Sidoarjo (republikjatim.com) - Kinerja para pengurus baru KONI Kabupaten Sidoarjo bakal dievaluasi pimpinan dan anggota Komisi D DPRD Sidoarjo. Ini menyusul prestasi ribuan atlet yang diberangkatkan dalam ajang Porprov Jatim IX di Malang Raya menurun.
Jika dalam Porprov Jatim VIII Tahun 2023 kemarin, para atlet KONI Sidoarjo menduduki prestasi di juara 2 atau Runner up setelah Surabaya. Kali ini, turun dengan pretasi peringkat ketiga setelah Malang.
Karena itu, pimpinan dan anggota Komisi D DPRD Sidoarjo bakal memanggil para pengurus baru KONI Sidoarjo. Apalagi, saat turunnya prestasi ini Ketua KONI Sidoarjo, Imam Mukri Effendi justru hanya berdalih medali yang diraih para atlet merupakan murni hasil pembinaan.
Ketua Komisi D DPRD Sidoarjo, M Dhamroni Chudlori mengaku kecewa atas hasil perjuangan dan pertandingan tim para atlet KONI Sidoarjo dalam Porprov Jatim IX Tahun 2025. Bagi politisi senior PKB Sidoarjo ini, tim atlet Kota Delta gagal memenuhi target dalam ajang Porprov ke IX di Malang Raya itu karena sejumlah persoalan internal kepengurusan.
"Para atlet yang diterjunkan dalam Porprov Jatim kemarin sudah gagal total dalam memenuhi target utama. Salah satunya menjaga diri menjadi juara 2 (Runner UP). Tapi sekarang hasilnya turun menjadi juara ketiga," ujar M Dhamroni Chudlori di sela acara Forum Konsultasi Publik RPJMD di Bappeda Pemkab Sidoarjo, Senin (14/07/2025).
Dhamroni yang merupakan politisi PKB asal Dapil III Kecamatan Wonoayu, Tulangan, Krembung dan Kecamatan Prambon ini menilai kegagalan para atlet KONI Sidoarjo ini, salah satunya diduga disebabkan konflik internal kepengurusan KONI Kabupaten Sidoarjo. Dampaknya, sesi persiapan ribuan atlet yang diberangkatkan mengikuti pertandingan di setiap Cabang Olahraga (Cabor) terganggu karena persoalan internal yang belum selesai itu.
"Kami mengira persoalan pretasi menurun ini karena pengurus KONI Sidoarjo sendiri. Karena di dalamnya ada konflik internal itu. Karena itu, wajar kalau KONI Sidoarjo gagal meraih target prestasi yang sudah ditetapkan sebelum Porprov Jatim IX," tegas Dhamroni yang juga politisi senior Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kabupaten Sidoarjo ini.
Diketahui hingga penutupan Porprov Jatim IX Sabtu (05/07/2025) lalu, pretasi para atlet Sidoarjo menempati posisi ketiga. Total medali yang diraih yakni 87 emas, 87 perak dan 116 perunggu. Perolehan medali ini menghasilkan total 636 poin. Padahal, dalam Porprov Jatim kali ini, KONI Sidoarjo sudah mengirimkan sebanyak 1.322 atlet. Mereka bertanding di 67 Cabang Olahraga (Cabor) yang dipertandingkan.
"Selama ini, selain jumlah atlet yang diberangkatkan sangat besar, KONI Sidoarjo juga sudah diguyur anggaran yang fantastis. Dana yang digelontorkan mencapai Rp 16,5 miliar untuk Tahun Anggaran 2025 ini," ungkapnya.
Bagi Dhamroni dengan dukungan anggaran dan atlet sebesar itu, KONI Sidoarjo seharusnya bisa lebih berprestasi lagi tidak hanya menjadi juara ketiga. Dhamroni berkeyakinan saat ini, KONI Sidoarjo bakal dievaluasi kepengurusannya demi masa depan para atlet Sidoarjo ke depan.
"Kami (dewan) tidak mau hal-hal seperti ini terjadi lagi. Kasihan para atlet kita yang sudah bersusah payah berjuang, tapi pengurusnya hanya mengurusi kepentingan pribadi atau kelompoknya saja tanpa memindahkan rutinitas latihan para atletnya," ungkap Dhamroni yang juga menjabat sebagai Ketua Fraksi PKB DPRD Sidoarjo ini.
Atas hasil hearing yang digelar di DPRD Sidoarjo melibatkan para pengurus Cabor, Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Pemkab Sidoarjo justru menghasilkan bahan utamanya untuk dilaporkan ke Bupati Sidoarjo, Subandi, Kamis (10/07/2025). Bahkan, lanjut Dhamroni semua keluhan dari Pengurus Cabor bakal menjadi bahan laporan utama untuk disampaikan secara utuh kepada Bupati Sidoarjo.
"Keluhan para pengurus Cabor itu mala menjadi Pekerjaan Rumah (PR) kita semua untuk bisa mencetak alit yang baik, bagus dan mumpuni dengan menumbuhkan rasa memiliki Sidoarjo. Kalau saya boleh menyatakan, seharusnya pengurus KONI juga diisi pengurus Cabor yang mendapatkan mendali emas agar sesuai kemampuan masing-masing," pintanya.
Hal yang sama disampaikan Sekretaris Komisi D DPRD Sidoarjo, Zahlul Yussar. Menurut Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Sidoarjo ini, Ketua Umum KONI Sidoarjo kerap susah dihubungi saat dibutuhkan para pengurus dan Ketua Cabor selama pertandingan di Porprov Jatim IX di Malang Raya kemarin.
