Sidoarjo (republikjatim.com) - Polemik pendirian bangunan tower seluler provider XL di lingkungan wilayah RW 05 Desa Kedungbocok, Kecamatan Tarik, Sidoarjo mendapat tanggapan pihak Pemerintah Desa (Pemdes) Kedungbocok, Kecamatan Tarik, Sidoarjo. Protes pembangunan tower itu berawal dari warga sekitar yang tidak tahu menahu soal pembangunan tower dan berdalih tidak ada sosialisasi.
Kepala Dusun Kedungbocok Wetan, Bagus mengatakan acuan rapat pembangunan tower yang diundang warga yang rumahnya radius 50 meter dari tower. Sedangkan untuk rumah Jumeno panggilan akrabnya abah Meno lebih dari radius 50 meter dari tower, makanya tidak diajak dan diundang dalam rapat sosialisasi itu.
"Manajemen tower sendiri waktu bertemu, kami sampaikan keinginan warga yang tidak terdampak radius 50 meter untuk diundang sosialisasi. Malah pihak tower bilang pekerjaan yang diurusi bukan hanya ini saja. Kalau ada waktu (longgar) akan diundang," ujar Bagus, Kamis (29/04/2021).
Setelah beberapa pekan, akhirnya pihak tower mengundang sendiri di salah satu rumah warga sekitar. Bahkan ikut hadir RT, RW dan BPD untuk menyaksikan sosialisasi tower itu. Waktu sosialisasi masalah tower di rumah RT 09 bukan dirinya tidak mau hadir (setingan). Akan tetapi karena waktu itu bersamaan ada acara penting yang tidak bisa diwakilkan yakni Bimtek.
"Sekitar pekan lalu, saat saya sosialisasi tower ke warga lingkungan yang terdampak radius 50 meter di balai desa pendirian tower tak masalah asal ada beritahu dahulu," katanya.
Baca juga: Peringati Harjasda ke 167, Gelar Doa Bersama 1000 Anak Yatim Sekaligus Santunan
Secara terpisah, Koodinator Lapangan Masyarakat Peduli Lingkungan, Jauhar Mukhlas menanggapi hal ini menilai sosialisasi Pemdes itu seperti apa dan siapa saja yang terdampak. Alasannya, rumahnya saja yang berada di depan lokasi pembanguan tower dianggap tidak terdampak itu dasarnya juga seperti apa?
"Saya sendiri tidak tahu pasti spesifikasi teknis bangunannya dan sesuai atau tidak juga saya tidak tahu. Mala katanya Camat Tarik sudah merekomendasi berdirinya tower itu. Kalau terlanjur seperti ini Camat harus bertanggung jawab. Karena sudah memberikan rekomendasi izin ke pihak pemerintah desa dan pihak kontraktor untuk melanjutkan pembangunan tower ini," tegasnya.
Padahal kata Jauhar, dirinya sebagai warga tidak pernah ada sosialisasi sama sekali dari warga RT 09. Dirinya memastikan, kalaupun ada sosialisasi itu hanya sebuah settingan agar terlihat seakan-akan sudah mendukung proyek pembangunan tower itu.
"Masalah Abah Meno (saya) sendiri yang ikut sosialisasi waktu itu kenapa sampai keluar (Walk Out). Karena Abah saya merasa buat apa ada musyawarah sosialisasi kalau sudah ada keputusan. Itu yang terkesan sudah settingan," tandasnya. Hel/Waw
Editor : Redaksi