Kambuh Usai Keracunan MBG, Alami Trauma Makanan 45 Santri di Sidoarjo Kembali Dilarikan Lagi ke RSUD dan RSI Siti Hajar

republikjatim.com
DIRAWAT - Sekitar 45 santri Ponpes Manbaul Hikam, Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, terpaksa kembali dilarikan ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD RT Notopuro dan RSI Siti Hajar untuk mendapatkan perawatan tim medis, Selasa (08/09/2026).

Sidoarjo (republikjatim.com) - Duka dan trauma akibat insiden keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) belum sepenuhnya usai bagi para santri Pondok Pesantren (Ponpes) Manbaul Hikam, Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo. Sebanyak 45 santri terpaksa kembali dilarikan ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) setelah gejala mual, muntah, diare dan lemas yang mereka alami mendadak kambuh.

​Puluhan santri itu, mendapatkan perawatan intensif di dua lokasi terpisah. Yakni di RSUD Notopuro Sidoarjo dan RSI Siti Hajar Sidoarjo.

Baca juga: Elektabilitas Partai Gerindra Naik 14,4 Persen di Sidoarjo, Rahmat Muhajirin : Bukti Program Presiden Diterima Warga

​Humas RSUD Notopuro Sidoarjo, Risky Maulana mengatakan sebanyak 33 santri tiba di IGD usai waktu Isya. Dari jumlah itu, mayoritas kondisi pasien telah membaik hingga diperbolehkan pulang. Namun dua santri masih harus menjalani rawat inap.

​"Keluhannya relatif sama yakni mual, muntah, diare dan lemas. Santri yang datang merupakan pasien yang sebelumnya sempat dirawat dan sudah boleh pulang. Tetapi sakitnya kambuh karena kondisi lambung yang masih sensitif," ujar Risky Maulana, Selasa (08/09/2026).

​Risky menambahkan daya tahan tubuh serta respons terhadap obat berbeda-beda pada setiap pasien. Pihak medis juga belum dapat memastikan apakah terdapat luka pada organ lambung para korban mengingat peristiwa awal sudah berlangsung sekitar satu minggu. Sementara, 12 santri lainnya ditangani secara intensif di RSI Siti Hajar Sidoarjo.

Baca juga: Perketat Standar Makanan Santri dan Siswa, Bupati Sidoarjo Bentuk Satgas Khusus Awasi Program MBG di Kota Delta

​Insiden berulang ini, menyisakan trauma mendalam bagi para korban. Aisyah Nurin Nudzila, salah satu santri kelas 9 yang menjadi korban mengaku sangat ketakutan setiap kali melihat menu makanan tertentu. Sebelum mengalami keluhan, ia sempat mengonsumsi soto ayam dan roti.

​"Muntah dan mual-mual. Sekarang takut kalau mau makan telur, teringat kejadian itu," tutur Aisyah.

Baca juga: Sentuhan Hangat Pemkab Sidoarjo, Wabup Mimik Salurkan Bantuan 300 Janda Perintis Kemerdekaan dan Warakawuri

​Rasa cemas melamunkan para orang tua santri. Sofa, ibu dari Aisyah secara tegas melarang anaknya untuk kembali mengonsumsi hidangan program MBG. Ia merasa lega dan bersyukur karena pihak pengelola Ponpes kini mengambil langkah tegas untuk menolak pembagian MBG demi keselamatan santri.

​"Pasti trauma. Kemarin adiknya waktu dapat juga tidak mau makan. Setelah keluar dari rumah sakit, rencananya Aisyah mau kami bawa pulang dahulu ke Jombang untuk pemulihan," pungkas Sofa. Ary/Waw

Editor : Redaksi

Peristiwa
Berita Terpopuler
Berita Terbaru