Sidoarjo (republikjatim.com) - Hingga memasuki hari keenam pencarian korban ambruknya bangunan Musala Putra Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny Buduran, Sidoarjo sekitar 40 meterial ambruknya bangunan berhasil dievakuasi petugas gabungan menggunakan alat berat dan dump truk. Kendati demikian, masih terdapat 9 jenazah korban yang ditemukan di bawah reruntuhan bangunan belum bisa teridentifikasi.
Hal itu, lantaran lamanya waktu proses evakuasi hingga menyebabkan perubahan pada tubuh korban. Selain itu, lantaran para korban rata-rata masih pelajar dan belum mengantongi Kartu Tanda Penduduk (KTP) sehingga belum pernah melaksanakan perekaman sidik jari. Rencananya untuk mengidentifikasi jenazah para korban bakal dilakukan dengan cara tes DNA.
Kepala BNBP Letjend TNI Suhariyanto didampingi Deputi III Penanganan Darurat BNPB Mayjend TNI Budi Irawan Laksamana Pertama Bramantyo mengatakan memasuki hari keenam telah ditemukan 6 jenazah korban. Jika ditotal dengan kemarin ada 9 jenazah dengan kondisi belum bisa diidentifikasi. Hal itu, karena masih dalam proses oleh tim DVI yang memerlukan waktu beberapa hari.
"Hal ini, karena untuk mengidentifikasi diperlukan beberapa metode. Ada beberapa kesulitan dalam mengidentifikasi para korban. Mereka (korban) yang sebagian besar masih anak-anak yang belum memiliki KTP. Karena itu, mereka masih belum punya rekam sidik jari. Akibatnya, proses identifikasi salah satunya dengan cara yang paling efektif yakni melalui tes DNA," ujar Kepala BNBP Letjend TNI Suhariyanto saat jumpa pers perkembangan pencarian dan evakuasi para korban.
Kesulitan lainnya, lanjut Suhariyanto yakni ketika alat berat masuk ke lokasi kondisi jenazah sudah 3 hari berada di bawah reruntuhan bangunan. Akibatnya, belum bisa diketahui tanda-tanda pengenalan secara visual. Bahkan, sudah di tubuh para korban sudah banyak yang berubah.
"Karena itu, identifikasi tidak bisa dilakukan secara cepat. Perhari ini yang masih identitasnya masih dicari berdasarkan data-data yang sudah ada. Hal yang sama kemungkinan juga dialami 49 jenazah korban lainnya yang belum berhasil dievakuasi di dalam reruntuhan bangunan," ungkapnya.
Suhariyanto menceritakan setelah proses evakuasi korban terakhir yang ditemukan, Jumat (03/10/2025) malam kemarin, pihaknya mulai fokus pada pembersihan material secara masif menggunakan alat berat. Bahkan pembersihan sudah masuk ke titik awal runtuhnya bangunan.
"Mudah-mudahan perhari ini jumlah korban bisa ditemukan lebih banyak lagi. Tim pencarian dan pertolongan gabungan ini sudah mengidentifikasi berhasil mengidentifikasi beberapa titik yang memungkinkan ada (lokasi keberadaan) korban," tegasnya.
Untuk itu, lanjut Suhariyanto kepada pihak keluarga, petugas sudah menjelaskan sejumlah langkah itu. Bahkan, pihak keluarga korban sudah menyetujui proses evakuasi itu. Namun terkadang masih ada saja yang mungkin masyarakat atau keluarga jauh yang merasa lebih tahi. Sehingga dianggap proses evakuasi terlalu lambat.
"Hal ini sudah kami antisipasi dan dijelaskan secara rinci proses evakuasi, identifikasi oleh DVI dan inafis yang butuh waktu lama. Kemudian alat berat yang masuk secara masif dengan cepat semua juga sudah dilakukan," paparnya.
Tidak hanya itu, Suhariyanto menguraikan jika dalam rapat koordinasi juga telah ditemukan solusi ketika jenazah ditemukan tidak dibawa langsung ke keluarga. Namun harus dibawa ke RS Bhayangkara Polda Jatim untuk diidentifikasi. Karena itu, keberadaan keluarga hanya menyaksikan proses pencarian saja.
"Sekarang sudah diputuskan mengumpulkan keluarga untuk menunggu di RS Bhayangkara dan disiapkan tempat yang lebih representatif dengan logistik yang memadahi. Di tengah-tengah bencana mereka akan lebih tenang dengan fasilitas lebih mewadahi menjalani aktivitas sehari-hari ketika menunggu proses identifikasi anggota keluarganya yang masih dalam proses identifikasi," ungkapnya.
Sementara dalam proses evakuasi ini, lanjut Suhariyanto secara umum semua bisa berjalan lancar meski dengan kekurangan dan kelemahan di lapangan. Namun, petugas bakal terus melakukan evaluasi dan kiat-kita pencariannya tingkatkan.
"Doa seluruh masyarakat agar cepat selesai proses evakuasi ini, mohon dukungannya jangan kami disibukkan dengan hal-hal diluar pencarian. Pertolongan yang menjadi prioritas dengan tindakan-tindakan yang kurang percaya atau dengan aparat mengambil langkah sendiri. Karena hal itu, akan mengganggu proses pencarian dan pertolongan yang dilakukan dengan semaksimal mungkin saat ini," paparnya.
Sedangkan hingga saat ini, jumlah total korban baru bisa diungkapkan detialnya ketika sudah selesai proses pencarian korban. Saat ini sementara ada total 167 korban. Untuk korban yang telah ditemukan ada 118 orang. Rinciannya, dengan jumlah 103 selamat tambah 2 orang korban selamat. Namun belum teridentifikasi keberadaannya.
"Untuk korban meninggal dunia ada 67 korban, 14 korban sudah ditemukan, 5 orang sudah terindentifikasi sisanya 9 jenazah ditemukan masih dalam proses identifikasi oleh tim DVI. Sekarang yang masih dalam proses pencarian ada 49 korban. Sementara untuk progress pengangkutan material sampai pada hari ini sudah 40 persen. Proses ini harus tetap dilakukan dengan ekstra hati-hati karena disitu ada jenazah para korban yang harus diambil (angkat)," pungkasnya. Ary/Waw
Editor : Redaksi