Empat Desa di Kecamatan Tanggulangin Bentuk Kampung Tangguh

republikjatim.com
AMPUNG TANGGUH - Ketua Gugus Tugas Covid-19 Sidoarjo, Nur Ahmad Syaifuddin memukul gong tanda peresmian Kampung Tangguh di Desa Gempolsari, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo, Selasa (23/06/2020) malam.

Sidoarjo (republikjatim.com) - Sebanyak empat desa mendeklarasikan diri menjadi Kampung Tangguh. Keempat desa itu adalah Desa Gempolsari, Kalitengah, Ketapang dan Desa Ganggangpanjang, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo. Keempat desa ini sebagai Kampung Tangguh melawan pandemi Covid-19.

Keempat Kampung Tangguh ini dilaunching Plt Bupati Sidoarjo, Nur Ahmad Syaifuddin di balai Desa Gempolsari, Selasa (23/06/2020) malam. Dalam peresmian itu, Kapolresta Sidoarjo Kombes Pol Sumardji juga hadir dalam kegiatan itu.

"Penyebaran virus Corona sangat luar biasa. Kami berharap masyarakat tidak menyepelekan pandemi Covid-19. Melihat kasus Covid-19 di Tanggulangin tidak begitu banyak. Tidak seperti di Kecamatan Waru maupun Kecamatan Taman yang berbatasan dengan Kota Surabaya. Kami minta masyarakat tidak menganggap enteng karena penyebarannya sangat cepat," ujar Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Sidoarjo, Nur Ahmad Syaifuddin.

Dihadapan puluhan Kepala Desa (Kades) serta Babinsa dan Bhabinkamtibmas se Kecamatan Tanggulangin, Cak Nur menjelaskan dampak yang timbul akibat pandemi Covid-19 sangat luar biasa. Perekonomian suatu negara akan kacau jika virus ini menyerang. Bahkan tren kenaikan kasus Covid-19 di Sidoarjo masih cukup tinggi. Dari Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) tahap pertama ke PSBB tahap kedua kenaikannya luar biasa.

"Bahkan pernah tercatat dalam sehari ada 85 kasus positif. Tapi, pada PSBB tahap dua ke tahap tiga sudah mengalami penurunan. Akan tetapi angka penurunan kasus Covid-19 tidak drastis. Tren penurunannya sedikit demi sedikit. Secara teori dengan kondisi seperti itu sebenarnya masih tidak diperbolehkan meninggalkan PSBB. Karena rate of transmission (tingkat penularan) Covid-19 di Sidoarjo masih diatas 1 yakni 1,2. Tapi masyarakat masih sulit kalau diajak bicara masalah PSBB," imbuhnya.

Oleh karena itu, lanjut Cak Nur dengan pertimbangan psikologis masyarakat yang sudah apatis terhadap PSBB maka PSBB di Sidoarjo diberhentikan. Masyarakat banyak mengeluh karena perekonomian kacau saat pemberlakuan PSBB. Padahal virus Corona yang menyebabkan perekonomian jatuh.

"Bukan masalah PSBB yang merusak perekonomian. Jadi perekonomian jatuh itu bukan karena PSBB tetapi karena pandemi Covid-19," tegasnya.

Cak Nur menguraikan usai pengusulan pemberhentian PSBB kepada gubernur Jawa Timur, Pemkab Sidoarjo mengambil kebijakan masa transisi new normal. Menurutnya new normal adalah normal baru. Normal baru yang tidak sama dengan kegiatan normal sebelum adanya Covid-19. Seperti adanya pemeriksaan suhu tubuh, cuci tangan memakai sabun maupun menjaga jarak satu dengan yang lain saat beraktifitas dan selalu memakai masker.

"Kami berharap di masa transisi new normal saat ini masyarakat tidak menganggap bebas melakukan kegiatan seenaknya. Tapi harus menerapkan protokol kesehatan pencegahan penyebaran Covid-19 saat beraktifitas. Apalagi vaksin Covid-19 belum ditemukan. Oleh karenanya yang bisa dilakukan saat ini hanya mengantisipasi penyebarannya dengan menerapkan protokol kesehatan Covid-19," urainya.

Sementara dalam kampung tangguh Desa Gempolsari terdapat sejumlah posko. Seperti Posko pencegahan dan pengendalian, Posko Kesehatan serta lumbung pangan dan ruang karantina. Dalam peresmian ini, Pemkab Sidoarjo memberi bantuan 50 paket Sembako dan 500 lembar masker. Yan/Waw

Editor : Redaksi

Peristiwa
Berita Terpopuler
Berita Terbaru