Oleh Prapanca Biru Mahasurya PS

Lebih dari Sekadar Panggung Megah, Mahakarya Seni Al Amanah 2026 Jadi Simbol Perjuangan, Kolaborasi dan Syukur Santri

republikjatim.com
MAHAKARYA - Lapangan Al Mahsyar 2 Pesantren Modern Al Amanah Junwangi, Kecamatan Krian, Sidoarjo berubah menjadi lautan cahaya dan harmoni pada gelaran Mahakarya Seni Al Amanah (MSA) 22/17, Sabtu (16/05/2026) malam.

Sidoarjo (republikjatim.com) - Lapangan Al Mahsyar 2 Pesantren Modern Al Amanah Junwangi, Kecamatan Krian, Sidoarjo, berubah menjadi lautan cahaya dan harmoni pada gelaran Mahakarya Seni Al Amanah (MSA) 22/17 Tahun 2026, Sabtu (16/05/2026) malam. Acara tahunan yang diselenggarakan para santri ini, sukses memukau ratusan penonton yang hadir. Acara ini, memadukan kreativitas seni, pesan lingkungan hingga refleksi sejarah Islam yang mendalam.

​Kemeriahan malam itu, dibuka oleh penampilan enerjik dari On The Way Band dan dipandu dengan apik oleh MC Tree Fahri. Suasana semakin syahdu saat lantunan lagu dari Fahri Satu Suara menggema menandai dimulainya malam selebrasi kreativitas santri.

Baca juga: Rebut Piala Gubernur, Sidoarjo Jadi Tuan Rumah Pertama Jatim Open Woodball 2026

​Mengangkat tema yang sarat makna, MSA 2026 tidak hanya menyuguhkan gemerlap lampu panggung. Ketua Pelaksana, Raffi Raditya Maulana mengatakan esensi dari mahakarya ini adalah visualisasi dari proses panjang, doa dan air mata para santri.

​"Acara ini bukan sekadar tentang cahaya panggung dan kemeriahan. Tetapi juga soal mimpi, lelah dan doa para santri yang disatukan dalam satu momentum bernama Mahakarya Seni Al Amanah ini," ujar Raffi Raditya Maulana.

​Raffi juga menjabarkan tiga pilar isu yang diangkat dalam pagelaran seni tahun ini. Yakni budaya sidoarjo sebagai bentuk kecintaan daerah yang harus dijaga oleh generasi muda. Selain itu, juga soal isu sampah yakni wujud kepedulian lingkungan yang merupakan tanggung jawab bersama. Serta simbol teknologi yang bisa dimanfaatkan sebagai simbol karya yang bernilai tinggi.

"Semua ini menekankan pentingnya filosofi "membaca" bagi para santri seperti yang disampaikan pengasuh Pesantren Modern Al Amanah Junwangi. Yakni bukan hanya membaca buku saja. Akan tetapi, kami harus belajar membaca setiap masalah dan perbedaan, lalu mencari solusi untuk melangkah bersama. Membaca bukan hanya soal buku, tetapi juga membaca peluang, tantangan dan perjuangan hidup yang semakin penuh tantangan ini," ungkapnya.

​Ketua Dewan Kesenian Daerah (Dekesda) Kabupaten Sidoarjo, Ribut Wijoto, yang turut hadir memberikan apresiasi tinggi atas manajemen acara yang dinilainya sangat rapi, megah dan elegan. ​Dalam orasinya budayanya, Ribut mengupas tuntas keterkaitan Sidoarjo dengan sejarah besar Islam di Jawa melalui tajuk "Menyulam Warisan Islam". Ia mengingatkan kembali peran penting Adipati Terung sebagai seorang santri Sunan Ampel asal Sidoarjo yang dalam mendorong Raden Patah mendirikan Kerajaan Demak dan menaklukkan Majapahit.

