Ponorogo (republikjatim.com) - Empat hari pasca Tri Rismaharini dilantik menjadi Menteri Sosil (Mensos) RI oleh Presiden Joko Widodo, Rabu (24/12/2020) kemarin, hari ini melaksanakan kunjungan perdananya ke Desa Krebet Kecamatan Jambon dan Desa Karangpatihan, Kecamatan Balong Ponorogo. Dalam kunjungan ke kedua kampung yang dulu dijuluki kampung idiot itu, Risma bersama rombongan hendak menyerahkan bantuan ke warga berkebutuhan khusus (disabilitas) di kedua desa di Ponorogo itu, Minggu (27/12/2020).
Mantan Walikota Surabaya dua periode ini ke Ponorogo menyerahkan beberapa bantuan yang diserahkan dalam kunjungan perdana setelah dilantik menjadi Mensos RI dalam Kabinet Indonesia Bersatu ini diantaranya sembako, kursi roda, APD, alat pembuat keset serta bahan batik ciprat dan uang tunai. Warga penyandang kebutuhan khusus (disabilitas) di Jambon dan Balong itu dapat dilatih untuk pemberdayaan.
"Warga berkebutuhan khusus ini harus diperhatikan. Karena ada sebagian yang makannya hanya menunggu bantuan. Ini perlu diberdayakan untuk melatih hidup mandiri," ujar Tri Rismaharini, Minggu (27/12/2020).
Risma mengakui ke Ponorogo itu merupakan kunjungan pertamanya. Hal ini setelah dirinya mendengar ada warga yang berkebutuhan khusus ini di Ponorogo. Warga seperti ini tidak bisa dibiarkan.
"Kita tidak boleh diam. Semakin lama akan semakin berat karena bergantung dengan orang lain. Kami bawa bibit lele. Kita lihat progresnya kalau baik bisa dikembangkan dan diberdayakan. Jadi kita jaga sustainability (keberlangsungan hidup) warga yang sangat berkebutuhan khusus ini," tegas Menteri Sosial RI ini.
Tidak hanya itu, kata Risma berdasarkan pengalamannya selama menjadi Walikota Surabaya, dirinya bisa menyelesaikan persoalan serupa. Karena itu, nanti penyelesaiannya akan dikomunikasikan dengan pemerintah daerah setempat dan Dinas Kesehatan (Dinkes).
"Karena para penyandang disabilitas ini butuh diperhatikan. Terutama soal kesehatan mereka," tegasnya.
Sementara dalam penanganan para penyandang disabilitas itu, kata Risma tidak hanya di Ponorogo yang menjadi proritas penanganannya. Akan tetapi, juga di daerah lain semuanya harus menjadi prioritas.
"Warga seperti ini semua harus diprioritaskan. Saat ini kita inventarisir. Semalam mulai kita komunikasikan dengan rektor Universitas Cendrawasih, Rektor Papua, Rektor Universitas Cendana Mataram dan lainnya. Ini bukan masalah kebudayaan dan kondisi masalah antropologi. Yang tahu kondisi daerah para akademisi dari daerah setempat yang melakukan kajian. Jadi saya tidak mau salah ketika menangangi masalah ini," pungkasnya. Mal/Waw
Editor : Redaksi