Malang (republikjatim.com) - Pakan sering kali menjadi "momok" menakutkan bagi para pembudidaya ikan lele karena memakan porsi hingga 60-70 persen dari total biaya operasional. Menjawab tantangan itu, tim pengabdian masyarakat (Abdimas) dari Program Studi Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya (FPIK UB) turun tangan mendampingi Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Barokah Jaya di Mangliayan, Pakis, Kabupaten Malang.
Mengusung tema Pemberdayaan Kelompok Pembudidaya Ikan Lele melalui Penerapan Manajemen Budidaya Berbasis Efisiensi Pakan, program ini diketuai Wahyu Endra Kusuma, S.Pi., MP., D.Sc dengan melibatkan jajaran dosen serta mahasiswa FPIK UB.
Aktivitas utama dalam pendampingan ini, berfokus pada pengenalan teknologi fermentasi pakan. Selama ini, banyak peternak yang memberikan pakan hanya berdasarkan kebiasaan atau intuisi tanpa perhitungan matang. Akibatnya, pakan banyak terbuang, kualitas air menurun dan modal membengkak.
Zulkisam Pramudia, dosen Budidaya Perairan FPIK UB sekaligus pelaksana program Abdimas mengatakan efisiensi pakan adalah kunci utama keberhasilan bisnis lele. Bahkan, dalam budidaya lele, pakan merupakan komponen biaya yang sangat besar.
"Melalui kegiatan ini, kami mendampingi Pokdakan Barokah Jaya dalam menerapkan manajemen pakan yang lebih efisien. Termasuk, melalui pelatihan fermentasi pakan sebagai salah satu upaya meningkatkan efektivitas penggunaan pakan," ujar Zulkisam kepada republikjatim.com, Senin (06/07/2026).
Tidak hanya teori saja, para peternak skala kecil hingga menengah yang dipimpin oleh Achmad Sugiyono ini langsung diajak mempraktikkan beberapa hal teknis di lapangan. Diantaranya seperti pengaturan dosis dan frekuensi pemberian pakan yang presisi, pemantauan biomassa ikan dan evaluasi Feed Conversion Ratio (FCR),
manajemen kualitas air kolam agar tetap ideal bagi pertumbuhan lele dan
pencatatan data pertumbuhan ikan secara berkala.
"Langkah nyata FPIK UB ini, bukan sekadar aksi sosial biasa, melainkan kontribusi strategis dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) atau ketahanan pangan secara nasional," paparnya.
Dalam pendampingan ini, setidaknya ada lima poin poin SDGs yang disasar atau menjadi targetnya. Yakni
SDGs 1: Tanpa Kemiskinan (No Poverty) – lewat peningkatan pendapatan peternak.
SDGs 2: Tanpa Kelaparan (Zero Hunger) – penyediaan ketahanan pangan berbasis protein ikan.
SDGs 4: Pendidikan Berkualitas (Quality Education) – transfer ilmu dari kampus ke masyarakat.
SDGs 14: Ekosistem Lautan (Life Below Water) – praktik budidaya air tawar yang ramah lingkungan.
SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan (Partnerships for the Goals) – sinergi akademisi dan warga.
"Mudah-mudahan semua teori dan praktek yang sudah kami sampaikan bersama tim, bisa ditiru para peternak lele maupun jenis ikan lainnya di Malang. Harapannya, bisa menjadikan pembudidaya ikan bisa survive dan perkembangan pesat," tegasnya.
Sementara Ketua Pokdakan Barokah Jaya, Achmad Sugiyono mengaku sangat terbantu dengan kehadiran tim dari Universitas Brawijaya (UNIBRAW) ini. Menurutnya, edukasi ilmiah seperti ini adalah hal yang dinantikan kelompoknya yang selama ini hanya mengandalkan pengalaman otodidak.
"Dengan adanya pendampingan dari FPIK UB, kami mendapat tambahan ilmu tentang cara menghitung kebutuhan pakan, mengatur pemberian pakan, menjaga kualitas air dan mengenal fermentasi pakan. Ini sangat membantu kami agar budidaya lele bisa lebih efisien dan hasilnya lebih baik," ungkap Achmad.
Selain itu, Ia pun berharap kemitraan ini dapat terus berlanjut secara berkesinambungan.
"Apalagi, melalui program ini, FPIK UB berharap Pokdakan Barokah Jaya dapat tumbuh menjadi kelompok yang mandiri, produktif, mampu menekan biaya produksi sekecil mungkin serta tetap menjaga kelestarian lingkungan sekitarnya," pungkasnya. Rit/Waw
Editor : Redaksi