Sidoarjo (repubikjatim.com) - Setelah bencana alam angin kencang yang mengakibatkan 10 rumah rusak juga berdampak pada Warung Kopi (Warkop) milik Mbah Sukarmi (50) warga Dusun Kemulan, Desa Lambangan, Kecamatan Wonoayu, Sidoarjo. Hingga kini, warkop milik janda dua anak itu hanya beratapkan terpal bantuan BPBD Pemkab Sidoarjo.
Hal ini, lantaran belum ada bantuan tindaklanjut dari sejumlah instansi terkait atas korban bencana alam angin kencang itu. Saat hujan, pemilik warung pun kebingungan. Apalagi perbaikan atap warungnya tidak bersifat permanen.
"Warung kopi ini berdiri sejak anak saya masih kecil dengan harga kopi masih Rp 100 hingga sekarang Rp 2.500 per gelas," kata Mbah Sukarmi kepada republikjatim.com, Minggu (12/01/2020).
Sukarmi menceritakan, musibah angin kencang itu sebenarnya sudah terjadi sebanyak 2 kali ini. Saat kejadian kedua kemarin itu, dirinya sedang tidur siang lantaran capek dan kondisi warung sedang sepi pembeli.
"Begitu terdengar suara gemuruh angin kencang, saya langsung kaget dan terbangun. Saya melihat angin sudah menerjang warung saja. Usaha buat bertahan hidup satu-satunya bagi keluarga kami," ungkapnya.
Sukemi mengaku saat amukan angin kencang itu, dirinya langsung berdiri di pojok belakang pintu warung sisi selatan. Sambil berdoa sebisanya dan melihat ke atap warung hampir semua asbes berhamburan dan beterbangan.
"Karena kencangnya amukan angin itu," tegasnya.
Sementara itu, lanjut Mbah Sukarmi setelah kejadian itu, dirinya menghubungi anaknya untuk disuruh pulang. Dengan dibantu tetangga dirinya membersihkan puing asbes yang berserahkan dan mengambil asbes di belakang rumah yang masih bisa diselamatkan.
"Sampai sekarang baru dipasang 2 asbes relawan. Untuk terpalnya diberi Pemdes. Asbes itu disediakan untuk mempernaiki dapur rumahnya," pungkasnya. Zak/Waw
Editor : Redaksi