Sidoarjo (republikjatim.com) - Dewan Kesenian Daerah (Dekesda) Sidoarjo menggelar acara yang diikuti komunitas dari pelbagai kalangan. Acara digelar di Kantor Dekesda Art Center, JL Erlangga No 67, Sidoarjo, Sabtu (19/06/2021).
Kegiatan ini dilaksanakan selama tiga dengan mengusung tema Liter Art Fest. Acara dihadiri Komunitas Brangwetan, Tankali, Komunitas Menulis Sidoarjo, Penerbit Embrio dan Meja Tamu. Pada hari kedua diisi Lauching buku setiap komunitas serta testimoni para penulis dan penerbit buku.
"Acara ini, kami siapkan sejak November lalu agar prosesnya membuahkan hasil," ujar Ketua Pelaksana Kegiatan, Ribut Wijoto kepada republikjatim.com, Sabtu (19/06/2021).
Ribut menjelaskan persiapan dilaksanakan melalui komite satra agar menfasilitasi adanya grup Whatsapp (WA) bagi para penulis. Baik pecinta sastra maupun sastrawan di Sidoarjo. Saat ini ada sekitar 150 orang yang menjadi anggota.
"Kegiatan ini untuk menampung mereka yang akan membuat kegiatan (event). Misalnya pameran buku yang dapat mengcover penerbit-penerbit, lapak buku, sekaligus pelbagai instansi terkait dalam bidang penulisan dan literasi. Melalui wadah ini dipertemukan seluruh elemen dalam bidang penulisan itu," imbuh Ketua Komite Sastra Dekesda ini.
Kegiatan ini, tidak hanya fokus manfaat bagi warga Sidoarjo saja. Melainkan bisa melahirkan ekosistem sastra, literasi, penulis dan penerbit buku tercover semua di Sidoarjo. Apalagi, ekosistem penerbitan di Sidoarjo masih perlu dikembangkan. Karena seringkali sastrawan, penulis dan penerbit buku di Sidoarjo malah menggunakan penerbitan diluar Sidoarjo.
Baca juga: Gebyar Literasi Anak PAUD hingga SD Ikut Meriahkan Peringatan Harjasda ke 167 di Kota Delta
"Kami berharap penerbit dan penulis di Sidoarjo tetap bisa menerbitkan bukunya sendiri. Karena efeknya sangat besar bagi Sidoarjo. Terutama pertumbuhan ekonomi Sidoarjo bisa terangkat," tegasnya.
Dengan menerbitkan buku di Sidoarjo, maka akan menghasilkan perputaran ekonomi di Sidoarjo melalui bidang perbukuan. Makanya, sangat rugi jika hal ini tidak dilakukan. Bagi masyarakat secara umum Later Art Face menjadi satu kampanye cinta buku dan membaca dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.
"Kontribusi sastra terhadap kultur masyarakat Sidoarjo jelas terbaca. Karena karya sastra menjadi inspirasi, pengetahuan, data dan banyak hal yang bisa dipelajari dari karya sastra," ungkapnya.
Sigit menilai Universitas Nahdlatul Ulama (Unusida) beruntung karena rektornya (Fatkhul Anam) merupakan Ketua Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) Jatim. Unusida bisa menjadi salah satu promotor bagi kemajuan literasi dan kemajuan penerbitan buku baik di daerah maupun di tingkat wilayah.
"Sastra memudahkan memahami sebuah wilayah, membaca kultur geografis dan bisa didalami orang luar daerah melalui buku yang diterbitkan itu," tandasnya. Hel/Waw
Editor : Redaksi