Gugat Historiografi Lewat Sarasehan Budaya di Wonoayu, Sidoarjo Ibu Kota Majapahit, Karangpuri Jadi Pusatnya

republikjatim.com
SARASEHAN - Suasana Pendopo H As'ari di Desa Pilang, Kecamatan Wonoayu menjadi saksi bisu berkumpulnya pegiat budaya, akademisi, pejabat desa dan warga bertema Nguri-Uri Kebudayaan Jawi, Nyambung Paseduluran, Sabtu (08/08/2026) malam.

Sidoarjo (republikjatim.com) - Suasana Pendopo H. As'ari di Desa Pilang, Kecamatan Wonoayu, Sidoarjo, menjadi saksi bisu berkumpulnya para pegiat budaya, akademisi, pejabat desa dan masyarakat lokal. Mengusung tema “Nguri-Uri Kebudayaan Jawi, Nyambung Paseduluran”, acara Sarasehan Budaya ini melempar hipotesis mencengangkan yang menggugat keyakinan sejarah nasional. Yaini Ibu Kota Kerajaan Majapahit diduga kuat berada di Sidoarjo, bukan di Trowulan, Mojokerto.

​Peneliti budaya asal Yogyakarta, Seto (Kak Seto), hadir membawa sudut pandang baru berdasarkan pembacaan ulang Kitab Nagarakretagama, Naskah Bujangga Manik dari abad ke-15 hingga Kidung Sunda. Banyak deskripsi spasial dalam teks kuno yang tidak cocok dengan lanskap Trowulan, seperti keberadaan lapangan Bubat, Kraton dan Alun-Alun.

Baca juga: Dari Desa Pinggiran Sidoarjo Menuju Panggung Nasional, Kisah Aprilia Aisatus Zahira Srikandi SMPN 1 Prambon di Jamnas

​"Kitab Nagarakretagama secara spesifik menyebut kawasan Dermo Negoro (Candi Dermo), Krian, hingga Wonoayu. Artinya, narasi besar Kertagama sebenarnya membicarakan Sidoarjo, bukan Mojokerto," ungkap Kak Seto di hadapan para peserta sarasehan yang sebagian besar berasal dari Desa Candinegoro, Plaosan dan Desa Karangpuri ini.

Kak Seto menambahkan, penetapan Trowulan sebagai ibu kota Majapahit diawali oleh penjelajahan Thomas Stamford Raffles di abad ke 19 dan dilanjutkan oleh konstruksi arkeolog Belanda, Henri Maclaine Pont, pada tahun 1935 bersama Bupati Mojokerto ke-3, Kromojoyo.

​"Sekarang Trowulan diajukan ke UNESCO untuk warisan dunia. Tapi, fakta geologis dan literatur sejarah justru mengarah kuat pada wilayah Sidoarjo sebagai pusat peradaban kuno. Padahal, perspektif penelitian saya Justru pusat Kota Majapahit ada di Desa Karangpuri dan Candi Negoro itu sendiri. Nama Karangpuri merujuk pada pusat kota kerajaan," tegasnya.

​Argumentasi itu, diperkuat oleh bukti geologis pembentukan wilayah Kota Delta. Dari abad ke 11 hingga ke 12, fenomena tanah oloran (endapan aluvial) menciptakan daratan baru di Sidoarjo seluas 15 meter setiap 40 tahun. Terdapat kawasan Rawa Pulo 1 (meliputi Prambon, Tulangan, Krembung, Jabon, Tanggulangin, Porong) dan Rawa Pulo 2 (Bulang).

"​Banyak jejak peradaban masa lalu yang hilang akibat bencana geologis seperti likuefaksi di masa purba," ungkapnya.

Salah satu buktinya adalah ditemukannya bangunan kuno yang tertimbun di Semambung, Gedangan serta penemuan koin Tiongkok berusia 1.000 tahun di kedalaman 15 meter saat penggalian pondasi Stasiun Sidoarjo. Penemuan koin dan bangkai kapal karam ini mengindikasikan Sidoarjo pada masa lalu merupakan daerah pesisir dan pelabuhan dagang internasional.

Baca juga: Bangun Karakter Generasi Muda Sejak Dini, Bunda PAUD Sidoarjo Dorong Pembiasaan Lewat Prasiaga Pramuka

​"Hampir seluruh jejak kerajaan besar, mulai dari Jenggala, Kahuripan hingga Majapahit, melintasi dan berpusat di wilayah Wonoayu, Krian serta sekitarnya," tambah Seto.

Sementara inisiator acara yang juga anggota Fraksi PKB DPRD Sidoarjo, H Atok Ashari menegaskan pentingnya keberanian lokal untuk menyuarakan fakta sejarah ini. Melalui sarasehan ini, tiga desa kunci yakni Desa Candinegoro (lokasi Candi Dermo), Plaosan (Candi Plaosan) serta Desa Karangpuri didorong untuk merajut narasi sejarah bersama untuk membuat Ikon khusus Kecamatan Wonoayu yang mengakar dari sejarah.

​"Nama Karangpuri sendiri secara etimologi berarti Kompleks Perumahan Ibu Kota. Ini awal mula kita mewiti (memulai). Mumpung ada pegiat budaya, mari kita gali bersama secara rutin setiap bulan yang selalu ada perkembangannya," pinta Atok Ashari penuh semangat.

Bagi Atok yang juga menjabat sebagai anggota Komisi B DPRD Sidoarjo ini berharap ada penelusuran sejarah. Harapannya, forum ini juga menyepakati beberapa langkah strategis pemajuan kebudayaan local.

Baca juga: Cairkan Ketegangan Politik, Tim Bupati Dihajar DPRD Sidoarjo dengan Skor 3 - 1 Saat Berlaga di Stadion Gelora Delta

"Misalnya ada Tari Sambutan di Wonoayu. Mengingat Candi Dermo diyakini sebagai pendermaan dan gerbang/batas kota, seni tari khusus akan diperjuangkan ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan sebagai ikon resmi Kecamatan Wonoayu," harapnya.

Bagi anggota DPRD Sidoarjo dari Dapil III Kecamatan Wonoayu, Tulangan, Prambon dan Kecamatan Krembung ini beberapa kegiatan saat ini terarah ke kegiatan budaya dan tradisional. Misalnya soal Pasar Lawasan diantaranya mendorong terciptanya kembali pasar bernuansa tempo dulu seperti Pasar Kramat Mojokerto yang menggunakan koin kayu/terakota sebagai alat transaksi. Begitu pula saat di Bandung, Jawa Barat.

"Sehingga Wonoayu bisa punya ikon baru bagi Kota Delta," ungkapnya.

​Sementara sarasehan Budaya Wonoayu ini menjadi langkah awal dari gerakan lokal untuk meluruskan sejarah. Dari Desa Pilang dan bentangan situs di Wonoayu, masyarakat Sidoarjo kini siap membuka tabir peradaban besar Nusantara yang selama ini tersembunyi di bawah tanah Kota Delta ini. Ary/Waw

Editor : Redaksi

Peristiwa
Berita Terpopuler
Berita Terbaru