Sidoarjo (republikjatim.com) - Sebuah gerakan kebudayaan berskala besar tengah ditiupkan dari bumi Sidoarjo. Dipelopori Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Sidoarjo di bawah kepemimpinan M Tri Kisnowo Hadi para penggiat sejarah lokal kini bersiap melakukan lompatan besar dengan mengandeng langsung Kementerian Kebudayaan RI dan Badan Pelestarian Kebudayaan (BPK). Mereka berencana membangunkan situs-situs sejarah di Sidoarjo yang selama ini "tertidur" di bawah tanah.
Gerakan ini bukan sekadar urusan gali-menggali tanah purbakala. Ini adalah ikhtiar kolektif untuk merajut kembali serpihan sejarah peradaban Kota Delta yang hilang. Mereka memulainya dari rencana ekskavasi Situs Sendang Agung yang ada di Kelurahan Urangagung, Kecamatan/Kabupaten Sidoarjo.
Baca juga: Rumah Literasi Digital Genjot Pelatihan Produksi Video Viral AI Tanpa Kamera Mahal
Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Sidoarjo, M Tri Kisnowo Hadi saat memimpin rembuk cagar budaya ini melahirkan kesepakatan progresif. Ekskavasi tidak akan berjalan secara parsial, melainkan menjadi satu kesatuan cetak biru (blueprint) penyelamatan sejarah Sidoarjo yang mencakup tiga titik krusial. Diantaranya Situs Sendang Agung (Urangagung) sebagai titik mula yang diyakini menyimpan struktur penting permukiman atau ritual masa lampau. Kemudian Situs Alas Trik yang masuk wilayah legendaris yang berkaitan erat dengan babat alas berdirinya Kerajaan Majapahit serta
Candi Kedung Kras di Tulangan sebagai jejak religi kuno yang masih menyimpan banyak teka-teki.
"Ini adalah momentum generasi hari ini untuk menjemput jati diri Sidoarjo. Kita tidak sedang bernostalgia dengan masa lalu, tetapi sedang meletakkan batu pijakan agar generasi masa depan tahu siapa leluhur mereka," ujar M Tri Kisnowo Hadi kepada republikjatim.com, Selasa (05/05/2026) malam dengan nada optimistis.
Langkah taktis yang digagas TACB Sidoarjo kali ini, lanjut Tri Kisnowo terbilang berani dan terukur. Pihaknya bakal membangun kerja sama dengan Badan Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI dan Kementerian Kebudayaan RI tidak lagi diposisikan sekadar jalur birokrasi pengajuan proposal administratif saja. Akan tetapi
para penggiat memproyeksikan kolaborasi ini sebagai kemitraan strategis (aspek transfer of knowledge) meliputi diantaranya adalah pendampingan ilmiah dengan memastikan proses ekskavasi menggunakan metodologi arkeologi modern yang ketat dan berbasis ilmiah (scientific archaeology).
"Termasuk sinkronisasi anggaran untuk mengawal akuntabilitas pembiayaan agar tidak terjadi tumpang tindih anggaran antara daerah dan pusat. Begitu pula soal akses dana abadi kebudayaan dapat membuka peluang pemanfaatan dana abadi dari Kementerian Kebudayaan RI melalui penyusunan dokumen studi kelayakan (feasibility study) yang matang," pinta Tri Kisnowo aktivis yang energik sejak masa muda ini.
Tri Kisnowo memaparkan dengan bersatunya kekuatan komunitas akar rumput, sokongan TACB serta keterlibatan lembaga tinggi negara seperti Kementerian Kebudayaan dan BPK, mimpi Sidoarjo untuk memiliki destinasi wisata sejarah berbasis edukasi kini berada di depan mata.
Baca juga: Ketua YJI Sidoarjo Ajak Galakkan Senam Jaga Jantung Sehat Bagi Kalangan Perempuan dan Lansia
"Mulai Situs Sendang Agung, Alas Trik, dan Kedung Kras bukan lagi sekadar nama-nama di dalam buku dongeng. Mereka adalah bukti konkret sejarah Sidoarjo tidak pernah hilang. Ia hanya sedang menunggu sentuhan tangan-tangan dingin generasi hari ini untuk digali, dijaga dan diwariskan kembali ke masa depan," papar Tri Kisnowo.
Komitmen kuat itu, juga disuarakan oleh komunitas lokal yang menjadi garda depan penyelamatan situs. Mulai David, Siswo, dan Joko dari Paguyuban Sendang Agung mengingatkan pentingnya keterbukaan sejak awal proses. Terutama terkait pemetaan anggarannya.
"Kami ingin memastikan koordinasi dengan BPK berjalan transparan. Semua anggaran harus diclearkan sejak awal agar tidak tumpang tindih. Kita harus cek betul keberadaan dan alokasi dana abadi kebudayaan itu, agar tepat sasaran," tegas Siswo.
Menjawab tantangan itu, Latif selaku staf Kabid Kebudayaan menjelaskan skema pelestarian warisan budaya takbenda sebenarnya telah berjalan mandiri dalam 3 hingga 4 tahun terakhir.
"Tapi, untuk ekskavasi fisik berskala besar, koordinasi teknis dan sinergi konsep yang matang mutlak diperlukan agar program kerja yang diajukan ke BPK dan Kementerian Kebudayaan memiliki fondasi kuat untuk lolos kurasi anggaran," ungkapnya.
Di sisi lain, Ketua Lesbumi PCNU Sidoarjo, Ahmad Fahmi menekankan pentingnya menjaga aspek kultural dan spiritual masyarakat sekitar situs. Hal ini, agar ekskavasi tidak mencerabut nilai sosial lokal.
"Sementara dukungan moral dari keluarga Wakil Bupati Sidoarjo kian mempertegas gerakan ini didukung penuh oleh berbagai pilar penting di tingkat daerah. Bahwa hari ini, semua sepakat menolak lupa asal usul Bumi Jenggala ini," tandasnya. Ary/Waw
Editor : Redaksi