Sidoarjo (republikjatim.com) - Ribuan siswa dan siswi SMK YPM 8 Sidoarjo mulai kelas 10, 11 dan kelas 12 memperingati Hari Pahlawan Nasional yang jatuh pada 10 Nopember 2025. Ribuan siswa bersama para guru itu, memperingati Hari Pahlawan dengan mengenakan pakaian ala jaman perjuangan dan kemerdekaan.
Selain itu, mereka juga menggelar pawai budaya dengan keliling Desa Sarirogo, Kecamatan Sidoarjo dengan start dan finish di halaman SMK YPM 8 Sidoarjo. Tidak hanya itu, dalam memaknai dan menyambut Hari Pahlawan juga diramaikan dengan berbagai perlombaan antar siswa dan antar kelas. Yakni mulai lomba Fashion Show, puisi dan lomba desain kelas diantara kelas yang ada di sekolah berlantai 5 yang ada di JL Raya Sarirogo, Kecamatan Sidoarjo itu.
"Pawai dan kegiatan lainnya yang digelar hari ini sebagai peringatan sekaligus memaknai peringatan Hari Pahlawan 10 November," ujar Waka Kesiswaan SMK YPM 8 Sidoarjo, Muhammad Hasan Qodari kepada republikjatim.com, Senin (10/11/2025) di sela acara pawai.
Lebih jauh, guru yang akrab disapa Hasan Qodari ini mengungkapkan dalam peringatan Hari Pahlawan itu, hampir semua aspek dilibatkan. Termasuk, masyarakat agar semua bagian bisa saling support, termasuk tim kesehatan dan lainnya. Harapannya. agar semua bisa saling melengkapi.
"Peserta kegiatan hari ini, diikuti sekitar 1.400 siswa dari kelas 10, 11, dan kelas 12. Pawai budaya ini, puncak Hari Pahlawan karena sebelumnya 2 hari yang lalu, juga digelar perlombaan
Pemilihan Mas dan Mbak dari masing-masing kelas untuk persiapan menjadi Duta Sekolah. Selain itu, ada unjuk Kreasi masing-masing kelas (seni, drama) sebagai bentuk apresiasi seni, menunjukkan hasil kerja siswa dalam memaknai Hari Pahlawan 10 Nopember 2025," ungkapnya.
Karena itu, usai acara Pawai Hari Pahlawan 10 Nopember juga akan diikuti dengan pembagian hadiah sebagai hasil berbagai perlombaan. Berdasarkan kegiatan sebelumnya, pembagian hadiah lomba kelas terbaik dan maskot terbaik yang akan digelar setelah pawai.
"Kegiatan puncak ini agar para siswa bisa memaknai Peringatan 10 November hingga siswa mampu meneladani jasa para pahlawan dari semua aspek. Contoh Pahlawan pendiri sekolah NU, selain pendiri juga Pahlawan Nasional, tokoh agama sekaligus seorang Kiai dan seorang TNI seperti KH Hasyim Asyari. Beliau, tidak hanya menekankan peran kiai yang penting dalam proses terjadinya peristiwa 10 November. Bahkan, beliau disebutkan bisa menahan serangan pada tanggal 7 November untuk ditunggu sampai tanggal 10 Nopember. Karena menunggu para kiai lainnya yang mampu menurunkan pesawat dan memadamkan bom," tegasnya.
Baca juga: Peringati Harjasda ke 167, Gelar Doa Bersama 1000 Anak Yatim Sekaligus Santunan
Sementara Kepala SMK YPM 8 Sidoarjo, Dr Kisyanto menegaskan jika Hari Pahlawan 10 Nopember itu, penekanannya pada peran Resolusi Jihad dan pentingnya memperingati Hari Pahlawan 10 November. Bagi Kisyanto, Puncak Resolusi Jihad adalah ditekankan Resolusi Jihad menjadi keputusan dari tokoh-tokoh utama, khususnya tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama (NU) dan tokoh-tokoh nasional lainnya hingga puncaknya terjadi perang di Jembatan Merah 10 November itu.
"Bagi kami pentingnya peringatan Hari Pahlawan agar jangan sampai dibiarkan berlalu tanpa peringatan atau tanpa mengingatkan anak-anak, maka nilai atau semangat juang para pahlawan akan luntur. Karena itu, setiap tahun kegiatan ini diperingati dengan meriah di SMK YPM 8 Sidoarjo," ungkap Kisyanto.
Karena itu, lanjut Kisyanto yang juga menjabat sebagai Ketua MKKS SMK Swasta Jawa Timur ini SMK YPM 8 Sidoarjo berupaya semaksimal mungkin setiap tahun menggelar peringatan Hari Pahlawan itu. Hal ini agar dapat mencerminkan dan mengingatkan peserta didik soal perjuangan para pahlawan dalam merebut kembali Kemerdekaan NKRI.
"Tujuannya, untuk menanamkan semangat Arek-Arek Suroboyo dalam merebut kembali kemerdekaan dari penjajah yang saat itu dimotori oleh para sekutu di Surabaya. Termasuk
peran para santri dalam peperangan itu melibatkan para santri. Apalagi,
perintah (komando) untuk resolusi jihad datang dari Jombang (KH Hasyim Asy'ari). Perintah itu direspons Arek - Arek Suroboyo yang mayoritasnya juga santri hingga hari itu, tidak ada lagi dikotomi santri dan non-santri hingga pecahnya perang besar di Jembatan Merah itu," paparnya.
Begitu pula peran dari Bung Tomo. Saat itu, Bung Tomo sebagai sosok yang mampu memotori pergerakan termasuk juga mendapatkan motivasi dari KH Hasyim Asyari Jombang.
"Seketika itu peperangan berdampak nasional: Peristiwa perang itu, mampu menggerakkan masyarakat Surabaya, bahkan generasi muda dari seluruh Indonesia datang ke Surabaya hanya bermodalkan semangat dan
perjuangan yang disatukan dengan pekikan Allahu Akbar, Merdeka!," pungkasnya. Ary/Waw
Editor : Redaksi