"Jangankan teman-teman Cabor membutuhkan keputusan seorang Ketua KONI. Saya saja sebagai anggota dewan saat menghubungi Ketua KONI tidak mendapatkan respon. Bagaimana kondisi selama pertandingan tentu lara pengurus dan Ketua Cabor tahu kondisi di lapangannya. Kami yakin sangat amburadul. Mulai pengadaan permakanan hingga lobi-lobi keputusan pemenangan di setiap Cabor," jelas politisi muda Partai Demokrat asal Kecamatan Tanggulangin ini.
Sedangkan selama hearing di DPRD Sidoarjo Pengurus Cabor Desak Pencopotan Ketua KONI. Bahkan, mayoritas Cabor yang berlaga di Porprov Jatim IX Tahun 2025 diibaratkan seperti anak ayam kehilangan induknya. Hal itu, tergambar jelas dari keluhan para Pengurus Cabor saat berdialog dan hearing dengan Komisi D DPRD Sidoarjo, Kamis (9/7/2025).
Hearing yang diikuti seluruh pimpinan Komisi D DPRD Sidoarjo itu,menjadi ajang curhat bagi para Ketua Cabor. Mereka mengaku prihatin baik sebelum bertanding hingga seusia Porprov Jatim IX digelar.
Keluhan itu seperti disampaikan Ketua Cabor Wushu, Nita Dariyanti. Dia terang-terangan menyebut Cabor seperti tidak punya orang tua selama Porprov Jatim di Malang Raya kemarin.
"Bagaimana tidak, saat kami rela menepis tawaran 2 kali bonus ratusan juta untuk satu emas dari daerah lain, kami lebih memilih bertahan untuk kemenangan Sidoarjo, ternyata yang didapat malah Zong alias sikap acuh dari Ketua KONI Sidoarjo. Untuk sekelas konsumsi (makan) saja, kita baru dapat dana di hari keempat pelaksanaan Porprov. Itu pun anggarannya turun tidak sesuai pengajuan," ungkap Nita terang-terangan.
Tidak hanya itu, menurut mantan atlit yang kini menjadi pengusaha catering ini, perhatian Ketua KONI akan dinamika lapangan di Porprov Jatim IX juga tidak ada. Bahkan cenderung tidak peduli.
"Ketika diperlukan upaya lobi-lobi untuk mempertahankan kemenangan saja, tidak ada sama sekali supportnya dari KONI. Kami di lapangan mala justru kebingungan," keluhnya.
Selain dari Cabor Wushu, keluhan serupa juga disampaikan Cabor Karate.
Ketua Cabor Karate, Awan secara tegas menyebutkan Ketua KONI sangat sulit dihubungi dan terbilang pelit untuk memberikan arahan bagi Cabor Karate.
"Karena itu, kami meminta kalau pilih Ketua KONI yang mumpuni sajalah. The right man on the right place. Jangan asal-asalan. Selama ini pengurus KONI juga terbilang kurang perhatian terhadap Cabor. Makanya, dalam hearing dan evaluasi ini juga banyak keluhan seputar sarana dan prasara yang kurang maksimal saat Training Center (TC)," paparnya.
Begitu juga Cabor Gulat menyampaikan keluhan yang sama. Hal itu disampaikan Ketua Cabor Gulat, Ika Dinda yang mengeluhkan minimnya fasilitas kesehatan ketika pelaksana TC.
Dia menyebutkan seperti satu bulan sebelum pelaksanaan Porprov Jatim IX kemarin, banyak atlit Gulat yang cedera otot dan bahkan tulang. Ternyata fasilitas massage (pijat) atau terapi tidak ada sama sekali.
"Kalau soal BPJS ketenagakerjaan hanya menghandle berobat waktu pertandingan. Karena fasilitas kesehatan dari KONI tidak ada sama sekali. Akibatnya, para atlit yang cidera berobat keluar dengan biaya sendiri," urai Ika yang juga meminta adanya fasilitas fitnes yang memadai untuk para atlit Gulat ini.
Sementara secara terpisah Ketua KONI Sidoarjo, Imam Mukri Affendi mengakui kinerjanya tidak mampu memenuhi target awal saat pemberangkatan ribuan atlet KONI Sidoarjo. Imam Mukri yang juga pensiunan Camat Wonoayu ini mengaku ada beberapa Cabor yang pencapaian medalinya tidak sesuai target awal.
"Benar yang disampaikan DPRD itu.
Saya sebagai Ketua Umum KONI, dengan dibantu bidang Binpres, hasil pemetaannya memang ada potensi mempertahankan posisi runner-up (kedua). Tetapi secara faktual, ada beberapa Cabor yang perolehan poin medalinya tidak sesuai target yang diharapkan saat awal pemberangkatan," katanya.
Selain itu, Imam Mukri berdalih adanya peningkatan tajam perolehan medali tuan rumah Kota Malang yang mencapai hingga 185 persen. Menurutnya, hal itu menarik untuk dijadikan bahan kajian evaluasi ke depan.
"Semua tetap patut dibanggakan. Karena prestasi atlet-atlet kita merupakan hasil murni dari pembinaan Pengkab dan Pelatih masing-masing Cabor. Itu yang harus tetap diapresiasi oleh semua pihak lepas dari target yang tidak dipenuhi," pungkasnya. Adv/Ary/Waw
Editor : Redaksi