Sidoarjo (republikjatim.com) - Perbaikan sejumlah ruas jalan yang ada di Sidoarjo mendapatkan apresiasi sekaligus tanggapan dari anggota Dewan Pakar DPP Partai Gerindra, Bambang Haryo Soekartono (BHS). Apresiasi diberikan lantaran sejumlah jalan berlubang bisa cepat diperbaiki menggunakan program dana Pagu Indikatif Wilayah Kecamatan (PIWK).
Sementara sejumlah masukkannya agar perbaikan jalan aspal dengan cara menambal jalan berlubang itu, tidak salah prosedur. Bahkan tidak sampai dikerjakan asal-asalan saat jalan masih tergenang air.
Baca juga: Gebyar Literasi Anak PAUD hingga SD Ikut Meriahkan Peringatan Harjasda ke 167 di Kota Delta
"Saya mengapresiasi perbaikan sejumlah ruas jalan di Sidoarjo. Karena bisa langsung dikerjakan dengan cepat. Sekaligus mengapresiasi program PIWK sejak masa kepemimpinan almarhum (Nur Ahmad Syaifuddin) itu. Tapi, pengerjaannya tetap harus dikerjakan sesuai tahapan dan dikerjakan orang punya sertifikasi dan profesional agar jalan tidak cepat rusak lagi," ujar BHS kepada republikjatim.com, Rabu (31/03/2021) sore saat melihat hasil perbaikan jalan di Desa Panjarpanji, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo.
Meski baru diperbaiki sekitar tanggal 10 Maret 2021 lalu, kondisi jalan aspal di Desa Banjarpanji itu, kondisi aspalnya sudah banyak yang memulai mengelupas dan memudar. Padahal, perbaikan jalan itu belum sebulan.
"Masih disayangkan, kalau kualitas perbaikannya tidak maksimal dan tidak seperti yang diharapkan. Kami hanya mengingatkan kalau pengaspalan jalan itu, ada prosedur yang harus dijalankan agar perbaikan jalan aspal maksimal dan kualitasnya cukup baik," imbuhnya.
Bagi BHS soal perbaikan jalan aspal, tidak hanya masalah kualitas materialnya saja. Akan tetapi, yang harus dipertimbangkan adalah Sumber Daya Manusia (SDM) yang dilibatkan dalam perbaikan harus memiliki kemampuan teknis, memiliki kualifikasi dan profesional dalam pengerjaan pengaspalan jalan.
"Tetap harus menggunakan prosedur pengaspalan yang tepat. Misalnya, sebelum diaspal, jalan harus dibersihkan, tidak boleh ada air, hingga aspal harus dipanasi untuk menghasilkan rekatan yang baik. Ketika saya masih di Komisi V DPR RI mengusulkan perlunya sertifikasi SDM dalam pekerjaan pengaspalan jalan," tegas mantan anggota Fraksi Partai Gerindra DPR RI ini.
Selain itu, lanjut Alumni Teknik Perkapalan ITS Surabaya ini, kondisi jalan yang berada di wilayah banjir setiap musim hujan, seharusnya tidak diaspal terlebih dahulu. Alasannya, jalan tergenang air jika diaspal bakal cepat rusak kembali. Pihaknya menyarankan agar jalan diurug terlebih dahulu saja.
Baca juga: Peringati Harjasda ke 167, Gelar Doa Bersama 1000 Anak Yatim Sekaligus Santunan
"Yang penting tidak membahayakan masyarakat (pengguna jalan). Makanya harus ada pemetaan perbaikan jalan. Termasuk juga mempertimbangan perbaikan saluran air sebagai penopang perbaikan jalan. Itu untuk menyempurnakan kualitas jalan yang diperbaiki menggunakan aspal. Karena aspal lawannya air," jelasnya.
Sementara itu, BHS juga menilai soal rencana pengecoran jalan di Sidoarjo. Baginya, jalan cor (rabat beton) tidak bisa diterapkan di semua jalan. Apalagi, di jalan yang sering tergenang air saat hujan akan memicu timbulnya lumut. Kondisi itu akan membuat jalan licin dan bisa membahayakan pengendara jalan.
"Belum lagi, biaya jalan cor beton itu juga lebih mahal dari jalan yang menggunakan aspal. Bahkan jalan cor kualitasnya tidak sebagus aspal, terutama untuk roda kendaraan yang melintas dengan kecepatan tinggi," tandas pemilik PT Dharma Lautan Utama (DLU) ini. Hel/Waw
Editor : Redaksi