BHS - Taufiq Upayakan Sepatu Produk Perajin Sidoarjo Tembus Pasar Ekspor


BHS - Taufiq Upayakan Sepatu Produk Perajin Sidoarjo Tembus Pasar Ekspor SEPATU - Cabup Sidoarjo, Bambang Haryo Soekartono (BHS) berdialog dengan pemilik pabrik sepatu Denawari, Nanang Ariyanto dan karyawannya untuk memastikan UMKM produsen sepatu tetap berproduksi di masa pandemi Covid-19, Kamis (08/10/2020).

Sidoarjo (republikjatim.com) - Pasangan Calon (Paslon) Bupati dan Wakil Bupati Sidoarjo, Bambang Haryo Soekartono - M Taufiqulbar bakal berupaya para perajin sepatu yang ada di Sidoarjo, hasil produksinya mampu menembus pasar ekspor. Hal ini, lantaran selama ini hasil produksi sepatu asal Sidoarjo lebih banyak diminati masyarakat dari luar daerah.

Selain itu, juga bakal disiapkan pengembangan pemasaran sebagai upaya mendongkrak pendapatan, mulai memibatkan Aparatur Sipil Negara (ASN) dan kalangan industri. Serta bakal melaksanakan pendampingan untuk pemasaran secara online.

"Kami mendorong seluruh produsen sepatu di Sidoarjo menembus pasar Surabaya, Mojokerto, Gresik dan Pasuruan. Karena 4 kabupaten/kota tetangga itu UMK hampir sama dengan Sidoarjo. Itu menjadi tanggung jawab Pemkab Sidoarjo untuk mendorong pengembangan pasar. Saya berkeinginan sepatu Sidoarjo mampu menembus pasar nasional maupun internasional. Minimal mampu menempus pasar Asia Tenggara," ujar BHS kepada republikjatim.com, Kamis (08/10/2020) saat berkunjung ke Pabrik Sepatu Denawari, Kelurahan Juwetkenongo, Kecamatan Porong, Sidoarjo.

Pengembangan pasar itu, kata BHS bukan tanpa sebab nyata. Hal ini berdasarkan kualitas produksi sepatu Denawari standarisasinya sama dengan produk sepatu luar negeri. Misalnya produk sepatu Italia maupun Amerika. Apalagi juga ada jaminan kekuatan tidak ada tandingannya. Bahkan garansinya disiapkan selama satu tahun jika ada keluhan lemnya lepas.

"Saya patut mengapresiasi produsen sepatu ini. Karena sudah masuk kelompok UMKM yang mampu menunjukkan serapan tenaga kerjanya luar biasa yakni sudah 30 karyawan. Ini yang perlu pemerintah lindungi terutama dari sisi kesulitan yang dihadapi di tengah masa pandemi. Terutama soal masalah permodalan," imbuhnya.

Karena itu, BHS berharap sebelum dirinya menjadi Bupati Sidoarjo, Pemkab Sidoarjo mau menyelesaika sejumlah persoalan yang dihadapi para perajin sepatu itu. Misalnya soal resceduling cicilan bagi UMKM yang sudah terlanjur meminjam bantuan lewat program Kredit Usaha Rakyat (KUR) selama pandemi.

"Terutama bagi UMKM yang selama ini pembayaran cicilannya tergolong tertib dan disiplin. Akan tetapi, sejak ada pandemi omzetnya mengalami penurunan," tegasnya.

Bagi Cabup nomor urut 1 yang juga mantan anggota DPR RI ini, untuk pengembangan pihaknya bakal mendorong 14.000 Aparatur Sipil Negara (ASN) menggunakan sepatu produk kerajinan asal Sidoarjo. Caranya dengan mewajibkan ASN menggunakan sepatu produk lokal. Begitu juga dengan 950 perusahaan besar dan menengah juga akan diwajibkan memanfaatkan sepatu produk lokal.

"Kami juga akan siapkan soal pembagian jika ada permintaan makin besar. Yakni dengan syarat berdasarkan kualitas dan mutu yang memenuhi standarisasi. Termasuk soal pemasaran digital bakal didampingi," jelasnya.

Sementara pemilik pabrik sepatu Denawari, Anang Ariyanto mengaku produk sepatunya sudah menembus pasar Jakarta, Bandung, Semarang, Solo, Yogyakarta dan Bali. Akan tetapi, sekarang permintaannya menurun drastis lebih dari 50 persen sejak pandemi Covid-19.

"Sekarang ada 12 pekerja biasanya ada lebih 30 pekerja. Produk sepatu kami 90 persen diminati warga luar Sidoarjo dan 10 persennya konsumen dari Sidoarjo. Pandemi ini menurunkan omzet kami lebih 50 persen sejak 16 tahun pabrik sepatu ini berproduksi," tandasnya. Hel/Waw