Sidoarjo (republikjatim.com) - Di tengah jeritan warga terkait infrastruktur jalan yang hancur, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo justru memancing polemik di tengah masyarakat. Agenda Rapat Koordinasi (Rakor) dan Buka Puasa Bersama yang digelar di Mahabarata Palace, Graha Unesa, Surabaya, Jumat (06/03/2026) kemarin, panen hujatan. Hal ini, lantaran dinilai pamer kemewahan di tengah duka publik atas semakin banyaknya jalan rusak dan berlubang menganga di setiap sudut wilayah Sidoarjo.
Acara yang digagas dan dihadiri Sekretaris Daerah (Sekda), para Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan Camat itu, viral di Media Sosial (Medsos). Bukannya simpati, foto-foto yang beredar justru menampilkan suasana glamor. Sekretaris Daerah Sidoarjo, Fenny Apridawati misalnya beserta sejumlah pejabat wanita lainnya tampak mencolok dengan busana bertema merah muda khas India (Saree).
Kekecewaan masyarakat meledak karena lokasi acara dipilih di luar kota dan dikemas secara luks. Sementara akses jalan utama di Sidoarjo kini dalam kondisi memprihatinkan.
"Stagnasi Pembangunan di Sidoarjo harusnya dipikirkan para pejabat Pemkab Sidoarjo. Misalnya kasus penanganan banjir tahunan dan perbaikan jalan berlubang yang sampai saat ini jalan di tempat harus dicarikan solusinya bukan maka Bukber pejabat dengan konsep mewah dan luks," ujar salah seorang penggiat Medsos di Sidoarjo.
Saat ini, jalan rusak juga sudah memakan korban jiwa. Karena itu, publik sangat menyayangkan sikap pejabat yang seolah abai pada fakta adanya korban kecelakaan akibat jalan berlubang dalam beberapa pekan terakhir, terutama di JL Lingkar Timur yang baru terjadi, Jumat pagi kemarin.
"Seharusnya pejabat publik itu, mampu membuat plafon prioritas anggaran. Tidak harus keputusan Rapat dan Bukber itu menyewa gedung mewah di Surabaya. Karena itu kami anggap sebagai pemborosan yang melukai perasaan warga Sidoarjo. Belum lagi soal pajak makanan dan minuman serta rumah makannya masuk Surabaya bukan di Dispenda Sidoarjo," tegas Sigit warga Sidoarjo yang menyesalkan Bukber mewah pejabat Sidoarjo itu.
Apalagi, kata Sigit kegiatan itu dianggapnya lebih dan sangat ironis di tengah penderitaan jalan rusak bagi warga Sidoarjo.
"Kalau melihat para pejabat pamer kemewahan dan baju seragam di gedung megah, sementara warga Sidoarjo harus bertaruh nyawa setiap hari melewati jalanan yang mirip kubangan kolam justru ironis besar. Program kerja pemerintah hanya janji-janji saja," tulis salah satu warga dalam pesan berantai di grup WhatsApp (WAG).
Saat ini, publik menanti klarifikasi para pejabat terkait. Apalagi, hingga saat ini, pihak Sekretariat Daerah (Sekda) maupun Humas Pemkab Sidoarjo belum memberikan keterangan resmi terkait alasan pemilihan konsep dan lokasi acara itu. Kondisi itu memperkeruh suasana di jagat maya, di mana warga menuntut adanya aksi nyata perbaikan jalan ketimbang seremoni yang berlebihan seperti itu.
"Kami menilai kondisi ini menjadi rapor merah bagi komunikasi publik Pemkab Sidoarjo. Di saat warga membutuhkan kehadiran pemimpin di tengah "kubangan" jalanan. Tapi, para pemangku kebijakan justru tampil dengan gaya hidup yang kontras di gedung mewah kota tetangga," tandas Amin sambil menghela nafas panjang menyesal.
Dikonfirmasi terpisah Sekda Sidoarjo, Fenny Apridawati hingga kini belum memberi jawaban. Meski di pesan singkat WA itu ada tanda sudah terbaca. Ary/Waw
Editor : Redaksi