Istri Bupati Sidoarjo Gandeng UNICEF Luncurkan LiLA, untuk Deteksi Dini Kasus Gizi Buruk Balita

republikjatim.com
CEK - Ketua TP PKK Kabupaten Sidoarjo, Ny Sa’adah Ahmad Muhdlor mengecek kesehatan balita menggunakan pita LiLA saat launching bersama Unicef di Pendopo Delta Wibawa, Rabu (08/06/2022).

Sidoarjo (republikjatim.com) - TP PKK Kabupaten Sidoarjo dan UNICEF meluncurkan program LiLA Keluarga sebagai bagian dari pendeteksi dini status gizi anak. Program ini diharapkan menurunkan kasus Malnutrisi Energi Protein (MEP) atau yang disebut kurang gizi dan gizi buruk.

"Pengukuran lingkar lengan atas (LiLA) menggunakan Pita Lila menjadi strategi pemberdayaan masyarakat. Keluarga dan kader PKK dapat menjadi detektor pertama kejadian kasus kurang gizi akut balita di dalam keluarga. Kalau keluarga bisa mendeteksi dini, konsekuensi serius akibat kekurangan gizi akut dapat dicegah," ujar Ketua TP PKK Kabupaten Sidoarjo, Ny Sa’adah Ahmad Muhdlor, Rabu (08/06/2022) di Pendopo Delta Wibawa.

Baca juga: Gebyar Literasi Anak PAUD hingga SD Ikut Meriahkan Peringatan Harjasda ke 167 di Kota Delta

Istri Bupati Sidoarjo yang akrab disapa Ning Sasha ini menambahkan pengukuran LiLA dapat dilakukan dengan sangat mudah. Bahkan dapat dilakukan secara rutin oleh keluarga sendiri. Pengukuran LiLA dilakukan hanya dengan menggunakan pita dengan indikator warna merah, kuning, dan hijau.

"Nah, warna-warna itu menandakan risiko kurang gizi yang dialami anak. Warna merah menandai kondisi anak parah dan membutuhkan perawatan segera. Warna kuning berarti anak mengalami kurus akut dan warna hijau menandakan anak sehat," ungkap alumni SMAN 4 Sidoarjo ini.

Perempuan yang juga menjabat Ketua Dekranasda Sidoarjo ini menilai penggunaan LiLa keluarga pada Perwakilan PKK tingkat desa dan kecamatan yang turut hadir saat Launching Pelaksanaan Lila Keluarga. Diharapkan komitmen seluruh anggota TP PKK memastikan keluarga bisa menjadi detektor dini. Tujuannya, agar anak berisiko dapat mendapatkan perawatan sesuai dengan kebutuhannya.

"Keterlambatan deteksi dini dapat dicegah dengan pengukuran secara rutin setiap bulan di Posyandu. Ini merupakan bagian penanganan kasus gizi kurang dan gizi buruk (wasting) pada balita melalui kegiatan pengelolaan gizi buruk terintegrasi yang didukung UNICEF bagi Pemerintah Provinsi Jawa Timur sejak Tahun 2021," tegasnya.

Baca juga: Tekankan Tri Sukses, Kemenhaj Jatim dan Sidoarjo Gelar Manasik Haji Perdana untuk CJH Asal Kota Delta

Sementara Kepala Perwakilan UNICEF di Pulau Jawa, Arie Rukmantara menegaskan balita dengan kasus gizi kurang dan gizi buruk atau dikenal dengan istilah wasting memiliki risiko 3 kali lipat untuk menjadi stunting. Di Indonesia, lebih dari 2 juta anak menderita kondisi sangat kurus atau severe wasting. Yakni bentuk gizi buruk yang paling berbahaya.

"Anak yang tidak mendapatkan perawatan berisiko mengalami konsekuensi berat. Termasuk risiko kematian yang 12 kali lipat lebih tinggi. Ini karena sistem kekebalan tubuhnya terlalu lemah. Dalam jangka panjang, pertumbuhan fisik dan perkembangan mental pun dapat terganggu," jelasnya.

Sedangkan di Jawa Timur, prevalensi wasting 6,2 persen dan di Kabupaten Sidoarjo, prevalensi wasting dari survei Tahun 2021 5,4 persen atau 1 dari 18 balita di Sidoarjo mengalami wasting.

Baca juga: Peringati Harjasda ke 167, Gelar Doa Bersama 1000 Anak Yatim Sekaligus Santunan

"Dari jumlah itu, diperkirakan ada sekitar 2,800 balita mengalami gizi buruk," urainya.

Direktur Eksekutif UNICEF, Catherine Russell mengingatkan semua jika dunia dengan cepat menjadi tempat (a virtual tinder box). Yakni kematian anak dapat dicegah, terutama kematian anak yang menderita wasting.

"Karena itu, gizi dan kesehatan anak harus selalu menjadi prioritas bersama agar dapat memberikan dunia sebagai panggung kesempatan untuk balita. Anak kita tumbuh dan berkembang optimal sesuai dengan potensi yang dimilikinya," tandasnya. Hel/Waw

Editor : Redaksi

Peristiwa
Berita Terpopuler
Berita Terbaru