Dikbud Blitar Timba Ilmu Mendidik Anak Berkebutuhan Khusus di Dua Sekolah Inklusi d Sidoarjo

republikjatim.com
KUNJUNGAN - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pemkab Blitar berkunjung dalam rangka studi lapangan ke sekolah penyelenggara pendidikan inklusi seperti SDN Sidokerto dan SMPN 4 Sidoarjo, Sabtu (11/12/2021).

Sidoarjo (republikjatim.com) - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Pemkab Blitar berkunjung ke Sidoarjo, Sabtu (11/12/2021). Kunjungan ini dalam rangka studi lapangan (menimba ilmu) dengan mengunjungi sejumlah sekolah penyelenggara pendidikan inklusi seperti SDN Sidokerto dan SMPN 4 Sidoarjo.

Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pemkab Blitar, Yeti Utami mengatakan kunjungan ini bertujuan untuk menimba ilmu soal penyelenggara pendidikan inklusi di Sidoarjo. Menurutnya, penyelenggaraan pendidikan inklusi di Sidoarjo sudah merata hampir di semua sekolah.

Baca juga: Tekankan Tri Sukses, Kemenhaj Jatim dan Sidoarjo Gelar Manasik Haji Perdana untuk CJH Asal Kota Delta

"Kami ingin silaturahmi ke Sidoarjo sekaligus ingin belajar mendidik anak-anak inklusi sesuai dengan harapan orangtua," ujar Yeti Utami kepada republikjatim.com, Sabtu (11/12/2021).

Yeti menjelaskan ada salah satu SD Negeri di Blitar yang peserta didiknya 90 persen anak-anak berkebutuhan khusus. Yakni di SDN 2 Banggle, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar. Di sekolah itu hampir semua siswanya anak-anak inklusi.

"Kami berharap, keberadaan anak-anak di sekolah itu dapat disebar ke sekolah-sekolah lain. Agar semua sekolah di Kecamatan Kanigoro bisa menerima anak-anak berkebutuhan khusus itu," pintahnya.

Baca juga: Peringati Harjasda ke 167, Gelar Doa Bersama 1000 Anak Yatim Sekaligus Santunan

Usai berkunjung ke Sidoarjo, rencananya ada kerja sama khusus untuk memberi pelatihan dan pendampingan. Karena masih banyak pendidikan di Blitar merasa belum siap menerima peserta didik bagi anak berkebutuhan khusus. Untuk itu, Yeti mengajak 14 kepala sekolah di tingkat sekolah dasar, 2 kepala sekolah taman kanak-kanak dan 4 kepala sekolah di tingkat sekolah menengah pertama ikut bersamanya studi lapangan ke Sidoarjo.

"Kami mengakui Sidoarjo lebih dulu menerapkan pemerataan pendidikan inklusi. Yakni sejak Tahun 2009. Sementara di Blitar dimulai pada Tahun 2015 dengan mengacu pada SK Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan baru dilaksanakan," tegasnya.

Baca juga: Sudah Jadi BB Mabes Polri, Somasi Bupati Sidoarjo Soal Pengembalian 3 Sertifikat Langsung Ditanggapi Rahmat Muhajirin

Sementara menanggapi itu, Kepala SMPN 4 Sidoarjo, Qodim menegaskan anak-anak berkebutuhan khusus menyimpan banyak berkah dari Tuhan Yang Maha Esa.

"Seandainya tidak ada anak-anak hebat (sebutan anak inklusi), SMPN 4 Sidoarjo ini tidak sebesar sekarang ini," tandasnya. Fah/Hel/Waw

Editor : Redaksi

Peristiwa
Berita Terpopuler
Berita Terbaru