Sidoarjo (republikjatim.com) - Kenaikan harga pangan pokok seringkali terjadi menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN). Untuk mengantisipasi hal itu, Pemkab Sidoarjo menyiapkan Gerakan Pangan Murah (GPM).
Melalui kegiatan itu, Pemkab Sidoarjo bakal melakukan penjualan bahan kebutuhan pokok bersubsidi alias murah. Dengan gerakan itu, Pemkab Sidoarjo berharap harga kebutuhan pangan pokok di Sidoarjo tetap stabil selama bulan Ramadhan dan sampai lebaran atau Hari Raya Idul Fitri.
Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kabupaten Sidoarjo telah menggelar High Level Meeting (HLM) di Pendopo Delta Wibawa, Kamis (12/02/2026). Pertemuan itu, sengaja digelar untuk menghadapi HBKN dan inflasi menjelang Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri.
Dalam HLM itu, berbagai instansi pemerintah hadir. Selain instansi Pemkab Sidoarjo, juga hadir Perum Bulog Cabang Surabaya, BPS Sidoarjo, anggota DPRD Sidoarjo, Kejari Sidoarjo Polresta Sidoarjo dan Kodim 0816 Sidoarjo. Pihak Bank Indonesia (BI) juga turut hadir dalam pertemuan itu.
Bupati Sidoarjo, Subandi memimpin langsung pertemuan penting itu. Dalam kesempatan itu, Bupati Sidoarjo meminta seluruh pihak untuk menjaga inflasi di Kabupaten Sidoarjo. Melalui sejumlah program yang dijalankan, diharapkan harga kebutuhan pangan pokok menjelang bulan Ramadhan tetap stabil. Bahkan, tidak terjadi kenaikan harga yang akan memberatkan masyarakat.
"Nanti kita mengadakan Gerakan Pangan Murah dari Bulog dengan penjualan beras SPHP. Teman-teman DPRD Sidoarjo juga harus memanfaatkan masa resesnya untuk menggelar kegiatan penjualan Sembako murah. Kami yakin dengan kebersamaan seperti ini, harga-harga yang biasanya naik bisa kita tekan," ujar Subandi.
Tidak hanya itu, Subandi juga meminta Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Pemkab Sidoarjo untuk kembali melakukan operasi pasar murah penjualan beras SPHP.
"Kami juga meminta seluruh OPD di lingkungan Pemkab Sidoarjo mendukung penyaluran beras SPHP.
Begitu pula dengan Polresta Sidoarjo dan Kodim 0816 Sidoarjo, kami minta kembali melakukan penjualan beras SPHP kepada masyarakat," pintanya.
Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Pemkab Sidoarjo, Eni Rustianingsih mengaku pihaknya akan melakukan berbagai upaya menghadapi inflasi menjelang HBKN. Selain menggelar Gerakan Pangan Murah, dirinya juga akan membentuk kios pangan.
"Selain itu, Satgas Pangan akan dioptimalkan untuk melakukan pemantauan stok dan harga beras di retail modern maupun pasar tradisional," katanya.
Untuk menjaga stok ketersediaan beras di Sidoarjo, dirinya juga akan membuat MoU antara BUMDes dan Lembaga Penggilingan Gabah (LPG). MoU itu, mengharuskan BUMDes membeli gabah petani.
"Kita juga membuat Surat Edaran (SE) Bupati kepada para petani untuk tunda jual sebanyak 10 persen dari hasil pertaniannya. Terutama, petani yang mendapatkan bantuan bibit, pupuk dan Alsintan. Dengan cara itu, petani tidak merasakan dampak inflasi jika terjadi kenaikan harga," jelasnya.
Sementara Kepada Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Pemkab Sidoarjo, Widiyantoro
Basuki menegaskan upaya pengendalian harga dan ketersedian bahan pokok juga akan dilakukan. Salah satunya, dengan melakukan operasi pasar dan pasar murah.
"Kami akan melaksanakan empat kegiatan pendistribusian bahan pokok murah sampai bulan Maret 2026 besok. Salah satunya, distribusi minyak goreng merk Minyak Kita di tiga pasar tradisional. Distribusi Minyak Kita akan lakukan di pasar-pasar tradisional yang tergolong besar. Seperti Pasar Larangan, Pasar Porong dan Pasar Krian," paparnya.
Mantan Kepala Satpol PP Pemkab Sidoarjo ini, juga menyampaikan beberapa bahan pangan pokok saat ini mengalami kenaikan dari Harga Eceran Tertinggi (HET). Diantaranya, beras premium dan medium, minyak goreng Minyak Kita serta cabe rawit merah.
Untuk harga rata-rata pasar di bulan Februari ini, HET beras premium Rp 14.900 menjadi Rp 15.326 per kilogram. Sedangkan HET beras medium Rp 13.500 menjadi Rp 13.785 per kilogram. Sedangkan pada minyak goreng Minyak Kita, HET dipatok Rp 15.700
perliter menjadi Rp 16.916 perliter. Untuk kemasan pouch dan Rp 17.172 kemasan botol. Cabe rawit merah sendiri mengalami kenaikan yang cukup besar. Dari HET Rp 40.000 sampai Rp 57.000 naik menjadi Rp 76.810.
"Khusus beras medium, kami sudah membuat edaran kepada kecamatan yang dilanjutkan kepada desa-desa agar beras medium tidak dijual lebih dari Rp. 13.500," tandasnya.
Namun secara keseluruhan, lanjut Widiyantoro yang akrab disapa Wiwid ini, harga rata-rata pasar untuk bahan pangan pokok di bulan Februari 2026 ini banyak mengalami penurunan dari HET. Seperti yang terjadi pada harga gula pasir dalam negeri, daging ayam broiler, telur ayam ras, daging sapi serta cabe merah besar keriting.
"Untuk Sembako yang lain harganya masih fluktuatif, harganya naik turun. Sedangkan, khusus untuk harga gula justru mengalami penurunan," pungkasnya. Ary/Waw
Editor : Redaksi