Sidoarjo (republikjatim.com) - Sebanyak 495 siswa dan siswi SMP Muhammadiyah 2 Taman (Spemduta) Sidoarjo mengikuti pelaksanaan pemilihan langsung Ketua dan Pengurus Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Hizbul Wathan (HW) dan Ketua Tapak Suci. Kegiatan pemilihan langsung itu digelar di Ruang Laboratorium Spemduta di Lantai III secara bergiliran, Selasa (04/11/2025).
Kendati pemilih menggunakan hak suaranya secara bergantian, akan tetapi panitia pemilihan juga menyiapkan sejumlah pengawas di lokasi penentuan suara itu. Bahkan, berapa diantaranya juga mengawasi langsung proses pemilihan yang berlangsung cukup demokrasi itu.
Tidak hanya itu, para pemilih sebagian juga mengenakan pakaian adat serta pakaian khas budaya Nusantara. Hal itu, lantaran pelaksanaannya hampir bersamaan dengan peringatan 10 Nopember 2025.
"Semarak Demokrasi ini dilaksanakan di sekolah. Ini kegiatan utamanya pemilihan formatur (pengurus) Organisasi Otonom (Ortom) Muhammadiyah, mulai
IPM, HW dan Tapak Suci. Pelaksanan pemilihan ini bertepatan dengan tanggal 4 November, karena diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Pahlawan jatuh pada 10 November," ujar Wakil Kepala (Waka) Bidang Kesiswaan Spemduta, Kokoh Muflikhul kepada republikjatim.com, Selasa (04/11/2025).
Lebih jauh guru muda yang akrab disapa Kokoh ini pemilihan hampir bersamaan Hari Pahlawan dengan harapan bisa menumbuhkan semangat perjuangan pahlawan dan memperkuat rasa nasionalisme siswa Spemduta. Apalagi, panitia pemilihan juga menyemarakkan kegiatan dengan dekorasi dan penggunaan kostum bertema kepahlawanan.
"Proses Pemilihan ini dilakukan secara elektronik (e-voting). Peserta pemilihan seluruh siswa kelas 7, 8, dan 9 yang berjumlah 495 siswa dan mereka sudah terdaftar sebagai pemilih aktif. Mekanismenya, siswa dipanggil per kelas, mengisi daftar hadir dan mendapatkan kartu akses berisi akun unik untuk memastikan tidak ada pemilih ganda hingga menemukan pilihan mereka di ruang pemilihan di Laboratorium Multimedia," ungkapnya.
Kokoh mengungkapkan para kandidat jumlah awal calon formaturnya terdapat 10 calon untuk IPM, 10 calon untuk Tapak Suci dan 8 calon untuk HW. Namun akhirnya terpilih dengan formasi untuk
IPM sebanyak 7 formatur terpilih,
Tapak Suci sebanyak 6 formatur terpilih dan Hizbul Wathan (HW) sebanyak 6 formatur terpilih.
"Nasib calon yang tidak terpilih, mereka akan diakomodasi oleh formatur terpilih untuk menjadi pengurus pada periode berikutnya sesuai skema posisinya," paparnya.
Sedangkan prosesi tahapan pra pemilihan diantaranya para calon telah mengikuti proses sejak tanggal 22 Oktober 2025 kemarin. Kemudian, masuk tahap pendaftaran dan dilanjutkan Uji Kelayakan dan Kepatutan (Fit and Proper Test) oleh tim guru untuk menguji kapasitas, pengetahuan Al-Islam, Kemuhammadiyahan, organisasi.dan kepemimpinan.
"Selanjutnya, masa kampanye melalui penyampaian visi dan misi serta pemasangan atribut kampanye (poster dan banner). Kemudian penyampaian Visi dan Misi dilaksanakan dalam dua sesi yakni setelah salat Duha dan setelah salat Zuhur di aula. Kegiatan itu, melibatkan seluruh (28) calon dari ketiga ortom. Kegiatan ini dilaksanakan setiap tahun, biasanya pada bulan Oktober atau November," tegasnya.
Sementara salah satu panitia pemilihan siswa Kelas 9A, Dirham Bayan Ulhaq mengungkapkan hikmah pemilihan dalam Semarak Demokrasi ini ada beberapa hikmah yang bisa diambil dari pelaksanaan pemilihan ortom secara langsung, terbuka, dan diawasi itu.
"Kami mendukung sportivitas dalam pemilihan ini, karena pemilihan dilakukan secara terbuka dan selalu diawasi pengawas, para pemilih dan calon tidak bisa melakukan kecurangan karena ada pengawasnya," urainya.
Selain itu, Dirham mengungkapkan
pengalaman E Voting akan memberikan pengalaman kepada para pemilih untuk merasakan dan memiliki pengalaman pemilihan secara online langsung sejak SMP. Pengalaman itu, berguna untuk masa depan karena proses pemilihan serupa mungkin akan terjadi lagi.
"Mengenai kekhawatiran adanya suara ganda (double voting) tidak terjadi. Karena sistem E-Voting adalah sistem pemilihan yang digunakan menjamin bahwa tidak ada suara ganda.
Satu suara per anak untuk satu orang, hanya bisa memberikan satu suara kepada satu orang calon formatur. Tidak bisa satu anak memberikan dua suara kepada orang yang sama.
Sistem ini memastikan setiap anak memberi suara dengan hak pilih tunggal," pungkasnya. Ary/Waw
Editor : Redaksi