Surabaya (republikjatim.com) - Nama politisi senior Partai Gerindra, Rahmat Muhajirin (RM) mendadak menjadi perbincangan hangat. Suami Wakil Bupati Sidoarjo, Mimik Idayana ini diterpa isu miring melalui sebuah video viral yang diduga kuat merupakan hasil rekayasa teknologi Artificial Intelligence (AI).
Menanggapi hal itu, RM tidak tinggal diam. Ia secara tegas memberikan klarifikasi atas tudingan miring yang memicu aksi demonstrasi di depan Kantor DPD Partai Gerindra Jawa Timur, Senin (06/04/2026) kemarin.
RM mengungkapkan video berdurasi 1 menit 13 detik itu penuh dengan kejanggalan. Ia menengarai adanya upaya framing jahat dengan menggabungkan potongan kata-kata untuk menciptakan kesan sombong.
"Saya baru lihat videonya. Konten dan visualnya jelas rekayasa AI. Suara saya dibuat sedemikian rupa agar terdengar arogan," ujar mantan anggota DPR RI periode 2019-2024 ini.
Bukan hanya soal audio, RM juga menunjuk kesalahan fatal pada data dalam video itu. Terdapat foto dirinya saat menjabat anggota dewan. Namun diberi keterangan Tahun 1990.
"Tahun 1990 saya masih aktif sebagai anggota TNI, belum jadi anggota dewan. Ini saja sudah tidak masuk akal," tegas pria yang akrab disapa Abah RM ini.
Mengenai isi suara dalam video yang menyinggung lembaga hukum, RM menjelaskan secara konstitusi tidak ada yang salah dengan pernyataan Polri, Kejaksaan dan KPK secara struktural bertanggung jawab kepada Presiden. Namun, ia menyayangkan adanya suara kedua yang bermuatan Pilkada 2024 yang sengaja dipelintir untuk memicu kegaduhan.
"Beberapa poin itu yang membuat saya menjadi keberatan dan akan kami bawah ke rana hukum dalam proses selanjutnya," ungkapnya.
Menariknya, saat sekelompok massa yang menamakan diri Barisan Relawan Prabowo melakukan unjuk rasa di Kantor DPD Gerindra Jatim, RM sebenarnya berniat menemui para pendemo secara langsung. Ia ingin berdialog dan menanyakan bukti otentik dari pernyataan yang dipermasalahkan.
Sayangnya, koordinator aksi, Diana Rosiana Samar, justru menolak ajakan dialog itu.
"Setelah menyerahkan berkas tuntutan, massa langsung membubarkan diri.
Saya sangat apresiasi aspirasi mereka, makanya saya mau temui. Tapi anehnya, mereka malah pergi saat diajak bicara. Kalau sesama orang partai, mestinya lewat mekanisme organisasi, bukan asal demo tanpa dasar jelas," sesal Babe RM.
Sementara aksi demo itu, memunculkan
isu yang diduga bukan sekadar aspirasi murni. Pengamat politik, Urip Prayitno, menilai ada indikasi "operasi plastik" opini publik. Ia mengaitkan keterlibatan aktor-aktor tertentu di balik aksi ini yang memiliki rekam jejak dalam gerakan politik "kotak kosong" di masa lalu.
"Bahkan ada pula dugaan isu ini sengaja digulirkan sebagai pengalihan isu (distraksi) atas proses hukum yang sedang berjalan di tingkat nasional soal pejabat daerah lainnya di Sidoarjo," ungkapnya.
Menutup klarifikasinya, Rahmat Muhajirin memastikan akan membawa kasus ini ke jalur hukum. Ia berencana menggandeng tim ahli digital forensik dari berbagai perguruan tinggi untuk membedah keaslian video itu.
"Harga diri dan martabat saya telah dirugikan. Kalau ditemukan dalangnya, saya tidak segan-segan melaporkannya ke pihak berwajib. Masyarakat jangan mudah terprovokasi oleh konten hoaks," pungkasnya. Hel/Waw
Editor : Redaksi