Sidoarjo (republikjatim.com) - Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Jawa Timur (Jatim) menyatakan kesiapannya untuk memberi bantuan hukum kepada Keluarga Besar Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny Buduran, Sidoarjo. Terutama, soal musibah ambruknya bangunan Musala Putra salah satu Ponpes tertua di wilayah Kabupaten Sidoarjo itu.
Apalagi, dalam musibah itu, menyebabkan puluhan korban jiwa meninggal dunia di lokasi kejadian dan ratusan korban lainnya mengalami luka ringan, sedang dan luka berat.
Kesiapan LBH GP Ansor Jatim dalam memberi pendampingan dan pembelaan itu disampaikan Kasat Korwil Banser Jatim H Rizza Ali Faizin di lokasi ambruknya bangunan Musala yang hingga kini masih dalam proses evakuasi itu. Pendampingan dan pembelaan itu, juga disiapkan
menyusul adanya kabar di beberapa media mengenai surat panggilan beberapa pihak yang dianggap bertanggung jawab atas musibah itu.
"Kami sudah berkoordinasi dengan Ketua PW (Pengurus Wilayah) GP Ansor Jatim soal itu. Jadi LBH GP Ansor Jatim akan membantu dan mendampingi proses hukum dalam perkara kemanusiaan ini," ujar H Rizza Ali Faizin, menanggapi proses hukum yang mulai bergulir pasca musibah itu, Jumat (03/10/2025).
Baca juga: Gebyar Literasi Anak PAUD hingga SD Ikut Meriahkan Peringatan Harjasda ke 167 di Kota Delta
Bagi Rizza yang juga dikenal sebagai salah satu politisi muda PKB Sidoarjo ini, sejumlah langkah itu diputuskan untuk menunjukkan komitmen ideologi GP Ansor dan Banser Jatim atas musibah ini.
"Karena apa pun yang terjadi saat ini, baik GP Ansor maupun Banser siap untuk mendampingi Ponpes Al Khoziny Buduran yang sedang mendapat ujian dan musibah ini," tegas Gus Rizza yang hampir setiap hari bersiaga di lokasi kejadian bersama anggotanya itu.
Sebelumnya, GP Ansor juga bersikap kritis terhadap pernyataan Bupati Sidoarjo Subandi yang sempat mempersoalkan masalah perizinan atau Izin Mendirikan Bangunan (IMB) beberapa saat setelah bangunan Musala Putra Ponpes Al Khoziny itu ambruk, Senin (29/09/2025) lalu. Padahal, mulai musibah itu hingga saat ini adalah masa berduka berkabung semua pihak. Apalagi, petugas gabungan Basarnas, BNPB dan lainnya juga masih fokus pada penanganan, pencarian dan evakuasi para korban dalam musibah itu.
"Yang jelas seyogyanya ada empati dan duka mendalam dalam musibah ini. Karena itu, tim LBH Ansor Jatim berharap segera mengambil langkah-langkah strategis untuk memastikan proses hukum berjalan transparan dan berkeadilan bagi keluarga besar Ponpes Al Khoziny Buduran itu," pungkasnya. Hel/Waw
Editor : Redaksi