​"Sidoarjo memiliki peran yang sangat sentral dalam perkembangan awal Islam di Nusantara lewat Babat Tanah Jawi. Setelah Demak menguasai Jawa, Kadipaten Terung di Sidoarjo inilah yang menguasai dan mengislamkan Jawa Timur. Di sinilah letak pentingnya santri hari ini mewarisi semangat itu," papar Ribut Wijoto dengan bangga.

Baca juga: BPS Sidoarjo Siap Pendataan Mandiri Door to Door, Wabup Mimik Idayana Dukung Sensus Ekonomi 2026 Jadi Arah Pembangunan

​Suasana haru dan khidmat menyelimuti lapangan saat Pengasuh Pesantren Al Amanah Junwangi, KH Nurcholis Misbah, menyampaikan pesan dan wejangannya. Sembari didampingi oleh Nyai Hajah Rifaatul Mahmudah, Kiai Nurcholis menyatakan rasa bangga yang luar biasa kepada para santrinya.
​Menurutnya, apa yang ditampilkan malam ini adalah visualisasi nyata dari teori keberhasilan.

​"Orang yang ingin sukses harus berani membuat ide dan gagasan yang besar. Setelah itu, berdiskusi, membuat langkah kecil dan menetapkan langkah untuk berkolaborasi. Menyatukan kerja keras siang dan malam berhari-hari. Malam ini, wujud nyata dari kolaborasi para santri," tutur Kiai Nurcholis.

Selain itu, Nurcholis berpesan agar santri tidak hanya dinilai dari fisik atau penampilannya saja. Melainkan dari prestasi, keinginan dan cita-citanya yang tinggi.

"Harapan, cita-cita dan kemauan itu, pasti beriringan dengan takbir yakni Allahu Akbar. Entah berapa kali takbir dikumandangkan dalam setiap salat. Semua cita-cita dan harapannya ditentukan pada kedekatanmu kepada Allah SWT," paparnya.

​Menutup pesan spiritualnya, Kiai Nurcholis mengingatkan esensi takbir yang diucapkan setiap salat lima waktu.

Baca juga: DLHK Sidoarjo Mulai Sosialisasi Rencana Penertiban Fasum di Pondok Mutiara yang Beralih Fungsi Tahunan

"Setiap kali kita membaca Allahu Akbar, kita diingatkan sekecil apa pun kita, kalau dihadapkan pada kebesaran Allah SWT, semua cita-cita besar bisa terwujud. Kesulitan tidak boleh membuat hati mengecil dan putus asa. Cita-cita boleh setinggi langit, tetapi keberhasilan hak Allah SWT. Ketika kita menyerahkan semuanya kepada Allah SWT, ujungnya pasti baik," jelas Kiai Kharismatik Jawa Timur ini.

​Sementara keberhasilan acara ini juga tidak lepas dari kekompakan jajaran pendidikan di lingkungan Al Amanah, mulai dari Ahmad Masyur (Kepala MA Bilingual), Anshori (Kepala SMP Bilingual), Yeni Kurnia (Kepala TK dan SD) serta para pimpinan Ponpes Junwangi 2 dan 4.

​Pagelaran akbar ini turut disukseskan oleh sejumlah mitra strategis. Diantaranya Pabrik Krupuk Prambon, Walet Speed Boat, Perumda Delta Tirta Sidoarjo, UD Sinar Abadi dan BPR Delta Artha Sidoarjo.

"​Dengan berakhirnya MSA 2026, Pesantren Modern Al Amanah Junwangi kembali membuktikan pesantren bukan hanya tempat menimba ilmu agama saja. Melainkan, sekaligus menjadi laboratorium peradaban yang melahirkan generasi muda yang kreatif, peduli lingkungan dan berakar kuat pada sejarah bangsa," pungkas KH Nurcholis Misbah. Ary/Waw

Editor : Redaksi

Peristiwa
Berita Terpopuler
Berita Terbaru