Sidoarjo (republikjatim.com) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo mengambil langkah taktis untuk mengantisipasi ancaman bencana hidrometeorologi. Di bawah komando langsung Bupati Sidoarjo, Subandi, Pemkab mengerahkan kekuatan penuh mulai dari penyiagaan ratusan personel gabungan, pengaktifan posko di berbagai wilayah, hingga penyiapan armada dan alat berat secara masif.
Langkah sigap ini, dicanangkan dalam Apel Kesiapsiagaan Bencana Hidrometeorologi yang digelar di Alun-alun Sidoarjo. Apel itu, melibatkan sekitar 400 peserta dari berbagai unsur strategis, mulai dari TNI, Polri, BPBD, Basarnas Surabaya, PLN, PMI hingga jajaran perangkat daerah dan relawan kebencanaan.
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), musim hujan di Sidoarjo diperkirakan berlangsung mulai Desember 2026 hingga Maret 2027 mendatang, dengan puncak musim hujan diprediksi terjadi pada Februari 2027. Mengingat karakteristik Sidoarjo sebagai wilayah delta (kawasan genangan), ancaman banjir dan rob menjadi perhatian utama, di samping potensi bencana lain seperti angin kencang, kebakaran dan kekeringan.
Sejumlah wilayah yang dipetakan sebagai titik rawan banjir itu meliputi Kecamatan Tanggulangin, Porong, Candi, Waru, Jabon, Krembung dan Kawasan Sidoarjo Kota.
Sebagai langkah antisipasi nyata, Pemkab Sidoarjo telah menyiagakan perlengkapan pendukung yang meliputi 17 unit pompa air, 4 perahu karet, 51 kendaraan operasional, ambulans, 10 sepeda motor trail serta 12 unit mobil pemadam kebakaran. Tidak hanya itu, ketersediaan logistik darurat juga dipersiapkan secara matang yang mencakup 40 tenda pengungsian, 2 dapur umum, 20 genset, 50 gergaji mesin serta 32 rumah air yang tersebar di enam kecamatan.
Bupati Sidoarjo, Subandi mengatakan mitigasi tidak hanya berfokus pada peralatan saja. Akan tetapi, juga penguatan koordinasi lintas sektor hingga tingkat kecamatan. Seluruh Camat pun diinstruksikan untuk segera mengaktifkan posko bencana di wilayah masing-masing guna memastikan respons cepat jika terjadi keadaan darurat.
"Bencana ini, tidak bisa diperkirakan sehingga harus kita tanggulangi dengan kesiapsiagaan. Kolaborasi harus terus ditingkatkan, termasuk melalui forum dan pelatihan kebencanaan," ujar Bupati Subandi.
Selain kesiapan posko dan alat, lanjut Subandi upaya struktural seperti normalisasi sungai dan saluran air terus digenjot Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Sumber Daya Air (PUBM dan SDA) seperti yang telah dilakukan di kawasan Tanggulangin, Porong, Candi, serta pembangunan dam besar di Kedungpeluk.
"Meski demikian, kita tidak menampik tantangan geografis Sidoarjo sebagai wilayah delta yang membutuhkan strategi khusus. Terutama, saat air rob meluap dan harus menunggu kondisi memungkinkan sebelum dibuang," tegasnya.
Sementara mengakhiri arahannya, Bupati Subandi menyampaikan apresiasi tinggi kepada seluruh unsur yang bahu-membahu menjaga keamanan dan keselamatan masyarakat Sidoarjo.
"Kami berharap sinergi lintas instansi ini terus diperkuat demi perlindungan optimal bagi warga," pungkasnya. Ary/Waw
Editor : Redaksi