Sidoarjo (republikjatim.com) - Pasangan Calon (Paslon) Bupati dan Wakil Bupati Sidoarjo, Bambang Haryo Soekartono dan M Taufiqulbar (BHS - Taufiq) mendatangi pabrik pembuatan shuttlecocks di Desa Wedoroklurak, Kecamatan Candi, Sidoarjo, Rabu (25/11/2020). Dalam kunjungan itu, Cabup Nomor urut 1 BHS disambati soal persaingan harga jual pemilik merek dan produsen shuttlecocks yang tidak mengantongi perizinan.
Selain itu, BHS yang juga mantan anggota DPR RI periode 2014 - 2019 ini juga disambati soal bahan baku. Hal ini lantaran bahan baku utama pembuatan shuttlecocks hampir 95 persen berasal dari Cina.
"Dua persoalan utama itu yang menjadi kendala kami selama memproduksi shuttlecocks selama puluhan tahun terakhir," ujar Samsul, Pengelola Java Shuttlevocks milik Gunadi ini.
Menurut Samsul, bahan baku utama shuttlecocks 95 persen hasil impor dari Cina. Diantaranya, bulu, dop maupun lemnya berasal dari Cina. Sisanya 5 persennya adalah pembungkus yang bisa dibeli di Indonesia. Baginya, perpindahan bahan baku dari Cina ke Indonesia ini harus melalui importir. Sedangkan importir bahan baku tak mau menaungi produsen shuttlecocks.
"Saat kami bahan baku harus impor dengan harha mahal dan sulit didapat, saat penjualan (pemasaran) bersaing dengan produsen lain yang menjual lebih murah karena industri rumahan tak menggunakan izin dan hanya mengandalkan merek," imbuhnya.
Rata-rata produsen shuttlecocks yang belum mengantongi perizinan itu adalah mantan karyawan pabrik shuttlecocks yang sudah dirintis kakek dan ayahnya sejak Tahun 1982 dan besar di Tahun 1995 silam itu.
"Harusnya ada asosiasi agar produsen lain tak menjual lebih murah. Kami tak melarang mereka berproduksi shuttlecocks tapi aturan pemerintah harus dijalankan. Kami tak bisa menjual dengan harga rendah karena punya standar harga," tegasnya.
Sementara Cabup Sidoarjo, BHS yang berpasangan dengan Taufiq di Pilkada 9 Desember 2020 mendatang menegaskan bakal membantu agar produsen shuttlecocks harus bisa impor sendiri bahan baku. Akan tetapi, konsekuensinya produsen juga harus bisa eksport hasil produksinya keluar negeri. Hal ini agar tidak dimainkan dan dimonopoli importir bahan baku.
"Kami juga akan mendorong peternak angsa bisa menyediakan bahan baku. Karena bulu angsa Indonesia hasilnya lebih baik 10 kali lipat dibandingkan bulu import dari Cina itu," jelasnya.
Selain itu, BHS - Taufiq bakal mendorong masyarakat Sidoarjo semakin menggemari olahraga bulu tangkis. Hal ini agar produksi shuttlecocks semakin meningkat. Bahkan bakal difasilitasi sarana dan prasarannya serta pelatihnya. Hal ini untuk mencari bibit-bibit unggul pemain bulu tangkis yang sudah dikenal Indonesia sebagai juara dunia dan asia.
"Kami juga akan memfasilitasi adanya asosiasi produsen shuttlecocks agar bisa menyediakan bahan baku sendiri dan membuat standarisasi harga jual shuttlecocks di pasaran. Sekaligus membantu agar yang tak berizin bisa segera mengurus perizinannya," tandasnya. Hel/Waw
Editor : Redaksi