemerintah pusat dan kebijakan strategis pemkab Sidoarjo sekarang ini sudah sejalan.

"Penanganan sampah 70 persen dan pengurangan 30 persen di Tahun 2022," pungkasnya. Hel/Waw

Editor : Redaksi

Peristiwa
Berita Terpopuler
Berita Terbaru