Ngawi (republikjatim.com) — Pemerintah Kabupaten Ngawi melalui Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Perkim) mengalokasikan anggaran sebesar Rp 1,3 miliar untuk peningkatan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) di Desa Cantel dan Desa Gunungsari, serta perluasan jaringan perpipaan di Desa Dampit.
Program yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tersebut difokuskan untuk mengantisipasi krisis air bersih di wilayah yang masuk zona non-Cekungan Air Tanah (CAT) atau daerah dengan keterbatasan sumber air tanah.
Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Kabupaten Ngawi, Maftuh Affandi mengatakan, proyek tersebut menjadi langkah strategis pemerintah daerah dalam memperkuat layanan air bersih bagi masyarakat, terutama saat musim kemarau.
“Wilayah seperti Cantel, Gunungsari, dan Dampit memiliki karakteristik geografis yang cukup sulit untuk pemanfaatan air tanah. Karena itu, pendekatan yang digunakan lebih diarahkan pada sistem perpipaan dan pemanfaatan sumber air baku yang tersedia,” ujar Maftuh, Selasa (26/5/2026).
Menurutnya, peningkatan SPAM di Desa Cantel dan Gunungsari dilakukan untuk mengoptimalkan kapasitas distribusi air bersih yang sudah ada. Sementara di Desa Dampit, proyek difokuskan pada perluasan jaringan perpipaan agar lebih banyak warga dapat memperoleh sambungan rumah (SR).
Maftuh menjelaskan, wilayah non-CAT umumnya memiliki struktur geologi yang minim akuifer sehingga pengeboran sumur dalam tidak selalu efektif dan membutuhkan biaya tinggi dengan risiko kegagalan cukup besar.
Sebagai solusi, pemerintah daerah akan memaksimalkan pemanfaatan sumber mata air dengan sistem gravitasi menuju reservoir desa. Skema tersebut dinilai lebih efisien karena tidak membutuhkan biaya operasional listrik yang besar.
“Jika memungkinkan, sistem gravitasi dari mata air menjadi pilihan utama. Namun apabila kondisi lapangan tidak mendukung, maka alternatif pemompaan dari sumber air permukaan juga disiapkan,” katanya.
Selain pembangunan fisik, Perkim Ngawi juga mendorong penguatan kelembagaan Himpunan Penduduk Pemakai Air Minum (HIPPAM) di masing-masing desa agar pengelolaan dan pemeliharaan jaringan air dapat berjalan berkelanjutan.
Ia berharap proyek tersebut mampu mengurangi risiko kekeringan tahunan yang selama ini kerap dialami warga di kawasan rawan air bersih, sekaligus meningkatkan kualitas layanan dasar masyarakat.
“Harapannya masyarakat bisa mendapatkan akses air bersih yang lebih stabil, terutama saat musim kemarau panjang,” pungkasnya.(And)
Editor : Redaksi