Sidoarjo (republikjatim.com) - Gelombang penolakan terhadap peredaran Minuman Keras (Miras) dan Penyakit Masyarakat (Pekat) di Sidoarjo kian bergelora. Langkah berani Forum Peduli Sarirogo (ForPis) yang mendirikan posko perlawanan di kawasan Ruko Citra City, tepat di dekat outlet miras Pendekar Bottle kini memanen banjir simpati dan dukungan luas dari masyarakat hingga tokoh masyarakat Sidoarjo.
Sejak didirikan, posko yang dihiasi spanduk bertuliskan penolakan terhadap prostitusi, HIV, miras dan narkoba itu, tidak pernah sepi. Tidak hanya dukungan moral, warga dan berbagai elemen masyarakat datang bergantian membawa bantuan logistik, mulai dari air mineral, makanan ringan hingga sumbangan dana tunai.
"Alhamdulillah, antusiasme terus mengalir. Bukan cuma warga Sarirogo, tetapi masyarakat Sidoarjo secara umum, tokoh agama, Muslimat, Ansor hingga Banser ikut berbagi empati. Target kami jelas, membentengi daerah ini dari ajaran Mo-Li-Mo (Maling, Main, Madat, Madon dan Mendem)," ujar Koordinator ForPis, Chusen Al Ghozi, di lokasi posko, Minggu (26/07/2026).
Perjuangan warga Sarirogo ini, mendapat angin segar setelah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sidoarjo menyatakan dukungan penuh. Rais Syuriyah PCNU Sidoarjo, KH R Abdussalam Mudjib menginstruksikan serta mendukung total upaya penutupan outlet miras dan pemberantasan narkoba di wilayah Kota Delta.
Dukungan serupa digaungkan Pengurus Cabang Pergunu (Persatuan Guru NU) Sidoarjo, Ahmad Anwar S Pd, M Pd. Ahmad Anwar menekankan keberadaan miras dan narkoba merupakan ancaman serius bagi masa depan generasi muda.
"Miras dan narkoba itu penyakit masyarakat yang merusak diri, menghancurkan keluarga dan mengganggu ketertiban umum. Sudah menjadi kewajiban kita bersama untuk menegakkan amar ma'ruf nahi munkar dan melaksanakan pemberantasan peredaran miras di Kota Delta," ungkap Anwar.
Kondisi peredaran miras, narkoba hingga pergaulan bebas di Sidoarjo dinilai sudah memasuki tahap yang sangat mengkhawatirkan. Advokasi ForPis, H Samiadji Makin Rahmat yang akrab disapa Abah Makin menyebut situasi saat ini sudah dalam status "darurat".
"Sidoarjo ini sudah lampu merah untuk masalah miras, narkoba dan kenakalan remaja. Kita harus segera bikin 'filter' yang kuat. Saya optimistis penutupan outlet miras ini bisa terwujud kalau gerakan akar rumput terus berpadu dengan Ormas, MUI dan Pemda Sidoarjo," tegas Abah Makin.
Sementara sebagai bentuk tindak lanjut konkret, ForPis dijadwalkan menghadiri undangan hearing resmi dari Ketua DPRD Kabupaten Sidoarjo pada Senin (27/07/2026) besok.
"Kami mendesak langkah tegas dari pemerintah daerah dan aparat penegak hukum untuk memberantas peredaran miras dan narkotika di kota Delta," pungkas Abah Makin yang dikenal aktif di berbagai organisasi kemasyarakatan ini. Hel/Waw
Editor : Redaksi