Sidoarjo (republikjatim.com) - Bakal Calon Bupati (Bacabup) Sidoarjo, Bambang Haryo Soekartono menyambangi Kampung Rumput Laut, Dusun Tanjungsari, Desa Kupang, Kecamatan Jabon, Sidoarjo, Rabu (15/07/2020). Dalam kunjungan itu, BHS disambati soal turunnya omzet nelayan rumput laut yang menurun hingga 30 sampai 40 persen sejak adanya pandemi Covid-19.
Tidak hanya itu, BHS juga disambati soal adanya Peraturan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Terutama soal Peraturan Menteri (Permen) Kelautan dan Perikanan (KP) Nomor 24 Tahun 2019 tertanggal 1 Juli soal Izin Pemanfaatan Air Laut. Apalagi, sejak sebulan terakhir sudah ada sekitar 3 petambak asal Kecamatan Jabon yang sudah dipanggil pihak kepolisian karena dianggap melanggar Permen KP itu.
"Sejak adanya virus Corona beberapa bulan lalu omzet rumput laut menurun sekitar 30 sampai 40 persen. Kami pun menggilir pengiriman pasokan dari 88 petani budidaya rumput laut. Karena banyak pabrik tak beroperasi sejak ada pandemi Covid-19 itu," ujar H Mustofa Ketua Kelompok Nelayan di Kampung Rumput Laut kepada republikjatim.com, Rabu (15/07/2020).
Selama ini, kata Mustofa dari 88 petani budidaya rumput lautnya itu mengolah sekitar 500 - 600 hektar tambak. Bahkan sebelumnya pengiriman rumput laut sebanyak apa pun ditampungnya. Akan tetapi, sejak adanya Covid-19 harus dibatasi lantaran permintaan rumput laut untuk perusahaan di Wonoayu (Sidoarjo), Pandaan (Pasuruan) dan Malang turun drastis. Bahkan untuk yang di Malang sempat tidak beroperasi karena virus Corona.
"Karena itu, petani tak boleh kirim dalam jumlah banyak dulu. Selama ini petani rumput laut maunya juga setelah rumput laut kering dikemas dan dikirim harus bisa langsung dibayar. Kami tak punya resi gudang untuk menampung pasokan rumput laut dalam jumlah banyak," imbuhnya.
Selain itu, kata tokoh masyarakat Jabon ini kendala terbesar yang dirasakan petani tambak adalah peraturan soal petambak tidak diperbolehkan memasukkan air laut ke saluran tambak sebelumnya ada izinnya. Padahal, petani tambak tak tahu menahu sama sekali soal peraturan itu.
"Peraturan itu mengguncang semua petani tambak di Jabon. Karena ujuk-ujuk petambak dipanggili petugas Polda karena pakai air laut. Padahal, peraturan itu tanpa adanya sosialisasi. Sebulan lalu sudah ada 3 sampai 4 petambak dipanggil Polda. Ini meresahkan petani tambak," tegasnya.
Persoalan lainnya, kata Mustofa pihaknya membutuh resi gudang. Hal itu bisa terealisasi saat ada kerjasama antara Pemkab Sidoarjo dan perbankan. Tujuannya agar produksi rumput laut dari petani bisa ditampung berapa pun jumlahnya.
"Kalau bisa ada resi gudang lebih enak. Itu kerjasama bank dan pemerintah. Apalagi, sejak bantuan permodalan Kredit Usaha Rakyat (KUR) sudah tidak adalagi sejak Tahun 2019. Kata banknya sudah tak ada program KUR," ungkapnya.
Sementara itu, menanggapi sejumlah keluhan petani tambak itu, BHS menilai budidaya rumput laut itu memiliki potensi dan bisa menghasilakan devisa yang besar bagi Sidoarjo. Apalagi, rumput laut bisa diekspor ke Jepang dan Korea dengan harga yang cukup mahal. Bahkan bisa jadi sebentar lagi Cina juga bakal membutuhkan rumput laut pasokan dari Sidoarjo itu.
"Potensi ini harusnya dibimbing oleh pemerintah. Bila saya diamanahi jadi Bupati Sidoarjo, saya akan mengawal agar budidaya rumput laut ini eksis dan berkembang pesat. Bahkan bisa dikembangkan di kawasan tambak lain diluar Kecamatan Jabon. Bahkan ekspor untuk ruput laut masih kurang karena kebutuhan Jepang dan Korea cukup banyak baik untuk makanan maupun untuk obat dan kecantikan," papar mantan anggota DPR RI periode 2014 - 2019 ini.
Selain itu, Alumnus ITS Surabaya ini memaparkan jika diamanahi menjadi Bupati Sidoarjo bakal memperbesar potensi dan mengembangkan budidaya rumput laut. Apalagi kebutuhan 600 hektar tambak tak sebanding dengan panjang pantai Sidoarjo yang mencapai 27 kilometer. Bahkan BHS bakal mengajak industri hilir (pengolahan) rumput laut.
"Agar petani rumput laut tidak hanya menjual dalam bentuk bahan mentah saja. Nanti saya akan sowan ke Menteri KP yang baru untuk kerjasama dalam mendukung budidaya runput laut ini. Pengembangan budidaya rumput laut untuk menambah gizi warga Sidoarjo serta menambah ekspor ke luar negeri. Semoga bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan dan kemaslakatan masyarakat Sidoarjo," tandasnya. Hel/Waw
Editor : Redaksi