Omzet Naik, Janda Tiga Anak Ny Sunayah Tidak Menyangka Warung Kelontongnya Direnovasi Bupati Sidoarjo

republikjatim.com
KAGET - Mendapat bantuan Bedah Warung dari Pemkab Sidoarjo bagi Sunayah (52) janda tiga anak itu seperti mimpi karena warung kelontongnya di Desa Wonomlati, Kecamatan Krembung dikunjungi Bupati Sidoarjo Ahmad Muhdlor Ali.

Sidoarjo (republikjatim.com) - Mendapat bantuan Bedah Warung dari Pemkab Sidoarjo bagi Sunayah (52) janda tiga anak itu seperti mimpi. Apalagi warung kelontongnya di Desa Wonomlati, Kecamatan Krembung, Sidoarjo itu dikunjungi Bupati Sidoarjo, Ahmad Muhdlor Ali (Gus Muhdlor).

Kedatangan Bupati Sidoarjo ini dalam rangka meresmikan warung Sunayah yang sudah selesai direnovasi melalui program Bedah Warung. Bupati Sidoarjo, Ahmad Muhdlor Ali mengajak puluhan perusahaan seperti Indomaret untuk berbagi bersama melalui program Bedah warung.

Baca juga: Tekankan Tri Sukses, Kemenhaj Jatim dan Sidoarjo Gelar Manasik Haji Perdana untuk CJH Asal Kota Delta

Dalam setahun program ini akan menyasar sedikitnya 300 warung. Targetnya dalam waktu 3 tahun ada 1.000 warung yang mendapat bantuan renovasi dari Pemkab Sidoarjo. Dengan bantuan bedah warung itu, diharapkan akan membangkitkan perekonomian Usaha Mikro Kecil (UKM).

Seperti halnya yang dirasakan Ny Sunayah janda tiga anak ini. Sejak ditinggal suaminya meninggal dunia sekitar lima tahun lalu, praktis kebutuhan hidup sehari-hari Sunayah menjadi tanggung jawab dirinya. Ditambah, saat itu ketiga anaknya masih sekolah semua. Fani Ardiansyah, anak sulung saat ditinggal meninggal ayahnya masih duduk di bangku kelas 2 SMA.

Semasa hidup, ayah Fani yakni almarhum Mustadi ingin anak sulungnya menempuh pendidikan sekolah sekaligus mondok. Mulai SMP Fani dimasukkan ke SMP Progresif Bumi Sholawat Desa Lebo, Kecamatan Sidoarjo dan berlanjut sampai SMA. Tapi takdir berkehendak lain. Saat memasuki kelas 2 SMA, Mustadi ayahnya yang sehari-hari berprofesi penjual tempe itu meninggal dunia.

Sejak ditinggal meninggal Mustadi, kehidupan ekonomi keluarga Sunayah goncang. Hal itu berpengaruh terhadap kelanjutan sekolah anak sulungnya, Fani Ardiansyah. Sunayah sempat mengajukan Fani untuk pindah sekolah karena tidak adanya biaya. Beruntung bagi Sunayah karena pihak sekolah Fani membebaskan biaya sekolahnya setelah Sunayah menyampaikan kondisi keluarganya kepada pengurus sekolah itu.

"Sejak suami saya meninggal otomatis saya jadi tulang punggung keluarga. Ada tiga anak yang masih sekolah semua dan sedang membutuhkan biaya. Satu-satunya yang bisa menolong membuka usaha warung samping rumah ini," ujar Ny Sunayah kepada republikjatim.com, Jumat (11/02/2022).

Baca juga: Peringati Harjasda ke 167, Gelar Doa Bersama 1000 Anak Yatim Sekaligus Santunan

Perlahan-lahan Ny Sunayah akhirnya bangkit. Warung kelontong yang tadinya hanya jadi pekerjaan sampingan oleh Sunayah dijadikan pekerjaan utama. Hal itu dilakukan sejak ditinggal suaminya. Sepeninggal suaminya, kondisi warung Ny Sunayah tidak ada perubahan secara fisik.

Bangunan yang masih kelihatan batu bata merah dan ditambah lantainya yang dari ubin membuat warung Ny Sunayah terlihat kurang bersih. Stok dagangan masih sedikit karena belum dilengkapi rak jualan. Barang dagangan hanya ditata di atas meja juga terlihat kurang menarik. Sekarang warung Ny Sunayah bak minimarket.

Di dalam dilengkapi rak seperti yang ada di toko Indomaret. Begitu juga mejanya. lantainya pun sudah berubah jadi keramik putih. Selain itu, bangunan toko sudah direnovasi. Ny Sunayah mengaku bersyukur karena Pemkab Sidoarjo memberikan perhatian kepada pedagang kecil seperti dirinya. Bantuan bedah warung itu menurutnya sangat membantu dalam menaikkan omzet penjualannya.

Baca juga: Sudah Jadi BB Mabes Polri, Somasi Bupati Sidoarjo Soal Pengembalian 3 Sertifikat Langsung Ditanggapi Rahmat Muhajirin

"Saya tidak menyangka kalau Pemkab Sidoarjo ada program bedah warung. Warung ini yang mendapat kesempatan pertama. Saya benar-benar bersyukur mendapatkan bantuan ini," ungkapnya.

Sementara stok dagangan Ny Sunayah sekarang jadi bertambah banyak. Dalam tiga hari sekali omzet dari hasil jualan sembako dan berbagai makanan dan minuman ringan mencapai Rp 2 juta.

"Itu omzet kotor dari jualan selama kurang lebih 3 hari. Hasilnya bisa untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan bayar anak sekolah. Anak pertama sudah kuliah di Malang. Anak kedua dan ketiga masih sekolah," pungkasnya. Hel/Waw

Editor : Redaksi

Peristiwa
Berita Terpopuler
Berita Terbaru