Sidoarjo (republikjatim.com) - Gerbong birokrasi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo mengalami perubahan nahkoda sementara. Sekretaris Daerah (Sekda) Sidoarjo, Dr Fenny Apridawati secara resmi meletakkan jabatan strategisnya untuk sepekan ke depan.
Posisi "panglima ASN" itu, kini dijabat Kepala Bappeda Pemkab Sidoarjo, Mohammad Ainur Rahman, sebagai Pelaksana Harian (Plh) Sekda Sidoarjo.
Penunjukan ini tertuang dalam Surat Perintah Pelaksana Harian Nomor: 800.1.3.1/4633/438.6.4/2026 yang ditandatangani langsung oleh Bupati Sidoarjo, Subandi.
Kepergian Fenny Apridawati ke Korea Selatan bukan tanpa alasan. Berdasarkan dokumen resmi yang beredar, Fenny dijadwalkan mengikuti Cybersecurity Training Program for ADLGA 2025 bersama LSware Inc. Pelatihan intensif mengenai keamanan siber ini, berlangsung mulai tanggal 12 hingga 18 April 2026.
Meski tujuannya adalah penguatan kapasitas digital, keberangkatan ini memicu sorotan tajam dari pengamat kebijakan publik.
Ketua Java Corruption Watch (JCW), Sigit Imam Basuki menilai momentum keberangkatan Sekda ke Korea Selatan (Korsel) ini kurang tepat di tengah seruan efisiensi anggaran.
"Pemerintah pusat sedang gencar menekan belanja perjalanan dinas luar negeri yang tidak menjadi prioritas. Pertanyaannya, seberapa mendesak pelatihan ini, hingga harus dilakukan di Korea Selatan di tengah kebijakan penghematan anggaran," ujar Sigit Imam Basuki, Selasa (14/04/2026) mempertanyakan urgensi pelatihan keamanan cyber itu.
Dipilihnya Mohammad Ainur Rahman sebagai Plh Sekda Sidoarjo, diduga dinilai sebagai langkah aman Bupati Subandi. Sebagai Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), Ainur Rahman dianggap memahami peta koordinasi antar Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Apalagi, juga sudah pernah menjadi asisten dan Camat.
Tugas Ainur pun tidak main-main. Selain menjalankan tugas rutin Sekda, ia diwajibkan berkonsultasi langsung dengan Bupati untuk setiap pengambilan keputusan yang bersifat prinsipil.
Sayangnya, kritik yang mengiringi perjalanan dinas ini seolah menjadi akumulasi dari "catatan merah" publik terhadap Sekda Sidoarjo Fenny Apridwati. Sebelumnya, Fenny sempat viral akibat menggelar acara Buka Bersama (Bukber) di Graha Unesa Surabaya dengan mewah bernuansa India yang dijuluki warganet sebagai "Bukber Ala Kajol" atau Bollywood itu.
"Nah, dari dua peristiwa itu, mulai bukber mewah dan terbang ke Korea Selatan bisa dijadikan membangun persepsi adanya jarak antara gaya hidup birokrat dengan semangat kesederhanaan yang sering didengungkan berbanding terbalik," tegas Sigit.
Kini, publik Sidoarjo menanti hasil nyata dari "studi siber" itu. Apakah sepulangnya dari Korea Selatan ada lompatan signifikan dalam keamanan data daerah, ataukah ini hanya sekadar perjalanan dinas rutin yang terbungkus pelatihan?.
Sementara salah seorang terdekat Sekda Sidoarjo mengakui perjalanan ke Korea Selatan itu, secara gratis sebagai bonus atas prestasi Sekda dan Pemkab Sidoarjo. Namun, tidak disebutkan prestasi detailnya apa saja dan besaran anggaran maupun kementerian yang membiayai pelatihan di Korea Selatan itu.
"Itu perjalanannya gratis. Kan Bu Sekda mendapatkan bonus atas prestasinya," pungkasnya. Hel/Waw
Editor : Redaksi