Sidoarjo (republikjatim.com) - Santri harus membuang jauh-jauh transformasi ilmu tempatnya identik dan terbatas di Surau (langgar/musala) dan masjid. Ini menyusul di luar sana, Narrative War (Perang Narasi) sedang berlangsung demikian hebat. Bahkan Narative War tidak mengenal siapa kawan dan siapa lawan. Perang narasi sedemikian masif itu terjadi di Media Sosial (Medsos).
Selama ini, banyak narasi yang dilontarkan ditelan begitu saja oleh pelajar dan masyarakat umum. Telaah dan verifikasi tidak lagi menjadi pegangan. Padahal di era saat ini, memasuki era informasi hoax bertebaran.
Baca juga: Gebyar Literasi Anak PAUD hingga SD Ikut Meriahkan Peringatan Harjasda ke 167 di Kota Delta
"Sekarang ini, era dimana siapa yang menguasai narasi maka dialah yang memegang kendali dan memegang isu. Termasuk menguasai branding," ujar Bupati Sidoarjo Ahmad Muhdlor Ali kepada republikjatim.com, Rabu (28/09/2022) usai membuka kegiatan Ngaji Jurnalistik Santri di Pendopo Delta Wibawa.
Bupati muda yang akrab disapa Gus Muhdlor ini menjelaskan algoritma media sosial saat ini tidak mengidentifikasi sebuah konten itu mengarah pada narasi hoax atau tidak. Filterisasi diserahkan kepada publik. Mereka yang lemah dalam literasi akan mudah ditelan narasi negatif dan hoax. Melihat fenomena seperti ini, Gus Muhdlor merasa tertantang dengan eksistensi para santri.
"Kami yakin, santri adalah kader-kader intelektual terbaik yang bisa menjadi agen perubahan dalam bermedia sosial yang positif (positive sosial media and change agent)," pintahnya.
Menurut Bupati alumni Fisip Unair Surabaya ini, jiwa santri telah dibekali ilmu-ilmu agama serta tauladan dari para kiai dan guru (ustadz). Hal ini akan berfungsi menjadi filter informasi baik dan buruk saat menerjunkan diri dalam bermedia sosial.
"Norma sosial dan ilmu kebajikan melekat dalam keseharian mereka (santri). Inilah benteng kekuatan yang bisa menjadi panglima dalam menghadapi narrative war atau perang narasi di media sosial," tegas alumni SMAN 4 Sidoarjo ini.
Santri milenial (sebutan santri era digital) menurut putra KH Agoes Ali Masyhuri itu harus memiliki bekal ilmu jurnalistik. Yakni ilmu membuat narasi yang baik yang setiap kata memiliki makna yang bisa mempengaruhi publik. Secara literasi, santri sudah terbiasa berhadapan dengan tumpukan kitab. Hanya saja, untuk menyebarkan ilmu itu dibutuhkan kemampuan merangkai tulisan menjadi sebuah narasi.
"Karena itu, saya sangat mengapresiasi pelatihan jurnalistik yang digelar Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sidoarjo," paparnya.
Apalagi, belasan santri dari berbagai pondok pesantren di Sidoarjo menimba ilmu literasi media dari anggota PWI yang diketuai Mustain, wartawan Harian Bangsa itu. Hal ini diharapkan menjadi trigger bangkitnya kekuatan santri sebagai agen perubahan dalam bermedia sosial yang positif.
Baca juga: Peringati Harjasda ke 167, Gelar Doa Bersama 1000 Anak Yatim Sekaligus Santunan
"Kolaborasi dan sinergi ini sangat bagus. Ini memberikan dampak luas bagi sudut pandang santri terhadap pentingnya menguasai kemampuan membuat sebuah narasi dalam bermedia sosial," jelas bupati alumni Pondok Pesantren Lirboyo Kediri itu.
Selain itu, pihaknya minta pelatihan serupa dilanjutkan di pondok pesantren-pondok pesantren lainnya di Sidoarjo. Program pelatihan jurnalistik, lanjut bupati bisa menjadi program Pemkab Sidoarjo melalui Dinas Komunikasi dan Informatika sebagai leading sektor pengelolaan informasi publik yang bisa memperkuat program itu sebagai counter attack terhadap informasi negatif dan informasi hoax yang berpotensi membahayakan generasi bangsa.
"Ini penting. Narasi dilawan dengan narasi. Karena itu literasi harus kuat dan narasi harus cerdas dalam melawan hoax dan informasi negatif," pungkasnya. Hel/Waw
Editor : Redaksi