Sidoarjo (republikjatim.com) - Proses pemindahan imigran dari Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Surabaya di Bangil ke Rumah Susun Sederhana (Rusunawa) Puspa Agro, Desa Jemundo, Kecamatan Taman, Sidoarjo belum selesai. Kedatangan petugas International Organization for Imigration (IOM) dari pusat, Jakarta serta petugas Direktorat ke lokasi belum membuahkan hasil. Hal ini disebabkan ratusan imigran lama penghuni Rusunawa Puspa Agro menolak kehadiran 65 imigran pindahan yang masih senasib dengan mereka.
Dalam proses pemindahan ke Rusunawa Puspa Agro sempat terjadi suasana tegang antara Imigran penghuni Rusunawa dan Imigran dari Rudenim Surabaya di Bangil. Alasan penghuni lama karena kamar sudah sesak.
Hingga Jumat (24/08/2018) malam, suasana pemblokiran oleh penghuni lama terus berjalan. Puluhan imigran penghuni lama memblokir pintu masuk Rusunawa. Sedangkan 65 imigran sudah terlanjur dikirim dari Rudenim. Mereka merasa kecewa karena ditolak imigran yang senasib itu.
Karena itu, pihak IOM dan Imigrasi yang bertugas akhirnya hendak membawa kembali para Imigran ke Rudenim Bangil, Kabupaten Pasuruan. Namun suasana tegang justru memuncak lantaran mereka menolak dikembalikan lagi ke Rudenmi. Aksi tarik-menarik antara petugas Imigrasi dan para imigran terjadi saat petugas memaksa mereka masuk ke dalam bus. Saat ketegangan itu, para imigran bersikukuh tidak mau dibawa kembali ke Rudenim. Satu diantara mereka mengalami pingsan akibat aksi tarik-menarik itu.
"Mereka tidak mau dikembalikan ke Rudenim. Di Puspa Agro, teman senasibnya tidak mau kalau mereka tinggal di Puspa Agro. Disini 1 kamar berisi 2 orang tapi mereka tidak mau ditambah satu orang lagi dengan alasan kamar tambah sesak dan tambah bikin stres," kata Ramadhan Koordinator Rusunawa Puspa Agro kepada republikjatim.com, Jumat (24/08/2018) di lokasi.
Terpaksa petugas membawa kembali barang-barang milik para imigran ini ke Rudenim. Namun mereka tetap merelakan barang-barang seperti koper, tas dan barang lainnya diangkut menggunakan bus polisi. Tapi mereka enggan diangkut kembali ke Rudenim.
"Repot, mereka tetap tidak mau kembali ke Rudenmi, mereka lebih memilih tidur di luar pagar Puspa Agro dari pada kembali ke Rudenim sambil menunggu kebijakan baru," imbuhnya.
Untuk mengatasi persoalan ini, perwakilan Dirjen Imigrasi Indonesia dari Jakarta, Iman dan perwakilan Central Region Coordinator and Senior Programme Officer IOM, Dejan Micevski mendatangi Rusunawa Puspa Agro untuk berdialog dengan para imigran penghuni lama. Dialog di depan Lobi Rusunawa ini tidak ada titik temu. Dalam dialog dengan ratusan imigran penghuni lama, Iman sudah memberikan pencerahan tapi mereka tetap menolak hingga mengeluarkan foto-foto kejadian di negaranya.
"Kami ini menolong kalian di Indonesia. Mereka yang masuk kesini itu juga teman senasib kalian. Kenapa kalian menolak. Apa kalian tidak kasihan melihat mereka," tegas Iman kepada para imigran.
Salah seorang imigran asal Afganistan, Syam (27) mengaku dirinya dan penghuni lainnya menolak karena satu kamar sudah berisi dua orang. Menurut kamarnya sudah terasa sesak karena kebanyakan penghuni itu.
"Dua orang saja sesak jangan ditambah lagi. Sebelumnya kami sudah tidak mau ada penambahan orang karena sudah cukup dua orang satu kamar. Tapi ini tiba-tiba dibawa kesini oleh IOM. Kami bisa stres kalau kebanyakan orang," katanya.
Sementara, Central Region Coordinator and Senior Programme Officer IOM, Dejan Micevski mengaku tidak bisa memberikan pernyataan resmi. Menurutnya, persoalan ini akan tetap dirundingkan dengan UNHCR dan terus memberi arahan kepada Imigran lama yang sudah tinggal di Rusunawa Puspa Agro.
"Saya tidak bisa berkomentar soal pemindahan para imigran ini. Hasil diskusi dengan para Imigran lama hari ini belum ada hasilnya. Kami akan berdiskusi dengan pihak UNHCR untuk langkah selanjutnya," tandasnya.
Diketahui, para imigran yang ditampung di Rudenim Surabaya di Bangil, Pasuruan ini berasal dari Afganistan, Sudan, Ethiopia, Sri Lanka, Syiria, Myanmar dan Pakistan. Beberapa imigran menginginkan kepastian pihak UNHCR untuk segera dipindah ke negara ketiga. Hingga proses pemindahan selesai, petugas Polresta Sidoarjo, Polsek Taman dan Koramil Taman tetap disiagakan untuk menjaga ketertiban dan keamanan. Waw
Editor : Redaksi