Oleh
Ketua HMI Cabang Sidoarjo
(Dandi Amar)
Sidoarjo (republikjatim.com) -Tepat tanggal 14 Febuari 2024 kemarin, rakyat Indonesia menghadapi pesta demokrasi. Puncak dari drama panjang yang terjadi selama ini selalu dilabeli ‘politik riang gembira’.
Sebanyak 204.807.222 rakyat Indonesia telah melakukan hak konstitusionalnya dalam menentukan pemimpin negara untuk lima tahun ke depan.
Drama panjang dalam pemilu yang dipenuhi pemilih emosional. Banyak para pendukung yang tiba-tiba dalam bahasa kedokteran 'Hipertensi'. Nah Hipertensi itulah yang bisa disebut pemilih emosional.
Pemilih dalam Pemilu Tahun 2024 ini kebanyakan suka dengan para calon karena ada satu icon dari setiap Pasangan Calon (Paslon). Misal suka dengan paslon 01 karena Ganteng, Pintar dan tidak suka dengan paslon 02 karena katanya cuman bisa joget dan tidak punya gagasan. Atau misalkan suka dengan Paslon 02 karena berwibawa dan tegas dan tidak suka dengan paslon 01 yang katanya cuman omon-omon.
Begitulah, dinamika drama dalam pemilu kali ini. Padahal, suka tidak suka adalah persoalan rasa. Atau sebuah saja contoh buat paslon 03 misalnya.
Baca juga: Gebyar Literasi Anak PAUD hingga SD Ikut Meriahkan Peringatan Harjasda ke 167 di Kota Delta
Dalam Pemilu, semua yang beda pandangan jadi musuh dan jadi lawan. Jika ada pendukung Paslon 03 beda pandangan dengan 01 dan 02 pasti jadi musuh. Begitu pula pendukung 02 beda pandangan juga jadi musuh. Bahkan dinyiyirin merasa pemilih paling pintar dan merasa pemilih paling benar. Jadi teringat waktu masih kecil apapun yang beda pandangan pasti di musuhi atau dalam bahasa jawanya Nggak Digembuli (tidak dianggap teman).
Kita harus berfikir dengan jernih jangan mengedepankan emosional. Karena keputusan Pemilu Tahun 2024 apapun hasilnya, jika berlandaskan emosi hasilnya akan membuat penyesalan di kemudian hari.
Coba kita kembali ke Pemilu Tahun 2019. Para pembela Prabowo membela mati-matian memperjuangkan dukungannya sampai menemukan titik keadilan. Tapi nyatanya apa? Para elit bergabung dengan mengatasnamakan persatuan demi membangun bangsa dan negara.
Lalu kalian bisa apa? Cuman bisa bengong di pojokan sambil gigit jari selama 5 tahun sampai Tahun 2024 ini? Apakah hal itu, tidak mungkin terjadi lagi di Tahun 2024 ini? Pilihan yang kalian bela mati-matian semua kawan yang beda pilihan.
Dengan kalian dijadikan lawan ketika pilihan anda balik badan atau bergabung dengan pemenang bisa apa kalian? Para elit politik ini, tidak ada yang musuhan. Karena sejatinya politik itu tidak ada yang abadi. Mereka menganggap lawan politik mereka itu bukan musuh. Kalian saja yang menganggap beda pilihan itu musuh.
Tapi kenapa kalian seperti itu? Bahkan teman atau sahabat yang bertahun - tahun bersama, ketika beda pilihan kalian jadikan lawan. Sementara elit politik ini tidak pernah menganggap mereka lawan. Karena sejatinya politik itu tidak ada kawan abadi dan tidak ada lawan abadi.
Politik itu memang memakai kalian agar terus emosi. Nah, jika ke depan pandangannya beda lagi ya diubah lagi agar sesuai pendapatnya dengan kalian. Intinya, kalian semua hanya dibutuhkan sesaat. Jadi mulai sekarang kita harus pintar-pintar dalam menyikapi Pemilu.
Kita anggap saja politik ini sebagai ladang belajar dan bahan hiburan. Kalau kata kawan saya "Berpolitik Itu Lucu-Lucuan Saja, Jangan Serius - Serius Nanti Baper!!!
Editor : Redaksi