Ponorogo (republikjatim.com) - Hutan lebat di kaki Pegunungan Wilis yang dahulu sepi dan tak terjamah pernah menjadi saksi bisu tirakat seorang ulama besar. Dari gubuk pertapaan di tengah kesunyian tanah (Wengker) Ponorogo itu, lahir sebuah pusat peradaban Islam yang kelak mengubah wajah Nusantara. Yakni lahirnya Pesantren Tegalsari, atau yang dikenal pula sebagai Pesantren Gebang Tinatar yang terletak di Desa Tegalsari, Kecamatan Jetis, Ponorogo.
Sosok di balik pilar peradaban itu adalah Kiai Ageng Muhammad Besari. Meski namanya mengakar kuat di Ponorogo, beliau sebenarnya seorang perantau dari Desa Kuncen, Kecamatan Mejayan (Caruban), Kabupaten Madiun. Beliau merupakan putra dari Ki Ageng Anom Besari (Ki Ageng Grabahan) dan Nyai Ruqiyah.
Garis keturunan Kiai Ageng Muhammad Besari juga dikenal sangat istimewa. Karena mempertemukan dua pilar besar peradaban yakni jalur sang Ayah merupakan keturunan ke 31 dari pendiri Kerajaan Majapahit, Raden Wijaya. Sedangkan dari jalur ibu merupakan Keturunan ke 48 dari Rasulullah SAW melalui garis Sayyidati Fatimah Az-Zahra.
Perpaduan darah bangsawan dan trah kenabian ini membentuk karakter beliau sebagai ulama berwawasan luas yang memadukan kedalaman nilai Islam dan semangat kebangsaan. Tak heran, jika beliau dijuluki sebagai Mahaguru dari para Maharaja di Jawa.
Awal perjalanan Tegalsari bermula saat Kiai Ageng Muhammad Besari memutuskan menyendiri untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Lambat laun, aura keilmuan beliau menarik perhatian banyak pencari ilmu. Dari sekadar gubuk pertapaan, permukiman kecil itu berkembang menjadi sebuah desa yang dinamai Tegalsari. Pada Tahun 1742, Raja Surakarta Pakubuwono II menetapkan Tegalsari sebagai Desa Perdikan (bebas pajak). Di tanah inilah Masjid Jami’ Tegalsari berdiri dan berkembang pesat menjadi pusat pesantren megah di Abad ke 18.
Pengaruh Pesantren Tegalsari terpancar luas melintasi zaman. Tempat itu, menempa para pemimpin dan pemikir bangsa. Diantaranya mulai dari Pakubuwono II, pujangga besar Ronggowarsito hingga Kiai Abdul Manan Dipomenggolo (pendiri Pesantren Tremas, Kabupaten Pacitan). Biji peradaban yang ditanam beliau terus berbuah hingga masa pergerakan nasional. Yakni di era Pahlawan Nasional H.O.S Tjokroaminoto serta para Trimurti pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor tercatat sebagai bagian dari garis keturunan Kiai Ageng Muhammad Besari.
Kiai Ageng Muhammad Besari wafat sekitar Tahun 1773 (dengan beberapa catatan sejarah menyebut Tahun 1747 atau 1760). Perjuangan beliau dilanjutkan para keturunannya, seperti Kiai Ilyas Besari hingga KH Hasan Besari.
Kini, kompleks Masjid Jami’ dan Makam Kiai Ageng Muhammad Besari di Desa Tegalsari, Kecamatan Jetis, Ponorogo, selalu ramai didatangi peziarah dari berbagai penjuru negeri. Terutama, saat peringatan haul beliau setiap bulan Dzulqaidah. Warisan spiritual dan keilmuannya tetap menyala, menjadi bukti abadi dedikasi seorang ulama besar bagi negeri ini. Prapanca Biru Mahasurya PS
Editor : Redaksi