Sidoarjo (republikjatim.com) - Melubernya aliran air Sungai Buntung menjadi penyebab banjir di Kecamatan Waru dan Kecamatan Taman beberapa hari lalu. Hal itu, disebabkan tumbuhan enceng gondok menjadi biang masalah melubernya aliran air sungai di perbatasan Sidoarjo dan Surabaya itu.
Sekitar 5 kilometer aliran Sungai Buntung dipenuhi tumbuhan air itu. Melihat kondisi sungai itu, tim gabungan Pemrov Jatim dan Pemkab Sidoarjo terjun bersama membersihkan Sungai Buntung.
Petugas BPBD Provinsi Jatim dibantu BPBD Pemkab Sidoarjo serta Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Sumber Daya Air (PUBM dan SDA) Pemkab Sidoarjo dan Balai Besar Wilayah Sungai Brantas Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat melakukan normalisasi sungai Buntung. Satu unit excavator standar PC 200, satu unit excavator standar PC 75 serta satu unit perahu ponton dinas (PUBM dan SDA) Pemkab Sidoarjo dan empat unit dump truk Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Pemkab Sidoarjo dikerahkan.
Bupati Sidoarjo, Ahmad Muhdlor Ali mengatakan normalisasi Sungai Buntung menjadi solusi pencegahan banjir di Kecamatan Waru dan Kecamatan Taman agar tidak terulang kembali. Tumbuhan enceng gondok yang menutupi aliran Sungai Buntung harus dibersihkan. Harapannya, tidak ada lagi penyumbatan aliran air sungai yang menjadi penyebab melubernya air Sungai Buntung ke rumah-rumah warga.
"Pembersihan sungai ini sebagai bagian operasi tanggap darurat terhadap banjir yang terjadi di wilayah Waru dan Taman kemarin. Proses penanganan pencegahan banjir ini akan terus dilakukan dan akan selesai dalam jangka waktu satu bulan," ujar Bupati muda yang akrab disapa Gus Muhdlor ini kepada republikjatim.com, Jumat (16/02/2024).
Gus Muhdlor menjelaskan saat ini sudah sepanjang 1,4 kilometer aliran Sungai Buntung yang dibersihkan dari enceng gondok. Kumpulan eceng gondok setinggi setengah meter itu tidak lagi menahan laju aliran sungai. Excavator mengurai dan mengangkatnya ke tepian sungai. Nantinya, enceng gondok itu akan dihancurkan dengan propeller agar tidak hanyut kembali ke sungai.
"Dari total sepanjang 5 kilometer aliran air Sungai Buntung yang tertutupi eceng gondok, sekitar 1,4 kilometer sudah dibersihkan kemarin dengan menggunakan dua unit excavator," ungkap Bupati alumni Fisip Unair Surabaya ini.
Baca juga: Peringati Harjasda ke 167, Gelar Doa Bersama 1000 Anak Yatim Sekaligus Santunan
Gus Muhdlor menegaskan salah satu kendala dalam normalisasi Sungai Buntung adalah bantaran sungai itu kini sudah menjadi pemukiman dan padat penduduk. Daerah di sekitar sungai sudah banyak dibangun rumah-rumah warga. Hal ini menyebabkan alat berat kesulitan mencapainya. Meski begitu, akses ke bantaran Sungai Buntung masih dapat dilakukan dengan menyesuaikan ukuran alat berat.
"Sungai Buntung sekarang ini sudah menjadi pemukiman dan padat penduduk. Sehingga tidak banyak alat berat yang bisa mengakses bantaran sungai Buntung untuk menormalisasi sungai agar bersih dari sampah," tegas Bupati alumni SMAN 4 Sidoarjo ini.
Gus Muhdlor mengungkapkan ada sebanyak 50 orang terjun dalam operasi gabungan tanggap darurat banjir itu. Dua unit excavator amphibi dan satu unit ponton dikerahkan untuk membersihkan enceng gondok di Sungai Buntung.
"Kami pastikan pelaksanaan normalisasi sungai akan dilakukan secara bertahap. Personil kemarin cukup banyak sekitar 50 orang dan akan kita tambah. Ditambah peralatan lain dan normalisasi dilakukan secara bertahap. Karena ini baru sebagian kecil untuk dapat menembus berkilo-kilo enceng gondok yang menutupi Sungai Buntung," jelasnya.
Sementara Gus Muhdlor menilai sinergi lintas sektor penting dilakukan dalam menangani permasalahan seperti ini. Keterlibatan berbagai pihak dalam langkah mitigasi bencana sangat diperlukan. Seperti halnya pencegahan banjir di puncak musim penghujan kali ini.
"Enceng gondok yang menutupi aliran Sungai Buntung sudah terlalu banyak. Sehingga diperlukan operasi gabungan semacam ini. Kerjasama yang kuat dalam penanggulan bencana seperti ini memang harus dilakukan seluruh stakeholder," tandasnya. Hel/Waw
Editor : Redaksi