Pandemi Covid-19 Dorong Kreatifitas Siswa Smamita Buat Tempat Sampah Sensor Otomatis

republikjatim.com
HASIL KARYA - Lima siswa Smamita menunjukkan hasil karyanya berupa prototipe tempat sampah otomatis berbasis arduino nano dan infrared senssor saat ujian praktek, Jumat (19/02/2021).

Sidoarjo (republikjatim.com) - Sebanyak 5 lima siswa SMA Muhammadiyah 1 Taman (Smamita) memembuat produk yang dibutuhkan warga selama masa pandemi Covid-19. Produk itu berupa sampah otimatis menggunakan sensor telapak kaki.

Ide itu muncul setelah adanya pandemi Covid-19 yang hampir berusia 1 tahun belakangan. Apalagi, pandemi Covid-19 berdampak hingga pada persendian perekonomian secara nasional dan internasional.

Baca juga: Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan, Anggota Fraksi PKB DPR RI Arzeti Bilbina Perkuat Nilai-Nilai Kebhinekaan Demi Persatuan

"Pandemi Covid-19 ini harus dilawan. Makanya, kami membuat tempat sampah otomatis biar saat membuang sampah tidak kontak langsung. Karena di tempat sampah tempat berkumpulnya berbagai kuman. Kemungkinan virus Corona juga tinggal di tempat sampah," ujar Ketua Tim Pembuatan Sampah Sensor Otomatis, M Dimas Bachrul Ulum kepada republikjatim, Jumat (19/02/2021).

Dimas yang tak lain siswa kelas 12 IPA V ini didampingi sejumlah anggotanya. Diantaranya, Ilham Rizqullah, Krisna Fatichal, Aditya Syahroni dan Rafi Al Zuhdi. Bagi Dimas tempat sampah sensor otomatis ini, bakal mencegah penyebaran Covid-19 dari orang ke orang lantaran virus Corona bisa tinggal di sampah dalam waktu tertentu.

"Kami berharap tempat sampah otimatis ini bisa mengurangi penyebaran Covid-19. Artinya kalau harapan itu tercapai maka kami (siswa Smamita) bisa membantu upaya pemerintah melawan penyebaran Covid-19," pintahnya.

Ditanya soal proses produksi tempat sampah sensor kaki otomatis itu, Dimas mengaku pembuatannya cukup lama. Yakni mulai awal Desember 2020 hingga hari ini ditampilkan dalam Ujian Project siswa dan siswi kelas 12.

Baca juga: Gebyar Literasi Anak PAUD hingga SD Ikut Meriahkan Peringatan Harjasda ke 167 di Kota Delta

"Sampai sekarang sudah jadi masih ada kendala sedikit. Misalnya karena tempat sampah ini harus stand by maka harus ada daya listrik permanen (tetap). Meksi kekuatannya 5 volt 2,5 ampere. Termasuk soal kendala teknis lainnya yang terus kami upayakan disempurnakan bersama tim," tegasnya.

Sementara Koordinator Ujian Project Siswa Smamita, Niar Wulandari Akbari menegaskan semua produk teknologi siswa kelas 12 itu sifatnya wajib di Smamita. Alasannya, karena ujian project menjadi pengganti Ujian Nasional (Unas) yang ditiadakan sejak beberapa tahun terakhir sejak adanya pandemi Covid-19. Terutama untuk siswa dan siswi kelas 12 Smamita.

"Semua produk siswa siswi kami ini digunakan menunjukkan hasil kreatifitas siswa. Bahkan bisa menjadi produk teknologi Smamita. Karena kami akan menilai pada asas manfaatnya bagi masyarakat. Misalnya, tempat sampah sensor otomatis ini dibutuhkan saat pandemi Covid-19. Begitu juga soal produk teknologi siswa lainya termasuk bisnis plan bisa dijadikan tambahan pemasukan selama pandemi Covid-19," ungkapnya.

Baca juga: Milad Emas ke 50, Smamda Sidoarjo Bertransformasi Menuju Outstanding School Sekaligus Siapkan Kelas Unggulan

Selain itu, lanjut Niar di Smamita semua siswa diwajibkan menghasilkan produk. Hanya saja bedanya untuk siswa kelas 10 dan 11 masih dalam tataran konsep dan belum final realisasinya. Akan tetapi bagi siswa kelas 12 diwajibkan bersamaan cara dan realisasinya.

"Realisasinya terserah ide para siswa bisa membuat teknologi makanan, bisnis plan dan media pembelajaran atau tentang media sosial (Medsos). Karena yang dinilai ada beberapa unsur. Mulai presentasi dan abstraksinya, cara pembuatan produknya, bentuk produknya serta nilai manfaatnya dibutuhkan masyarakat atau tidak," tandasnya. Hel/Waw

Editor : Redaksi

Peristiwa
Berita Terpopuler
Berita Terbaru