Sidoarjo (republikjatim.com) - Ratusan warga mengalami luka-luka dalam musibah bencana banjir di Kabupaten Sidoarjo. Sejumlah anggota Taruna Siaga Bencana (Tagana) Jawa Timur berusaha menyelamatkan para korban dengan pertolongan tanggap bencana. Aksi penyelanatan bencana banjir ini merupakan simulasi tanggap bencana di wilayah rawan banjir di Kecamatan Jabon. Banjir langganan itu karena adanya air kiriman dari wilayah Pasuruan menuju lima desa yang mengakibatkan ratusan rumah warga terendam serta mengalami luka-luka akibat besarnya bencana banjir.
Dalam acara puncak Tagana Jatim di lapangan Desa Dukuhsari, Kecamatan Jabon ini tidak hanya berisi simulasi penyelamatan korban banjir. Akan tetapi juga ada penyerahan hadiah kepada para pemenang lomba poster, kiatis serta melaunching Mobil Smart untuk aksi sosial kemasyarakatan.
Kepala Dinas Sosial Propinsi Jawa Timur, Dr Sukesi mengatakan ada sebanyak 60 personil petugas siaga bencana yang dibentuk Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur. Mereka diterjunkan untuk menolong warga yang terluka dan sakit saat bencana alam. Satgas Tagana selalu mencoba memberikan pertolongan dengan menanduh para korban banjir untuk di bawa ke posko banjir serta memberikan logistik bagi korban banjir.
"Dalam simulasi ini Pemkab Sidoarjo juga melantik ratusan anggota Tagana di Kecamatan Jabon untuk membantu para korban banjir. Di wilayah Jabon, ada lima desa yang setiap enam bulan sekali terendam banjir akibat hujan dan air kiriman dari Sungai Bangil Tag, Bangil, Kabupaten Pasuruan," katanya.
Oleh karena itu, lanjut Sukesi Dinas Sosial Propinsi Jawa Timur sengaja membentuk Kampung Siaga Bencana (KSB) sebagai model pendekatan penanggulan bencana berbasis masyarakat untuk berubah pola pikir dan pola tindak masyarakat dalam penanggulan bencana.Hal ini sebagai upaya mempersiapkan masyarakat agar lebih mampu mengelola kerentanan, ancaman dan resiko di wilayahnya sesuai potensi lokal melalui proses perencanaan.
"Kami sudah membentuk 31 kelompok Satgas bencana yang tersebar di beberapa Kabupaten di Jawa Timur salah satunya di Kabupaten Sidoarjo, ditempatkan di Jabon. Karena potensi bencananya cukup rawan termasuk semburan lumpur," ungkapnya.
Sementara Wakil Bupati Sidoarjo, Nur Ahmad Syaifuddin menegaskan pasukan Tagana ini sangat dibutuhkan. Ada sebanyak 1.600 Tagana dari Propinsi Jawa Timur. Tetapi Kampong Siaga Bencana dari daerah. Kader-kader dari daerah dilatih agar mereka terampil dan tahu apa yang harus dilakukan saat ada bencana. Bukan itu saja, Pemprop Jawa Timur juga memberikan fasilitas sesuai kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan.
"Kami sangat senang, bangga dan tetap bersinergi dengan semua pihak termasuk propinsi dalam menyikapi masalah bencana alam ini," ungkapnya.
Selain itu, Cak Nur mengungkapkan daerah rawan banjir sebenarnya di Jabon. Sedangkan di Bungurasih, Kecamatan Waru juga ada Kampung Siaga Bencana, akan tetapi bentukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).Tetapi kegiatan ini,adalah bentukan Propinsi Jawa Timur.
"Apapun alasannya, tetap bersinergi. Yang lebih penting agar tidak ada bencana lagi. Menyikapi persoalan banjir di Jabon selalu memohon kepada propinsi agar ada program-program penyelesaian persoalan banjir di Jabon," urainya.
Cak Nur menilai banjir di Jabon juga tugas Pemprop Jatim karena adanya sungai Bangil Tag, Bangil, Kabupaten Pasuruan yang berbatasan langsung dengan wilayah Kecamatab Jabon, Sidoarjo yang saat ini tidak terurus. Bahkan di lokasi banyak bangunan rumah warga.
"Sebetulnya jika terurus dengan baik, bukan hanya menangani persoalan banjir, tetapi menjadi potensi wisata serta kebutuhan air. Kami berharap mudah-mudahan kedepan menjadi perhatian. Karena persoalan ini, tidak bisa dilakukan Pemkab Sidoarjo saja tapi harus dengan pihak propinsi serta pemerintah Kabupaten Pasuruan," tandasnya. Waw
Editor : Redaksi