Sidoarjo (republikjatim.com) - Bakal Calon Bupati (Bacabup) Sidoarjo, Bambang Haryo Soekartono (BHS) berdialog dengan puluhan petani di Aula Mini Park Desa Watesari, Kecamatan Balongbendo, Sidoarjo, Sabtu (29/02/2020). Dalam dialog yang berlangsung gayeng itu, BHS mendapatkan sejumlah keluhan dari kalangan petani yang hadir di acara itu.
Sejumlah keluhan petani itu, diantaranya soal kesulitan air saat musim kemarau hingga menjelang musim hujan. Selain itu, juga mengeluhkan soal limbah pertanian dan serangan hama tikus. Terakhir soal menurunnya jumlah pasokan pupuk bersubdisi dari 300 kilogram per hektar menurun menjadi 150 kilogram per hektar. Khususnya untuk pupuk jenis Urea.
"Tentu berbagai keluhan itu, akan kami tampung untuk dicarikan jalan keluarnya. Karena di Desa Watesari ini termasuk desa pertanian. Sebanyak 80 persen warganya berprofesi sebagai petani dan lahan pertaniannya masih ada 90 hektar," terang Bambang Haryo Soekartono kepada republikjatim.com, Sabtu (29/02/2020) seusai dialog bersama puluhan petani desa setempat.
Bagi Bambang, tak seharusnya petani mengeluh kesulitan air. Hal ini lantaran kanal (sungai) skunder cukup banyak. Selain itu, pasokan air dari kanal primer juga tidak pernah mengering.
"Ini perlu pemberdayaan dalam menjaga stok air untuk lahan pertanian," imbuhnya.
Begitu juga soal keluhan masalah limbah pertanian. Bagi Bacabup yang akrab dipanggil BHS ini seharusnya limbah tidak mengalir ke lahan pertanian. Apalagi, saat air sungai surut atau di musim kemarau jumlah limbah yang masuk ke pertanian cukup besar. Belum lagi soal serangan hama tikus dan hama lainnya.
"Dalam mengatasi gagal panen, petani sudah mengasuransikan hasil pertaniannya ke PT Jasindo. Tapi, saat panen gagal 3 kali asuransinya tak bisa dicairkan. Ini akan menggganggu permodalan petani bercocok tanam dan mengolah lahan. Kami akan desak PT yang mengelolah Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) itu agar bisa mencairkannya. Agar bisa digunakan modal petani menanam lagi," tegasnya.
Sedangkan soal pengurangan jatah pupuk bersubsidi dari 300 kilogram per hektar menjadi 150 kilogram per hektar, Bambang bakal menelusuri permasalahannya. Alasannya, selama menjadi anggota Badan Anggaran (Banggar) DPR RI 2014 - 2019 lalu, anggaran untuk subsidi pupuk pertanian terus dinaikkan.
"Jangan sampai ada kendala dalam pupuk bersubsidi hingga melemahkan petani yang hendak bercocok tanam. Kalau petani tak mau bercocok tanam maka Sidoarjo bisa kesulitas menjadi wilayah swasembada pangan. Seharusnya pemerintah mengasuransikan hasil pertanian dan kesehatan petaninya sekaligus," paparnya.
Sementara soal Desa Pariwisata Watersari, Bambang berharap terus dikembangkan terutama soal menghasilkan blimbing madu. Hal itu bakal menjadi ikon desa sekaligus ikon Sidoarjo.
"Kami berharap sejumlah desa wisata ini dikembangkan menjadi desa wisata berkualitas dan berbeda-beda antar desa," tandasnya. Hel/Waw
Editor : Redaksi