Sidoarjo (republikjatim.com) - Bupati Sidoarjo, Subandi bersama Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, Kapolda Jawa Timur serta Polresta Sidoarjo dan jajaran terkait lainnya terus mengawasi upaya evakuasi pasca ambruknya bangunan Musala Putra Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny Buduran, Sidoarjo. Proses evakuasi melibatkan personel gabungan dan alat berat itu, ditargetkan berlangsung efektif dalam waktu 1 x 24 jam.
Bupati Sidoarjo, Subandi mengatakan proses evakuasi menunjukkan kemajuan yang signifikan. Bahkan sudah membuahkan hasil.
"Alhamdulillah, proses evakuasi perlahan mulai membuahkan hasil. Beberapa korban berhasil dievakuasi tim gabungan di lapangan," ujar Subandi, Jumat (03/10/2025) malam.
Meskipun evakuasi masih berlanjut untuk segera menemukan korban lainnya, Subandi juga menyampaikan pesan duka mendalam bagi pihak keluarga yang terdampak bencana ambruknya bangunan musala itu.
"Kepada seluruh keluarga yang tertimpa musibah ini, kami berharap dan berdoa semoga diberikan ketabahan, kekuatan dan kesabaran dalam menghadapi cobaan berat ini," ungkapnya.
Pemkab Sidoarjo bersama aparat juga telah menyiapkan posko lengkap dengan data korban untuk mempercepat proses penanganan darurat. Saat ini, operasi berada dalam fase golden time dengan kecepatan dan kehati-hatian sangat menentukan penyelamatan.
"Prioritas kami misi kemanusiaan, yaitu menemukan dan mengevakuasi korban terlebih dahulu. Pendataan terus dilakukan agar tidak ada yang terlewatkan," paparnya.
Dukungan juga terus berdatangan dari berbagai pihak. Diantaranya yang terbaru ada empat organisasi. Mereka terdiri dari Paguyuban Masyarakat Tionghoa Surabaya (PMTS), Bakti Persatuan, Surabaya Peduli Bangsa (SPB) dan Perkumpulan Pengusaha Indonesia Tionghoa (Perpit) Jawa Timur yang turut menyalurkan bantuan senilai Rp 200 juta.
"Pemkab Sidoarjo menyampaikan terima kasih atas sinergi semua pihak baik aparat, relawan maupun masyarakat yang bergerak bersama dalam penanganan darurat ini. Pemerintah juga terus mendampingi keluarga korban serta memastikan proses evakuasi berjalan cepat, tepat dan selamat," ungkap Subandi.
Sementara Kapolda Jatim, Irjen Pol Nanang Avianto menegaskan fokus utama pencarian saat ini menemukan jenazah yang masih tertimbun reruntuhan bangunan musala. Berdasarkan datanya per Jumat (03/10/2025) pukul 23.00 WIB, sebanyak 58 orang yang berada di lokasi pondok pesantren, terdiri dari santri maupun pekerja bangunan dan tim telah mengevakuasi 13 orang meninggal dunia (MD). Sementara 50 orang masih dalam proses pencarian di bawah reruntuhan bangunan musala yang ambruk itu.
"Proses evakuasi kami lakukan dengan ekstra hati-hati. Saat pemindahan puing-puing dan bangunan, harus ekstra waspada agar tidak menimbulkan dampak pada bangunan gedung lainnya karena saling terkait. Penanganan ini juga melibatkan tenaga ahli, termasuk dari ITS agar setiap langkah terukur," tandas Kapolda Jatim di lokasi kejadian.
Ary/Waw
Editor : Redaksi